PUSAT PERTABLIGAN AHMADIYAH DI KOTA LONDON (INGGRIS)
Hadhrat Choudry Fatah Muhammad Sayyal mendirikan misi pertabligan pertama di luar negeri pada Juli 1913. Namun pendirian sebenarnya dilakukan pada April 1914 ketika beliau meninggalkan Woking dan pindah ke London. Segera setiba disana, beliau mendirikan sebuah markaz (pusat pertabligan) dan mulai melaksanakan dakwah Islam.
Orang pertama yang masuk Islam melalui usaha pertabligan beliau adalah seorang jurnalis bernama Korio. Sampai kembalinya beliau ke India pada Maret 1914 beberapa orang Inggris telah memeluk Islam. Pada masa-masa awal misi pertabligan Islam di Inggris, beliau banyak memberikan ceramah kepada berbagai kelompok dan komunitas disana.
Pada 6 September 1915, Hadhrat Qadhi Muhammad Abdullah, B.A., B.T., bertolak ke Inggris dan selama empat tahun beliau sibuk melakukan dakwah. Akibat Perang Dunia (PD) Pertama, beliau mengalami banyak hambatan dan kesulitan-kesulitan dalam berdakwah. Namun, melalui sarana literatur dan korespondensi, beliau masih tetap dapat melakukan dakwah. Beliau masih berada di Inggris ketika Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq pada 10 Maret 1917 berlayar menumpang kapal dari India ke Inggris dan tiba disana pada April 1917.
Selama beberapa waktu, Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq membantu pertabligan di Inggris. Namun atas perintah Hadhrat Khalifatul Masih II ra, beliau kemudian bertolak ke Amerika untuk membuka pertabligan disana. Sedangkan sebagai gantinya, dikirimlah kembali Choudry Fatah Muhammad Sayyal beserta Maulana Abdurrahim Nayyar pada 10 Juli 1919 ke Inggris dan sampai di London pada 6 Agustus 1919.
Berbekal pengalaman sebelumnya, Choudry Sayyal berusaha meningkatkan dan meluaskan pertabligan melalui pembelian sebidang tanah seharga £ 2030 dari seorang yahudi di Tiffny Southfield untuk didirikan mesjid. Peristiwa ini terjadi pada 1920, yaitu pada bulan ketika Maulana Mubarak Ali Banggali, B.A., bertolak dari Qadian ke Inggris. Pada 18 September 1920, beliau tiba di London. Beberapa bulan kemudian, Hadhrat Maulana Abdurrahim Nayyar ditugaskan ke Nigeria, tepatnya pada Februari 1921. Sedangkan Maulana Mubarak Ali setelah tugas beberapa bulan, kemudian ditarik kembali ke Qadian pada September 1921.
Segera setelah itu Maulana Mubarak Ali dikirim ke Berlin dan Hadhrat Maulana Abdurrahim Nayyar setelah berhasil mendirikan pusat pertabligan di Sierra Leone, Gold Coast (Ghana) dan Nigeria ditarik kembali ke London. Pada 11 Mei 1924, Janab Malik Ghulam Farid, M.A., yang pada Desember 1923 ditugaskan ke Berlin, dipindahkan ke London untuk berdakwah bersama Hadhrat Nayyar.
Pada masa Hadhrat Abdurrahim Nayyar tersebut, Amirul Mukminin Hadhrat Khalifatul Masih II atba berangkat ke Inggris untuk menghadiri Konferensi Agama-agama di Wembley. Melalui tangan beberkat beliau, peletakan batu pertama mesjid Al-Fadhl dilakukan pada 19 Oktober 1924. Melalui perantaraan beliau juga, misi pertabligan di London mulai terkenal ke seluruh dunia. Sehingga dalam sejarah agama-agama, suatu era baru dimulai.
Pada Nopember 1924 serombongan pemuda dibawah koordinasi Maulana Abdurrahman Nayyar diberangkatkan ke London dan sebagai kepala misi ditetapkanlah Maulana Abdurrahimm Dard (dulu bernama Rahim Bakhsy), sedangkan sebagai wakilnya adalah Maulana Malik Ghulam Farid, M.A.
Bersamaan dengan ditetapkannya Maulana Abdurrahim Dard sebagai kepala misi pertabligan di London, majalah Review of Religions juga akhirnya diterbitkan dari London. Selain mengurusi masalah pertabligan, beliau juga bertanggung jawab atas kelangsungan penerbitan majalah tersebut. Fondasi pembangunan mesjid Al-Fadhl juga mulai dilanjutkan pembangunannya.
Bersama beberapa rekan sekerja beliau berdoa untuk kelancaran pertabligan dan pembangunan mesjid tersebut. Untuk itu ditunjuklah sebuah engineering company guna melaksanakan pembangunan.
Pada 1926, mesjid selesai dibangun. Pembukaannya dilakukan pada 3 Oktober 1926 oleh Khan Bahadur Syeikh Abdul Qadir, B.A., Barrister at Law.
Pada kesempatan itu dikumandangkan azan untuk pertama kali di menara mesjid oleh Malik Ghulam Farid, M.A., sedangkan sebagai kehormatan ditetapkanlah muazin pertama dari orang Inggris yang telah masuk Islam bernama Bilal Daniel Hawker Nuttal. Pembukaan mesjid pertama di London ini disiarkan secara luas oleh surat kabar-surat kabar ke seluruh penjuru dunia, khususnya oleh London Press. Sehingga upaya dakwah Islam yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah menjadi terkenal kemana-mana.
Pada 22 April 1928, Khan Shahib Maulana Farzand Ali bertolak ke Inggris untuk menggantikan Maulana Malik Ghulan Farid yang akan kembali ke India pada Juli 1928. Sebagai pengganti dikirim juga Shufi Abdul Qadir Niyyaz dua bulan setelah Maulana Abdurrahim Dard ditarik ke Qadian tepatnya 3 Agustus 1928. Setelah itu dikirimlah Maulana Muhammad Yaar Arif ke London untuk menggantikan Shufi Abdul Qadir yang ditarik kembali ke Qadian pada 16 Agustus 1931. Setelah itu, pada 2 Februari 1933 untuk kedua kalinya Maulana Abdurrahim Dard dikirim ke London. Sedangkan Maulana Farzand Ali ditarik kembali ke Qadian pada 10 April 1934.
Di antara beberapa kemajuan yang dicapai oleh Khan Shahib Farzand Ali dan Maulana Abdurrahim Dard adalah bahwa selain pada masanya mereka meluaskan daerah pertabligan, juga merasa pentingnya menjalin silaturahmi baik dengan orang-orang awam dari Hindustan maupun dengan anggota-anggota parlemen. Sehingga tidak mengherankan apabila pada masa itu mesjid Al-Fadhl sering menjadi tempat berkumpul bukan saja para pejabat India tetapi juga para pemimpin Islam India yang sedang memperjuangkan kemerdekaan Pakistan. Di antaranya penyair Dr. Muhammad Iqbal dan Muhammad Ali Jinnah (yang kemudian menjadi pendiri Pakistan), yang menjadi putus asa atas perjuangan kemerdekaan (negara yang kemudian diberi nama, Pakistan) setelah diadakannya Konferensi Gol Mez, dan akhirnya memutuskan menjadi pengacara di London dan melupakan perjuangannya di India.
Mengetahui hal ini, Hadhrat Amirul Mukminin Khalifatul Masih Al-Tsani memerintahkan Maulana Abdurrahim Dard agar mengundang Muhammad Ali Jinnah ke mesjid Al-Fadhl dan memberikan ceramah bertema “The Future of India”. Maulana Abdurrahim Dard diminta juga agar membujuk Muhammad Ali Jinnah supaya meneruskan perjuangannya untuk kemerdekaan (negara yang kemudian diberi nama, Pakistan) dengan bersedia kembali lagi ke India. Kemudian setelah kembali ke Hindustan, Muhammad Ali Jinnah mulai membentuk organisasi Islam yang solid.
Mengenai bagaimana cara Maulana Abdurrahim Dard membujuk Muhammad Ali Jinnah, diterangkan sendiri oleh Maulana Dard sebagai berikut:
“Ini merupakan hasil dari upaya Khalifatul Masih II sehingga Quaid-e-Azham bersedia kembali ke Hindustan dari London dan mulai mengumpulkan para politikus Islam, sehingga pada akhinya negara Pakistan bisa terwujud pada 1947. Ketika pada 1933 saya ditugaskan sebagai Imam Mesjid London, pada waktu itu Quaid-e-Azham sudah tinggal di Inggris. Disana, setelah bertemu dengan beliau, akhirnya beliau bersedia kembali ke Hindustan dan membentuk organisasi Islam yang solid.
Saya berbicara dengan Jinnah selama tiga sampai empat jam. Saya memohon agar beliau bersedia menjadi pembimbing bagi kaum Muslim Hindustan yang sedang kehilangan arah laksana kapal yang tak bernahkoda. Kemudian beliau diundang ke mesjid Al-Fadhl, London untuk memberikan ceramah tentang masa depan (orang-orang Islam) Hindustan. Setelah menimbang masak-masak, Jinnah akhirnya kembali ke Hindustan. Kemudian membentuk Muslim League, yang beberapa tahun kemudian berhasil mewujudkan berdirinya negara Pakistan.
Berkenaan dengan bujukan Imam Jemaat Ahmadiyah, sebagaimana disampaikan oleh Sir Stewart Sandiman, Muhammad Ali Jinnah mengatakan, “The eloquent persuation of the Imam left me no escape.” (Imam Sahib ki fashih-o-baligh targhib ne mere lie koi rah bichne ki nehi chorry).” (Lihat, Inqilaabi ‘Azhim ke Mutha’alliq Indzaar-o-Bisyaarat, Jld. II, hlm. 19 oleh Hadhrat Sayyid Waliyullah Syah Shahib).
Pada masa Maulana Dard, beberapa keluarga Pendiri Jemaat Ahmadiyah yaitu Sahibzada Mirza Nasir Ahmad, Sahibzada Mirza Muzhaffar Ahmad, Sahibzada Mirza Zhafar Ahmad dan Sahibzada Mirza Saeed Ahmad sedang menuntut ilmu di London.
Pada masa itu mereka juga menerbitkan majalah “Al-Islam” dibawah tanggung jawab Sahibzada Mirza Nasir Ahmad (yang kemudian menjadi Khalifah Ahmadiyah III). Pada 1 February 1936, Maulana Jalaluddin Syams bertolak ke London dalam rangka menterjemahkan Al-Qur’an, diikuti oleh Maulana Syer Ali pada 26 Februari 1936. Berkat keduanya, misi pertabligan Islam kembali memperlihatkan kehidupan baru.
Pada 9 Nopember 1938, Hadhrat Maulana Abdurrahim Dard, Maulana Syer Ali dan semua mubalig Islam Ahmadiyah di Inggris kembali ke Qadian. Sehingga Maulana Jalaluddin Syams akhirnya ditugaskan sebagai Missionary in-Charge (Kepala Misi Pertabligan di suatu negara).
Pada masa Maulana Jalaluddin Syams, Perang Dunia Kedua meletus. Inggris dibombardir dari segala arah, sehingga ribuan anak-anak dan wanita mengungsi dari London ke desa-desa sekitarnya. Akibat bombardir tersebut juga ceramah-ceramah di luar menjadi terhenti. Namun, hal yang menguntungkan adalah beliau masih tetap berdakwah dengan cara memberikan ceramah-ceramah di Pusat Misi Pertabligan (Daar al-Tablig) mengenai berbagai masalah agama. Komunitas-komunitas dan klub-klub terkenal ikut hadir.
Dari luar negeri berdatangan orang-orang penting untuk berjumpa dengan beliau sehingga beliau tetap masih dapat berdakwah kepada mereka. Ribuan selebaran tentang kuburan Nabi Isa as di Kasymir, India dibagi-bagikan. Sebuah buku yang penting, Where did Jesus Die? juga diterbitkan. Bishop Glaster diundang untuk berdiskusi, begitu juga raja-raja. Al-Qur’an mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, Italia, Perancis, Polandia, Jerman dan Spanyol.
Pada 19 Nopember 1946, Maulana Jalaluddin Syams ditarik ke Qadian, dan sebagai gantinya ditunjuklah Choudry Musytaq Ahmad Bajwa sebagai Imam Mesjid London. Di masa beliau, cukup banyak literatur yang diterbitkan. Setelah itu beliau diganti oleh Choudry Zhahur Ahmad Bajwa sampai 14 Agustus 1950. Pada masa beliau, ditunjuklah Quraisyi Maqbul Ahmad sebagai Sekretaris Misi (24 Januari 1948 – 9 Desember 1951), yang dilanjutkan oleh Sayyid Mahmud Ahmad Nasir (11 Nopember 1954 – 4 Juli 1957) merangkap sebagai Naib Imam Mesjid.
Choudry Zhahur Ahmad Bajwa kembali ke Qadian pada 14 April 1955. Pada masa Choudry Zhahur, dikirimlah Maulana Ahmad Khan Dehlawy ke London pada 11 September 1953. Pada April 1955, Hadhrat Khalifatul Masih II atba berangkat ke Eropa untuk berobat yang kedua kalinya. Atas petunjuk Hudhur, dari 22-24 Juli 1955 diadakanlah konferensi mubaligin yang ada di luar negeri berkenaan dengan pengaturan pertabligan sehingga menghasilkan keputusan-keputusan yang penting.
Pada 18 Januari 1959, Khan Basyir Ahmad Khan Shahib Rafiq bertolak ke Inggris. Pada masa itu, beliau ditugaskan sebagai mubalig. Tahun 1960 beliau menerbitkan surat kabar “The Muslim Herald”. Oleh karena itu Mukarram Choudry Rahmat Khan Shahib ditetapkan sebagai Imam Mesjid London dari Oktober 1960 sampai Maret 1962. Selain itu, para mubalig yang pernah bertugas di London adalah Mir Abdussalam Siyalkoti, Aziz Din Shahib dan Quraisy Shilahuddin Shahib.
Selain itu orang Inggris yang telah masuk Islam dan aktif bertablig adalah Nasir Ahmad, Alimah Bilal, Daniel Bilal Hawker Nuttal. Pada masa itu cabang-cabang Jemaat telah didirikan di beberapa kota, di antaranya Bradford, Blackburn, Glasgow, Huddersfields, Oxford, Birmingham, Sheffield, Southall, Manchester, dan lain-lain.
—o0o—
Related Posts

Kunjungan Bersejarah Tokoh Hiroshima ke Khalifah Ahmadiyah

Peresmian Plakat Hijau di Masjid Fadhl : “Sebuah Tanda Pengakuan Sebagai Masjid Pertama di Kota London”

Jemaat Muslim Ahmadiyah Adakan Acara The Big Iftar

Wakil Presiden Ghana Hadiri Pertemuan Tahunan Ahmadiyah Ghana 2026

Pesan Perdamaian dari Khalifah Ahmadiyah untuk Israel dan Iran


No Responses