Kunjungi Daerah Lampung | Terjebak Hujan Lebat, Jalanan Rusak dan Harmonisasi Beragama

Kunjungi Daerah Lampung | Terjebak Hujan Lebat, Jalanan Rusak dan Harmonisasi Beragama

“Tantangan alam di Rawapitu dan harmonisasi keberagamaan di Sidomulyo menjadi daya tarik tersendiri untuk dipelajari khususnya oleh peserta PT3L 2025.”

Sepatu kulit merk “Barcelois” yang dipakai oleh Naib Principal Akademik Jamiah Ahmadiyah Internasional Indonesia itu melesak masuk ke dalam lumpur sedalam 20 centimeter. Lumpur coklat –yang oleh penduduk Rawapitu disebut “bubur”– itu terbentuk karena hujan yang mengguyur kawasan itu, Kamis (25/12) sore.

Naib Principal Akademik didampingi Mubalig Lokal Jemaat Menggala dan Rawapitu Mln. Muhammad Nurdin menempuh perjalanan darat dengan sepeda motor dari Unit 2 hingga Rawapitu –sejauh hampir 50 kilometer– di bawah guyuran hujan deras. Meskipun telah mengenakan jas hujan, tetap saja pakaian dan tas yang dibawa menjadi basah atau lembab.

Jalanan antara Gunung Tiga di Penawartama hingga Rawapitu terbilang cukup jelek apalagi pasca diguyur hujan lebat. Untungnya, motor yang dipakai adalah motor rantai milik Mubalig Jemaat Lokal Menggala dan Rawapitu. Meski sempat mogok, namun perjalanan relatif lancar. Usai menyeberangi Sungai (Sei) Pidada dengan rakit ponton, mulai masuk jalan tanah berlumpur yang menguras tenaga dan keahlian.

Sei Pidada adalah sungai selebar sekitar 100 meter dengan kedalaman 20 meter yang berbuaya dan menjadi satu-satunya pintu masuk ke Rawapitu dari arah perkebunan sawit Gunung Tiga. Karena terletak di rawa-rawa Tulangbawang, maka lokasi yang ada disini disebut sebagai Rawapitu. Kata “pitu” sendiri bukan artinya tujuh (Jawa) melainkan berasal dari majemuk Pidada dan Tulangbawang.

Malamnya, diselenggarakan acara ramah-tamah antara Naib Principal Akademik dengan peserta PT3L dan pengurus Jemaat Rawapitu. Menurut info peserta, mereka betah berada di Rawapitu. Sdr. Imran Ahmad al-Hafiz dan Sdr. Mahmud Munawar Ahmad tampak senang berada di lokasi terpencil ini. “Inilah lokasi PT3L yang sesungguhnya,” kata Imran.

Usai sarapan pagi dan doa bersama di rumah Ketua Rawapitu, Naib Principal Akademik pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung. Ketua Rawapitu mengantar hingga ke Gunung Tiga dengan sepeda motor yang disebut “grandong”. Perlu perjuangan berat menerabas lumpur dan jalanan licin sejauh 10 kilometer di dalam perkebunan sawirlt tersebut.

Naib Principal Akademik membersihkan sepatu kulit yang tertutup lumpur di tempat pencucian motor di Gunung Tiga, sementara Ketua Rawapitu memantau kendaraan travel yang melintas dari arah Rawajitu (toponimi ini berasal dari Rawa dan Jitu, Jitu sendiri berasal dari akronim: Mesuji dan Tulangbawang).

Dengan kendaraan travel yang disopiri oleh pemuda asal Baturaja (Palembang) beristrikan orang Mesuji, perjalanan selama lima jam pun ditempuh. Jalan lintas timur Sumatra pun dilalui hingga tembus ke Bandar Lampung dan Teluk Betung. Tujuannya berjumpa Mubalig Daerah Lampung di rumah missi dan Masjid Minanurrahman, Jalan Pattimura, Gg. Guntur, Kupang Kota Teluk Betung Utara, Lampung.

Rombongan Naib Principal Akademik didampingi Mubalig Daerah Lampung Mln. Rahmat Rahmadijaya beserta istri dan anak-anak serta Ketua Jemaat Sidomulyo dan salah satu peserta PT3L pun kemudian meluncur ke arah Jemaat Sidomulyo di Lampung Selatan. Lokasi rumah missi dan masjid Jemaat Sidomulyo berada di dalam komplek Perkampungan Hindu Bali.

Menurut info yang didapat, pada 2013-2014 terjadi kerusuhan etnik antara pendatang (Hindu) dan pribumi. Inilah yang dikenal sebagai “Bali Nuraga”. Banyak wanita Hindu yang berlindung di dalam Masjid “Mubarak” Sidomulyo dengan mengenakan mukena. Kondisi harmonis antara Jemaat dengan warga Hindu cukup terlihat disini.

Malamnya, Naib Principal Akademik bertolak meninggalkan Lampung untuk kembali ke Bogor setelah lima hari melakukan monitoring di Daerah Palembang dan Lampung. Dengan bus Sinar Jaya yang naik di Agen Bus Kalianda, Naib Principal Akademik pun meninggalkan Lampung dan meninggalkan Pelabuhan Bakauheni dengan KMP Segundi Mandi Panjang menuju Pelabuhan Merak di Cilegon. Setelah melewati ombak yang cukup tinggi, akhirnya Ferry pun sandar pkl. 01:30 WIB.

Bus Sinar Jaya pun melanjutkan perjalanan ke Terminal Baranangsiang, Kota Bogor via tol Cilegon tembus ke Lebakbulus, Kampung Rambutan, Citeureup, Cibinong dan terakhir tiba di Terminal Baranangsiang pkl. 04:30 WIB. Dengan menggunakan jasa ojek daring, Naib Principal Akademik pun kembali ke Kampus Mubarak, Kemang, Bogor. []

Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Naib Principal Bidang Akademik

No Responses

Tinggalkan Balasan