Perlukah Etnografi dan Antropologi bagi Seorang Mubalig?

Perlukah Etnografi dan Antropologi bagi Seorang Mubalig?
“Ketika Penulis menyebutkan nama Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy, Isti nampak lebih kaget lagi. Dengan malu-malu, customer service Bank Mandiri Passo yang sebelumnya pernah ditugaskan di Cabang Pasar Mardika, Batu Merah, Ambon itu mengatakan, bahwa Aluddin Salatalohy itu merupakan ayahnya. Sedangkan Hamzah Salatalohy adalah kakeknya. Foto pertemuan antara Penulis dengan Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy pun diperlihatkan kepada dia"

ETNOGRAFI DAN ANTROPOLOGI DI KALANGAN PEKABAR INJIL

Bila pekabar Injil yang Etnografer sudah dituliskan dua sosoknya seperti tersebut di atas. Maka, untuk data faktual, Penulis juga menuliskan seorang lagi missionaris atau pendeta yang Antropolog di Maluku. Meskipun sebelumnya banyak sekali pendeta atau pekabar Injil yang juga seorang Etnografer dan Antropolog, tetapi pendeta-Antropolog dari Gereja Protestan Maluku (GPM) alumnus Universitas Indonesia Jakarta (2021) tersebut terbilang unik.

Berlawanan dengan kebiasaan umum pada saat ini –terutama di kalangan pekabar Injil atau pendeta— Pdt. Dr. Rudy Rehabeat justru mengambil doktoralnya mengenai antropologi. Meskipun banyak pihak yang mempertanyakan keputusannya itu, tetapi Rudy tetap tak bergeming. Sekretaris Sinode GPM itu menulis, “(Hendaknya) ada kerjasama dan kolaborasi lintas ilmu. Para ilmuwan mesti saling kerjasama lintas ilmu, termasuk ilmu teologi.”

Suami dari Ruth Saiya itu memantapkan pertimbangannya, “Secara pribadi saya melihat ada dua agenda praksis terkait sumbangan ilmu antropologi bagi teologi (gereja). Pertama, mengembangkan kerja-kerja etnografi terkait pelayanan di Jemaat-jemaat. Hal ini sebenarnya telah dilakukan oleh para zendeling (penginjil) pada zaman Hindia-Belanda, mereka membuat catatan-catatan harian mengenai Jemaat-jemaat yang mereka layani. Kedua, mengembangkan teologi kontekstual. Melalu kajian-kajian antropologis dan sosiologis yang memadai, gereja dan teolog dapat mengembangkan teologi yang berakar pada budaya dan realitas sosial setempat.”

MUBALIG AHMADIYAH DAN ETNOGRAFI & ANTROPOLOGI

Ketika pada akhir 1922 Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. menunjuk Hadhrat Maulana Rahmat Ali, H.A., O.T. sebagai Mubalig untuk Sumatera dan Jawa,  Maulana Rahmat Ali pun mulai mempelajari wawasan Ketimuran khususnya Indologi. Bahkan, Maulana Rahmat Ali juga mengambil kursus singkat terkait Oriental Training (O.T.) alias Studi Ketimuran.

Dalam buku “Riwayat Hidup Maulana Rahmat Ali, H.A. O.T., Maulana Basyiruddin Ahmad, Sy. menulis, “Kemudian Maulana Rahmat Ali pun datang kepada para pelajar Indonesia yang ada di Qadian itu untuk belajar bahasa Indonesia. Untuk memenuhi permintaan itu, mereka memesan buku-buku dari tanah air, di antaranya adalah buku Empat Serangkai. Namun, baru saja Maulana Rahmat Ali belajar sebulan, beliau sudah dikirim ke Indonesia.”

Tentu saja, terlalu mudah membayangkan, bahwa hanya dengan waktu satu bulan mempelajari bahasa Indonesia, wawasan Etnografi atau Antropologi Mln. Rahmat Ali dapat diandalkan. Faktanya, kemungkinannya tidak seperti itu, melainkan beliau juga telah mempelajari mengenai studi ketimuran (oriental training) dalam kurun waktu yang cukup lama. Terbukti, dalam penulisan nama beliau selalu dicantumkan gelar O.T. yang maksudnya Oriental Training.

Gelar ini berasal dari lembaga yang menyelenggarakan semacam kursus singkat (short course) mengenai Indologi atau Etnografi yang umumnya sedang berkembang dan diminati pada paruh perempat pertama abad ke-20 tersebut. Sebab, untuk di Indonesia (Hindia-Belanda/East Indie) saat itu, para pegawai sipil (ambtenaar) juga diwajibkan memiliki kemampuan Etnografi dan Antropologi, terutama yang akan ditempatkan di Nederlandsch Nieuw Guinea (Papua).

Selain Mln. Rahmat Ali, dalam sejarah Jemaat, kita juga mendapati fakta, bahwa Hadhrat Khalifatul Masih IV r.h., yaitu Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, H.A., B.A., Syahid, juga pernah menempuh pendidikan selama dua setengah tahun di University of London, Inggris. Pada tahun 1950-an itu, Mia Tahir melanjutkan pendidikan di School of Oriental and African Studies (SOAS). Ini memang sesuai dengan pesan Hadhrat Khalifatul Masih II r.a., bahwa beberapa khandan, harus menimba ilmu Kebaratan (Occidentalisme) dan Ketimuran (Orientalisme) supaya dapat menangkis budaya dan tradisi Barat dan Timur yang tidak selaras dengan Islam.

RABTAH DAN TABLIG DI KAWASAN TIMUR INDONESIA (KATIMIN): PERLUNYA ETNOGRAFI DAN ANTROPOLOGI

Ketika ditugaskan di Jawa, Penulis belum merasakan perlunya menguasai wawasan Etnografi dan Antropologi. Baik itu saat ditugaskan di Salatiga (Jawa Tengah, 2003-2005), Bogor (Jawa Barat, 2005-2017) dan Kebayoran (DKI Jakarta, 2017-2018). Namun, setelah ditugaskan sebagai Mubalig Daerah Maluku di Ambon dan sering melakukan kunjungan ke berbagai pelosok pedalaman, keperluan akan Etnografi dan Antropologi baru dirasakan.

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan