“PT3L di Daerah Sumatera Selatan, terutama di Pematang Jaya, Palembang dan Lahat akan sangat bermakna. Selain situasi etnografi dan sosiologi Jemaat yang khas, juga banyak hal lain yang bisa dipelajari. Ketahanan ekonomi anggota, salah satunya.”
SETELAH satu minggu berada di Pematang Jaya, Sdr. Fajar Ramadhan –peserta PT3L untuk Daerah Sumatera Selatan– pun kemudian ditarik kembali ke Palembang. Selama dua hari di pusat daerah, peserta kemudian dipindahkan kembali ke lokasi baru di Jemaat Lahat, Selasa (23/12) pagi pkl. 09:00 WIB. Perjalanan sekitar tujuh jam itu menempuh jarak sejauh 261 kilometer.
Ikut mengantar adalah Mubalig Daerah Sumatera Selatan Mln. Zulfiqar Fadhly, Shd., Qaid Daerah MKAI Sumatera Selatan Bpk. Muhammad Nur Basyir, Bpk. Ihsan Subarkah, Naib Principal Bidang Akademik Jamiah Ahmadiyah Indonesia dan dua orang lajnah Palembang. Mereka menggunakan sebuah kendaraan roda empat berplat Palembang (BG).
Sekitar Ashar, rombongan telah tiba di rumah missi Jemaat Lahat, di Jalan Laksamana (L) R.E. Martadinata, Bandar Agung, Lahat. Bakda Maghrib jamak Isya, acara ramah tamah dan serah-terima peserta PT3L pun diselenggarakan di Masjid “Taher” yang berada di seberang jalan depan rumah missi. Selain untuk urusan PT3L, memang tujuan kunjungan ini juga ada agenda lainnya. Misalnya, sebagai kunjungan berkala Mubalig Daerah dan survei persiapan KPA Daerah Sumatera Selatan.
Sejak digabung (merger), Jemaat Lahat juga mencakup yang sebelumnya dikenal sebagai Jemaat Jati –sekitar 15 menit– dari Lahat. Karena Ketua Jemaat Lahat masih dalam perjalanan dari Palembang ke Lahat dan baru lewat Muara Enim, acara dipimpin oleh yang mewakili. Mubalig Daerah Sumatera Selatan bertindak sebagai Sadr-e-Majlis, sedangkan sambutan disampaikan oleh perwakilan pengurus/anggota, Naib Principal Akademik dan juga peserta PT3L. Acara selesai sekitar pkl. 20:30 WIB.
Acara santai kemudian dilanjutkan di teras rumah missi Jemaat Lahat. Rumah missi berbentuk panggung –biasanya disebut “baghi”– terbuat dari papan kayu dan terbilang sudah lama sehingga sering disebut sebagai cagar budaya. Masih terdapat lahan luas di depan, samping kanan, kiri dan belakangnya. Oleh sebab itu, lokasi ini cocok untuk kegiatan Jemaat semisal KPA atau Ijtima Daerah.
Usai salat Subuh, rombongan kemudian bersilaturahmi ke rumah anggota awalin di sekitar masjid. Di antaranya ke rumah Bpk. Agus dan Bpk. Mukhlis. Nama yang terakhir adalah orang tua dari Mln. Muhammad Taufik dan juga mertua dari Mln. Syed Taha Anwar, Shd., Direktur MTA International Programa Indonesia dan dosen bahasa Urdu Jamiah Ahmadiyah Internasional Indonesia.
Setelah doa bersama, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jati, untuk silaturahmi ke anggota disana. Jarak dari Lahat sekitar enam kilometer atau 15 menit berkendara. Tiga rumah pun disambangi, di antaranya rumah Pak Hafis dan Pak Ramli. Pak Hafis adalah orang tua dari Wakapolres Lahat Kompol Liswan Nurhapis, S.H., M.H. dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Lahat Dr. Hasperi Susanto, S.Pd., M.M. Sedangkan Pak Ramli adalah ayah dari Mln. Khaeruddin Ahmad Jusmansyah.
Oleh Pak Hapis, rombongan diajak ke perkebunan kopi dan duren miliknya di Pulau Pinang. Lahan seluas hektaran tersebut tersebar di beberapa titik. Sebuah kandang ayam dan kolam ikan juga terdapat di dalamnya. Pengecoran jalan masih berlangsung di tengah hutan karet tersebut. Setelah doa bersama disana, rombongan pun kembali ke rumah Pak Hapis di Dusun III lalu salat Dhuhur di Masjid “Mubarak” Ahmadiyah Jati.
Agenda berikutnya adalah mengunjungi mantan Ketua Jemaat Jati, Bpk. Ramli di sebelah kantor Kepala Desa Jati. Ayah dari Mln. Jusmansyah tersebut menyambut dengan senang hati. Telah disiapkan aantap siang dengan menu utama pindang nila dan semur jengkol serta lalapan dan sambal. Pindang bagi masyarakat Sumatera Selatan telah menjadi menu harian. Tentu saja, pindang disini berbeda dengan pindang di Jawa.
Setelah doa bersama, rombongan kemudian kembali menyusuri jalanan utama lintas Sumatra (Jalinsum) Pagar Alam – Lahat untuk kembali ke Palembang setelah menurunkan Sdr. Fajar Ramadhan di depan rumah missi Lahat. Perjalanan ke Palembang –karena padat kendaraan dan mampir makan malam– ditempuh selama sembilan jam. Malam itu, Naib Principal Akadsemik beristirahat di rumah missi Jemaat Palembang sebelum bertolak ke Lampung, Kamis (25/12) pagi –usai agenda di Jembatan Ampera– dengan tujuan pertama ke Jemaat Rawapitu. []
Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Naib Principal Bidang Akademik
Related Posts

Kunjungi Daerah Lampung | Terjebak Hujan Lebat, Jalanan Rusak dan Harmonisasi Beragama

Program PT3L 2025 | Merasakan dan Membiasakan Menjadi Mubalig dalam Satu Bulan

Nuklir dan Potensinya | Menyelami Dunia Partikel dan Tantangannya

10 Syarat Munazirat Mazhabiyyah dan Korelasinya dengan Kualitas Mahasiswa Jamiah

100 Tahun JAI | Khidmat untuk Islam, Nusa dan Bangsa



No Responses