Perlukah Etnografi dan Antropologi bagi Seorang Mubalig?

Perlukah Etnografi dan Antropologi bagi Seorang Mubalig?
“Ketika Penulis menyebutkan nama Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy, Isti nampak lebih kaget lagi. Dengan malu-malu, customer service Bank Mandiri Passo yang sebelumnya pernah ditugaskan di Cabang Pasar Mardika, Batu Merah, Ambon itu mengatakan, bahwa Aluddin Salatalohy itu merupakan ayahnya. Sedangkan Hamzah Salatalohy adalah kakeknya. Foto pertemuan antara Penulis dengan Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy pun diperlihatkan kepada dia"

Sahala Nainggolan, nama Perintis Istimewa Saksi-Saksi Yehuwa tersebut langsung kaget dan menyampaikan, bahwa orang itu adalah pamannya. “Kami memanggilnya dengan sebutan Bolsom,” kata dia. Sahala juga menyebutkan nama ketiga anak dari Bolsom itu, yaitu Ronald, Ramses dan Reinhard. Ketika dikonfirmasi ketiga nama putranya tersebut, Bolsom tampak kaget sekali. “Bapak tahu darimana ketiga nama anak saya tersebut?”

Peristiwa ketiga, ini terjadi pada 9 Juli 2022. Saat Penulis sekeluarga menumpang KM Labobar dari Manokwari ke Kota Sorong dalam rangka kunjungan dinas, ternyata di ruang yang sama bertemu dengan seorang guru PAUD asal Serui yang akan ke Kota Sorong untuk mengambil ijazah S-1. Namun, dinihari itu terjadi peristiwa yang mengejutkan, karena Jenny –nama perempuan muda itu—mendadak menangis histeris yang mengagetkan semua penumpang.

Usut punya usut, ternyata ibunya yang di Sorong baru saja meninggal. Setelah lama, tangisnya baru reda. Akhirnya beberapa orang pun mencoba menghiburnya. Termasuk Wakil Ketua LI Daerah Papua & Papua Barat yang adalah istri Penulis juga berusaha memberikan penghiburan. Setelah lumayan agak normal kembali dari histerisnya, barulah diketahui bahwa nama lengkapnya adalah Jenny Horota Tuasela.

Penulis pun menjadi kaget dan teringat sesuatu. Nama marga Horota dan Tuasela, tidak asing lagi. Artinya, Jenny merupakan keturunan dari orang asli Papua dan Ambon sekaligus alias pernikahan antar etnis. Horota adalah nama marga dari Papua, tepatnya di Serui, sedangkan Tuasela merupakan nama salah satu marga di Negeri Waai, Kec. Salahutu, Kab. Maluku Tengah. Penulis pun mengenal baik salah seorang yang berasal dari marga Tuasela, yaitu Ibu Von Tuasela.

Jenny nampak terkejut ketika disebutkan nama Ibu Von Tuasela. Dia langsung mengatakan, bahwa Ibu Von adalah neneknya. Penulis kemudian menyebutkan nama-nama lain dari keluarga Ibu Von Tuasela. Ternyata, Ibu dari Jenny merupakan anak kedua dari Ibu Von Tuasela. Sedangkan menantu dari Ibu Von, di antaranya adalah Simon Reawaruw, yang kini berdinas sebagai intelijen di Kodim Bogor, Jawa Barat.

KERUGIAN BILA TIDAK MEMAHAMI ETNOGRAFI DAN ANTROPOLOGI LOKAL

Ketiga peristiwa nyata tersebut, adalah sebagian kecil saja yang perlu diungkapkan. Meskipun ini peristiwa paling sederhana, tetapi telah membuka hubungan yang lebih akrab lagi. Terkait dengan rabtah dan pertabligan, biasanya hubungan kekerabatan yang telah diungkapkan, akan memberikan pengaruh yang cukup besar. Apalagi bila kita dianggap sebagai orang yang memahami Sejarah, Etnografi dan Antropologi setempat, maka kemungkinan kita akan dijadikan sebagai semacam konsultan.

Penulis beberapa kali diminta untuk menjadi narasumber seminar terkait hal ini. Bahkan beberapa di antaranya adalah seminar bertaraf internasional. Ini karena Penulis telah dianggap sebagai pakar untuk bidang kajian tertentu, seperti Sejarah Islam di Maluku dan Papua Barat, Filologi dan Kodikologi dan Etnografi serta Antropologi. Selain sebagai tanggung jawab keilmuan, juga dapat dimanfaatkan sebagai pintu masuk rabtah dan tablig kepada berbagai kalangan.

Bahkan, Penulis juga pernah diminta untuk menulis buku induk (babon) mengenai “Tradisi Pela Gandong di Maluku sebagai Perekat Perdamaian Dunia” yang rencananya akan diterbitkan sebanyak 2 ribu halaman. Begitu juga Penulis pernah diminta sebagai pemberi kata pengantar atas buku berjudul “13 Tradisi Suku di Pulau Buru yang Mirip dengan Tradisi Yahudi”. Ini karena mereka mengakui bahwa Penulis adalah orang yang memiliki wawasan yang tepat dan dapat diandalkan mengenai tema-tema terkait Etnografi tersebut.

Namun, apabila ada keuntungan, berkebalikannya, tentu saja akan ada kerugian bagi yang belum memahami Etnografi dan Antropologi ini. Bahkan, untuk kasus tertentu, ada juga yang menjadi kerugian besar. Disebut kerugian besar, karena dengan melakukan hal sepele –yang sebelumnya tidak dipahami bahwa itu merupakan pelanggaran adat setempat— maka kita terkena denda adat. Beberapa kali ini terjadi dan menimpa Mubalig Ahmadiyah di beberapa tempat.

Khususnya di Maluku dan Papua Barat, denda adat ini mudah sekali terjadi. Menabrak orang asli Papua, menabrak hewan piaraan (babi atau anjing), menebang pepohonan atau memasuki lokasi yang dianggap sakral, semua itu akan terkena denda adat. Dan, denda adat di Maluku atau Papua Barat, lumayan mahal. Ini tergantung dari, misalnya bila kita menabrak babi atau anjing, maka akan berlaku hitung puting (susu). Bila ada delapan, maka tinggal dikali Rp 2 jutaan atau lebih.

ANEKA TULISAN RINGAN TERKAIT ETNOGRAFI DAN ANTROPOLOGI DI MALUKU DAN PAPUA BARAT

Sejak ditugaskan di Maluku (2018-2020) dan kini di Papua Barat (2020-2022), Penulis mencoba selalu menulis catatan ringan sebagai upaya penulisan Etnografi dan Antropologi. Hal ini dimaksudkan supaya pengganti Penulis nantinya dapat memahami, apa saja yang perlu dipahami terkait Etnografi dan Antropologi di tempat itu dalam kaitannya dengan rabtah dan pertabligan.

Beberapa tulisan itu dapat dibaca dalam tautan berikut ini:

1. Warta Melek Maluku :

Warta Melek Maluku

2. Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru, Papua Barat :
https://potretmaluku.id/revolusi-kain-timor-di-ayamaru-papua-barat

3. Ajamaroe Gebied: Riwayatmu Dulu dan Kini :

Ajamaroe Gebied | Riwayatmu Dulu dan Kini

4. Jejak Tidore di Wedoni, Mungkinkah itu Lokasi Manbri Gurabesi? :

Jejak Tidore di Wedoni | Mungkinkah Itu Lokasi Manbri Gurabesi ?

5. Mengenal Asal Suku Asli Papua yang Baiat menjadi Anggota Jemaat Ahmadiyah :

Mengenal Asal Suku Asli Papua Yang Baiat Menjadi Anggota Jemaat Ahmadiyah

6. Melacak Jejak Peradaban Maluku yang Kosmopolit :
https://terasmaluku.com/headline/2020/08/31/melacak-jejak-peradaban-maluku-yang-kosmopolit

Disusun oleh:
Mln. Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Mubalig Daerah Papua Barat

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan