Setelah melakukan 125 kali serangan ke target strategis Jepang yang menghancurkan banyak fasilitas pertahanan Jepang itu, akhirnya pasukan Sekutu dapat menguasai kembali Manokwari dan Manokwari Selatan. Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu. Bukan hanya di Manokwari dan Manokwari Selatan, tetapi juga di Sarmi, Biak, Tambrauw dan lokasi lainnya. Pergantian pemerintahan kembali dipegang oleh Sekutu khususnya Belanda.
Bila melihat interval serangan udara oleh Sekutu kepada Jepang di Manokwari dan Manokwari Selatan, maka target itu dapat diselesaikan secara berjenjang. Awalnya Sekutu fokus pada pertahanan Jepang di Manokwari, tetapi kemudian beralih ke pusat pertahanan Jepang di Ransiki, Momi dan Waren. Serangan itu dilakukan oleh Sekutu khususnya 5th Air Force dan Far East Air Force bergantian.
Sekutu menyerang dan membombardir Manokwari sejak 1 Mei 1943 hingga 24 Oktober 1994. Selama 66 kali serangan udara di Manokwari, pesawat itu juga sekaligus menyerang Ransiki, Momi dan Waren. Selama empat bulan Ransiki dibombardir sebanyak 23 kali oleh pesawat-pesawat Sekutu, sejak 31 Mei 1944 hingga 29 Oktober 1944. Momi juga mendapat serangan udara sebanyak 28 kali sejak 13 Mei 1944 hingga 24 Oktober 1944. Terakhir, Waren mendapat bombardir sebanyak 8 kali sejak 7 Juni 1944 hingga 27 September 1944.
Itu artinya, Sekutu rata-rata melakukan serangan udara terhadap Jepang di Manokwari sebanyak 4 kali tiap bulan. Sedangkan Ransiki diserang sebanyak 4 kali juga tiap bulan selama enam bulan berturut-turut. Momi mendapat 6 kali serangan udara tiap bulan selama enam bulan dan Waren juga hanya mendapat serangan udara sebanyak 2 kali tiap bulan selama empat bulan.
Bisa dibayangkan, betapa mencekamnya situasi di Manokwari, Ransiki, Momi dan Waren saat serangan udara itu terjadi. Apalagi, serangan itu kadang bukan saja menyasar pertahanan Jepang melainkan juga lokasi semisal sungai dan pemukiman. Bahkan, untuk di Ransiki dan Momi, sepanjang aliran sungai dibombardir karena ditengarai menjadi lokasi persembunyian Jepang.
Kondisi Sekarang: Sisa Perang Dunia II di Ransiki, Momi dan Waren
Fasilitas pertahanan Jepang yang hancur lebur akibat serangan Sekutu hingga kini belum dapat difungsikan kembali. Dari lapangan terbang di Manokwari dan Manokwari Selatan, baru Rendani yang sudah difungsikan kembali dan kini menjadi bandara komersial. Sedangkan lapangan terbang Ransiki (Abresso Airfield) masih tahap pembangunan kembali. Untuk lapangan terbang di Kampung Dembek (Momi) dan di Waren hingga kini tidak jelas kondisinya.
Goa pertahanan Jepang di Kampung Dembek dan Kampung Waren juga telah berubah menjadi semak belukar. Beberapa pillbox, sumur dan tambang minyak tidak terawat dan tidak jelas lagi kondisinya. Hanya pillbox di pinggir jalan Kampung Dembek yang masih terlihat utuh. Begitu juga pillbox di Kampung Waren yang kini telah tertutup akar pepohonan meski kondisinya masih terlihat bagus.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2011 dan turunannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 1 Tahun 2022, semua benda cagar budaya tersebut seharusnya dapat didaftarkan kepada Pemerintah Pusat sehingga mendapatkan perawatan dan pelestarian. Dengan demikian, masyarakat setempat dapat memahami sejarah Perang Pasifik di aras lokal mereka: Ransiki, Momi dan Waren.
Ini selain akan meningkatkan literasi sejarah bagi para pelajar, juga dapat menjadi arah pembangunan Manokwari Selatan ke depannya. Bila pada masa Belanda dan Jepang, kakao (coklat) dan kapas menjadi primadona dan dibawa keluar Papua Barat melalui lapangan terbang itu, maka ke depannya juga sarana transportasi udara di Ransiki akan lebih modern lagi.
Begitu juga bila lapangan terbang di Dembek dan di Waren dapat dikembalikan lagi keberadaannya, maka akan bisa dijadikan sebagai lapangan terbang perintis untuk keperluan ekonomi dan bisnis. Minimal sebagai jejak penanda bahwa Perang Dunia II juga pernah terjadi di kawasan pedalaman yang menjadi lokasi pertemuan Suku Arfak dan Suku Wamesa tersebut.
Catatan:
Selesai ditulis pada Minggu, 15 Mei 2022 pkl. 07:43 WIT di Kawasan KODAM XVIII/Kasuari, Arfai, Manokwari, Papua Barat.
Disusun oleh:
Mln. Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Pembina Nasional
Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAA-I)
Manokwari, Papua Barat
Related Posts

Menelusuri Jejak Pembentukan Kecamatan Paling Utara di Kabupaten Bogor

Mengenal Batu Tapak Cikodom, Gunung Sindur, Bogor

Gaungkan Tema Shalat di Ciater | Jejak Lokasi yang Dilewati Bujangga Manik Sang Resi Petualang

Bakda Riyadi: Tradisi Keramaian Kerajaan Majapahit yang Menjadi Lebaran

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul


No Responses