Perlukah Etnografi dan Antropologi bagi Seorang Mubalig?

Perlukah Etnografi dan Antropologi bagi Seorang Mubalig?
“Ketika Penulis menyebutkan nama Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy, Isti nampak lebih kaget lagi. Dengan malu-malu, customer service Bank Mandiri Passo yang sebelumnya pernah ditugaskan di Cabang Pasar Mardika, Batu Merah, Ambon itu mengatakan, bahwa Aluddin Salatalohy itu merupakan ayahnya. Sedangkan Hamzah Salatalohy adalah kakeknya. Foto pertemuan antara Penulis dengan Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy pun diperlihatkan kepada dia"

Begitu mendapati bahwa di kalangan internal Jemaat ada anggota yang memiliki nama-nama marga, maka keinginan untuk memperdalam dan mengembangkan Etnografi dan Antropologi pun semakin meningkat. Sebut saja, marga Lausepa, marga Rolobesy, marga Tatuhey dan lainnya. Bahkan saat dipindahtugaskan ke Daerah Papua Barat, ternyata lebih banyak nama marga/suku lagi yang dikenal.

Ketika ditugaskan di Maluku, untuk kepentingan pemetaan (mapping), Penulis sering melakukan kunjungan ke lokasi pedalaman atau negeri-negeri adat. Sebut saja ke Negeri Kaitetu, Hitu, Wakal, Mamala, Morela di Kecamatan Hitu. Lalu, ke Negeri Tulehu, Negeri Tenga-tenga, Negeri Ti’al di Kecamatan Salahutu. Kedua Kecamatan itu berada di Kabupaten Maluku Tengah, meskipun secara geografis berada di Pulau Ambon.

Penulis juga sering mengunjungi Pulau Buru, baik di Kabupaten Buru maupun Kabupaten Buru Selatan. Kampung Silewa, Kampung Widit, Kampung Waesama dan sekitarnya hingga Kampung Walafau yang berada di pelosok Buru Selatan. Desa Sole di Pulau Kelang, Kecamatan Waesala Belakang, Kab. Seram Bagian Barat juga telah dikunjungi.

Begitu juga yang ada di Pulau Seram, di Kab. Maluku Tengah dan Kab. Seram Bagian Timur. Di antaranya di Negeri Tamilouw, Negeri Haya, Negeri Tehoru, Kampung Balakeu, Kampung Nayaba. Untuk yang di Pulau Saparua, Penulis juga sudah mengunjungi beberapa Negeri. Di antaranya Negeri Haria, Negeri Porto, Negeri Siri-Sori Serani, Negeri Siri-Sori Islam.

Untuk di Kabupaten Seram Timur, beberapa Negeri di perbatasan Sungai Bobot juga telah dikunjungi: Negeri Bemo, Negeri Bemo Perak, Negeri Werinama dan Negeri Hatuasa. Kesemuanya memberikan kesan tersendiri dan selalu terkait dengan Etnografi.

Penulis juga beberapa kali mengunjungi Kabupaten Kepulauan Aru, tepatnya di Dobo. Praktis, dari 11 Kabupaten-Kota di Maluku, hanya tinggal dua Kabupaten yang belum dikunjungi. Kedua Kabupaten itu adalah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB). Pasalnya, sarana transportasi ke dua kabupaten tersebut terbilang cukup sulit dan tidak setiap saat ada. Terkadang harus menunggu dua minggu untuk jadwal kapal atau pesawat perintis yang menuju kesana.

Sedangkan untuk di Daerah Papua Barat, Penulis juga sudah mengunjungi beberapa Kampung. Kampung-kampung itu berada di Kabupaten Manokwari, Kabupaten Manokwari Selatan, Kabupaten Maybrat, Kota Sorong, Kabupaten Sorong dan Kabupaten Teluk Bintuni. Sedangkan untuk di Kabupaten Fak Fak, baru sekali dikunjungi. Ada empat Kabupaten lagi yang juga belum dikunjungi: Kab. Teluk Wondama, Kab. Pegunungan Arfak (Pegaf), Kab. Tambrauw dan Kab. Raja Ampat.

Dari semua tempat dan lokasi yang dikunjungi tersebut, peranan wawasan Etnografi dan Antropologi cukup berperan dan signifikan. Kolaborasi dengan wawasan Sejarah dan Arkeologi serta Filologi, terkadang pintu masuk ke lokasi pun terbilang sangat mudah. Oleh sebab itu tidak mengherankan, apabila di Maluku dan di Papua Barat, Penulis dengan segera dikenal sebagai Pakar Sejarah Islam, Filologi dan Kodikologi sekaligus Etnografi dan Antropologi untuk Maluku dan Papua serta Papua Barat.

KEUNTUNGAN MENGENAL NAMA MARGA DI MALUKU DAN PAPUA BARAT

Salah satu keuntungan mengenal nama marga adalah seperti telah dituliskan pada bagian awal tulisan ini. Hanya dengan mengenal nama marga (familinam), maka asal tempat serta hubungannya dengan orang lainnya dapat ditelusuri. Bahkan untuk suatu kasus tertentu, ternyata mereka memiliki hubungan keluarga yang erat. Beberapa peristiwa nyata berikut ini menjadi buktinya.

Peristiwa pertama, ini terjadi pada 10 April 2019. Setelah sarapan pagi bubur ayam “Bandung” di Waiheru, Penulis pun bermaksud menarik uang di ATM di depan warung itu. Sayangnya, ternyata ada kendala. Meskipun proses pen-debet-an telah terjadi, namun uang tidak keluar. Setelah agak panik sebentar, karena nominal uang yang ditarik lumayan besar, akhirnya Penulis pun menelpon customer service Bank Mandiri. Setelah selesai, rencananya besok paginya akan datang ke Kantor Cabang Bank Mandiri di dekat rumah, yaitu di Jl. A.M. Sangadji, Wayame, Kec. Teluk Ambon.

Namun, karena ada agenda lain ke Negeri Tulehu, rencana itupun tidak terlaksana. Dua hari kemudian barulah Penulis berangkat untuk mengurusnya secara manual. Tetapi, ternyata kendaraan lewat hingga ke Passo. Penulis pun kemudian turun dan menuju Kantor Cabang Bank Mandiri di Passo. Saat bertemu customer service, pada name tag tertulis nama, “Isti Salatalohy”. Secara spontan Penulis langsung menyebut nama Negeri Siri-Sori Islam di Kec. Saparua Timur, Kab. Maluku Tengah.

Ternyata, Isti –nama lengkapnya Istiqomah Salatalohy—memang berasal dari Siri-Sori Islam. Ketika Penulis menyebutkan nama Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy, Isti nampak lebih kaget lagi. Dengan malu-malu, customer service Bank Mandiri Passo yang sebelumnya pernah ditugaskan di Cabang Pasar Mardika, Batu Merah, Ambon itu mengatakan, bahwa Aluddin Salatalohy itu merupakan ayahnya. Sedangkan Hamzah Salatalohy adalah kakeknya. Foto pertemuan antara Penulis dengan Hamzah Salatalohy dan Aluddin Salatalohy pun diperlihatkan kepada dia.

Peristiwa kedua, ini terjadi pada 24 Mei 2022. Saat menumpang KM Ciremai dalam perjalan kembali dari Program Muhibah Bahari (Tablig Tol Laut ke Jayapura, Provinsi Papua), tidak sengaja di kapal yang akan sandar di Pulau Biak berjumpa dengan seorang yang kemudian diketahui bernama Freddy Aritonang. Ketika yang bersangkutan menceritakan pernah di SP 4 Prafi, maka dengan segera Penulis menghubungi seseorang di Prafi yang adalah Perintis Istimewa dari Saksi-Saksi Yehuwa (SSY). Foto Freddy Aritonang pun dikirimkan via WA.

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan