Dengan karunia Allah Swt, tidak lama lagi Bulan Suci Ramadhan 1447 H akan berakhir dan Umat Islam bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H.
Adapun Idul Fitri akan dirayakan oleh mayoritas Umat Islam di Indonesia, termasuk Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia, setelah adanya pengumuman hasil sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H oleh Kementerian Agama Republik Indonesia yang akan dilaksanakan pada hari Kamis, 19 Maret 2026.
Untuk mempersiapkan diri kita dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H, maka melalui tulisan ini akan dipersembahkan beberapa poin dari nasihat yang telah disampaikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.t.b.a. (Khalifatul Masih V) pada Khutbah Idul Fitri 1 Syawal 1446 H di Masjid Mubarak, Islamabad (Tilford – Inggris) pada tanggal 31 Maret 2025, sebagai berikut :
“Kita hendaknya tidak menghabiskan hari ini dengan bermain, makan, minum, memakai baju baru, atau pergi ke taman hiburan. Sebaliknya, kita hendaknya merenungkan bahwa Idul Fitri membawa pesan dan pelajaran bagi kita: kita akan terus berbuat baik dan menjauhi perbuatan jahat selamanya, memenuhi hak-hak Allah SWT dan juga hak-hak hamba-Nya. Kita hendaknya terus menerus melakukan amal saleh dan menjadikannya bagian dari kehidupan kita, agar kita dapat mendekatkan diri kepada Allah Swt dan karunia-Nya bagi kita pribadi dan bagi generasi kita yang akan datang.”
“Jika setelah Idul Fitri, kita kembali pada kondisi yang dijalani sebagian orang dari antara kita sebelum Ramadan, yaitu tidak mengalami kemajuan dan peningkatan, hal ini bertentangan dengan status seorang mukmin, karena mukmin sejati adalah orang yang terus-menerus melangkah di jalan kebaikan.
Hari ini, kita juga harus berjanji ini, dan untuk memperbarui janji ini, kita berkumpul di sini, kita akan terus melakukan amalan-amalan baik yang telah kita peroleh di bulan Ramadan. Kita berkumpul di sini untuk merayakannya dengan penuh kegembiraan, kita bersukacita dan kita berdoa memohon kepada Allah Swt.”
“Sukacita tidak terbatas pada mengenakan pakaian baru atau menyantap hidangan lezat. Sebaliknya, kita bersukacita karena hari ini kita berikrar untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan yang mana kita telah dilimpahkan taufik oleh Allah SWT untuk meraihnya.”
“Seorang mukmin sejati dan seorang Ahmadi akan mendapatkan manfaat ketika perubahan-perubahan yang baik muncul dalam dirinya, dan ia berikrar bahwa ia akan selalu mempertahankan perubahan tersebut, jika tidak, tidak akan ada perbedaan antara dirinya dan orang lain. Seorang Ahmadi telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan telah berjanji kepada Allah Swt bahwa ia akan bertobat dari segala dosa dan akan selalu mengerjakan amal saleh, dan bahwa Dia akan menyucikan hidupnya.”
“Idul Fitri hari ini seharusnya menunjukkan pada kita bahwa sebagai hasil dari puasa selama sebulan, kita telah berhasil mencapai persatuan [hubungan sejati] dengan Allah, dan keberhasilan menyatu dengan Allah pasti akan meningkatkan amal saleh seseorang. Id bukan hanya hari penuh sukacita, tetapi juga hari ibadah. Kita melaksanakan lima kali salat pada hari hari biasa, tetapi pada Id, enam kali Shalat Wajib.”
Jika Idul Fitri kita disertai dengan pemikiran bahwa kita telah mencapai bagian dari apa yang kita upayakan selama Ramadhan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, maka kita sungguh sungguh akan menjadi orang-orang yang menapaki jalan-jalan yang menuju Allah Ta’ala dan termasuk pemilik kekayaan sejati yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala, yang melaluinya kita sampai pada Allah Ta’ala. Kekayaan itulah yang menuntun kepada Allah Ta’ala.”
“Jika tingkat ibadah kita meningkat selama Ramadan dan kita menemukan Allah Ta’ala, maka kita sungguh-sungguh layak merayakannya dengan kebahagiaan sejati dan pantas merayakan Id.”
“Kita hendaknya merayakan Idul Fitri dengan pemikiran ini: bahwa di bulan Ramadhan ini, kita telah berserah diri kepada Allah Ta’ala dengan tulus, menjauhi berbagai keburukan dan merangkul kebaikan. Hari Id hakiki penisbahannya bagi kita adalah hari itu ada dikarenakan kita berupaya untuk mencari perlindungan kepada Allah Ta’ala. Hari ini, sesuai dengan perintah Allah Ta’ala, kita merayakan kegembiraan ini bersama semua orang. Setelah pertobatan yang tulus, jika percikan cinta kepada Allah SWT lahir di dalam hati, percikan itu akan berbentuk cahaya yang agung dan menyebar. Hati seseorang akan terus bersinar dan ia akan menjauhi dosa-dosa. Setelah itu, segala tindakan dan amal orang-orang seperti mereka akan dipersembahkan demi meraih keridaan Allah Ta’ala.
Ketika seorang insan menjadi seperti demikian, hal itu akan berdampak pada rumah tangganya, istri, dan anak-anaknya, dan dengan begitu, ia akan membawa faedah bagi orang lain. Ketika ia bermanfaat untuk orang lain, lingkungan yang aman dan lingkungan rohaniah akan tercipta di sekitarnya. Inilah tujuan penciptaan manusia, sebagaimana dijelaskan Allah Ta’ala dalam firman-Nya: “Aku menciptakan kalian agar kalian bertambah dalam kebaikan dan berusaha memenuhi standar ibadah-Ku agar kalian mencapai kedekatan dengan-Ku.”
Disusun oleh
Mln. Iman Mubarak Ahmad
Related Posts

Pesan Khalifah Ahmadiyah pada Simposium International Amla 2026

Amanah Hadhrat Khalifatul Masih V a.t.b.a. untuk Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam Memasuki Abad Kedua

Menemukan Islam Nusantara: Islam yang Moderat dan Menghargai Hak Azasi Manusia

Ekspose dan Eksaminasi PT3L Tahun Akademik 2025-2026 Sebagai Kerangka Evaluasi Pengkhidmatan Lapangan

Kunjungi Daerah Lampung | Terjebak Hujan Lebat, Jalanan Rusak dan Harmonisasi Beragama

No Responses