“Kunjungan Akademik ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman Akademik, Tablig dan Rabtah bagi para mahasiswa Darjah Tsalisah Jamiah Ahmadiyah Internasional Indonesia. Selain mengenal Biblika, Denominasi Kristen juga Liturgi dan Kiprah Sosial aneka gereja di Kota Bogor.”
Masroor Library – Bogor [17/10/2025]. Dua buah kendaraan roda empat itu memasuki kawasan Percetakan Alkitab milik Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Nanggewer, Cibinong, Kab. Bogor pada Kamis (17/10) pagi sekira pkl. 08:15 WIB. Sebanyak 14 mahasiswa Darjah Tsalisah berada di dalamnya. Sementara, Dosen Ilmu Perbandingan Agama telah tiba beberapa puluh menit sebelumnya menggunakan kendaraan roda dua.
Usai foto bersama di depan pintu masuk gedung Percetakan Alkitab, para mahasiswa memasuki ruang lobby. Di dalam ruang ini terdapat plakat logam berisi aneka terjemah Alkitab dalam berbagai bahasa. Di sebelah kiri pintu masuk, dipajang mesin cetak canggih pada masanya, Intertype, 1965-1985. Pada bagian sebelah kanan, tampak beberapa etalase yang menyimpan aneka Alkitab dan buku-buku terbitan dan hasil cetak Percetakan Alkitab ini.
“Mohon menunggu sebentar, karena kami masih ada ibadah,” sebuah pesan instan muncul di layar gawai Dosen Ilmu Perbandingan Agama. Pengirimnya tidak lain adalah Ibu Poppy, salah seorang pemandu Paket Wisata Alkitab (PWA) yang biasa dan setia mendampingi kunjungan mahasiswa sejak 15 tahun sebelumnya. Selain Ibu Poppy, tampak Ibu Dorkas dan juga Mas Bagas. Direktur Percetakan Alkitab Pak Anthonius Siahaan juga sempat jumpa sebentar.
Kunjungan Akademik ke Percetakan Alkitab dimulai dari Bagian Pra-Cetak yang meliputi Type Setting dan Mounting (Plate). Type Setting dilakukan di Ruang No. 12, sedangkan Mounting di Ruang No. 13. Kini, Percetakan Alkitab menggunakan teknologi canggih yang ada pada masa ini untuk mempermudah proses pengerjaannya. Misalnya, aplikasi Paratext dan mesin Mounting menggunakan laser dan medium logam untuk plate cetak.
“Medium plate logam ini dapat memuat antara 32, 52 dan 64 halaman dan bisa tahan hingga 50 ribu kali proses percetakan. Untuk waktunya juga lebih cepat serta lebih bersih dibanding mesin manual yang dipergunakan sebelumnya,” ujar Pak Agus yang menjadi petugas Mounting. Ini juga berimbas pada jumlah pekerja, yang awalnya memerlukan lebih dari 5 orang, kini cukup hanya dengan 2 orang saja untuk dua shift pagi dan sore.
Kunjungan berikutnya kemudian melihat-lihat proses percetakan yang sedang berlangsung. Percetakan Alkitab sejak tahun 1994 menggunakan mesin cetak canggih dari Jerman seharga empat milyar. Ada dua buah mesin cetak besar untuk teks, dan sebuah mesin cetak untuk membuat gambar atau ilustrasi. Tampak gulungan kertas biblepaper seharga Rp 15 jutaan yang akan dipakai untuk mencetak.
Rombongan mahasiswa dibagi dua kelompok untuk memudahkan penyampaian informasi. Dipandu masing-masing oleh Ibu Poppy dan Ibu Dorkas, mereka bergerak dari satu proses ke proses berikutnya yang seba otomatis. Hanya pada bagian indeks, dikerjakan masih manual. “Disini, hampir 60% karyawan adalah Muslim. Sebelumnya hampir 85% adalah Muslim. Mereka adalah warga sekitar sini yang diberdayakan,” ungkap salah satu karyawan bagian pengeleman.
Selama hampir dua jam itu, mahasiswa melihat-lihat proses pencetakan Alkitab mulai dari tata letak naskah, mounting hingga proses cetak dan penjilidan yang menghasilkan akhir cetak berupa buku Alkitab. Keseluruhan prosesnya mencapai 12 proses dan 90% dikerjakan oleh mesin canggih. Acara kunjungan kemudian ditutup dengan doorprize dari pihak pemandu dengan aneka hadiah menarik. Dari pihak Jamiah kemudian menyerahkan sertifikat penghargaan kepada pihak tuan rumah.[]
Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Dosen Ilmu Perbandingan Agama, Bahasa Ibrani & Farsi
Jamiah Ahmadiyah Internasional Indonesia
Bogor, Jawa Barat
Related Posts

Kunjungan Akademik Darjah Tsalisah | Praktikum Tingkatkan Pemahaman Akademik, Tablig dan Rabtah

Kunjungan Akademik Darjah Tsalisah | Praktikum Tingkatkan Pemahaman Akademik, Tablig dan Rabtah

Demokrasi dalam Tinjauan Teoritis Tiap Forum Kajian

Lomba Tumpeng Dilaksanakan oleh Hostel, Membiasakan Menjadi Chef Setara Hotel

Kunjungan Akademik Mahasiswa Ahmadiyah ke Komunitas Mormon



No Responses