JEJAK TELAPAK KAKI DI ATAS BATU DARI MASA KE MASA
MANUSIA selalu ingin meninggalkan jejak untuk dikenang atau sekedar sebuah ekspresi. Oleh sebab itu, banyak cara dilakukan sejak masa dulu. Dari sekedar membuat benda-benda kerajinan tangan (handmade) hingga menerakan bentuk telapak kaki atau tangan bahkan muka pada suatu bidang datar.[1]
Bahkan, manusia prasejarah telah meninggalkan jejak berupa telapak kaki pada batu di beberapa lokasi di dunia ini. Sebut saja, sejak 100 juta tahun lalu sudah ada telapak kaki manusia purba pada batu. Jejak yang paling jelas adalah yang ditemukan di Eropa yaitu di Trachilos, Kreta (Yunani) sekitar 5,7 hingga 6,05 juta tahun lalu.
Jejak telapak kaki juga ditemukan di Laetoli (Tanzania) yang diperkirakan berusia sekitar 3,66 juta tahun lalu. Jejak ini diyakini dibuat oleh Australopithecus afarensis, spesies yang sama dengan fosil ‘Lucy’. Sedangkan jejak Homo Sapiens ditemukan di Afrika Selatan sekitar 153.000 tahun lalu. Jejak ini dianggap sebagai jejak kaki manusia modern (Homo sapiens) tertua yang pernah ditemukan.
Telapak kaki Nabi Adam a.s. juga dikatakan telah ditemukan di Sri Langka.[2] Di kawasan pegunungan Samanala, tepatnya di Adam Peak yang termasuk dalam Distrik Ratnapura dan Distrik Nuwara Eliya Provinsi Sabargamuwa terdapat jejak mirip telapak kaki raksasa berukuran 100 cm x 180 cm.
Orang-orang Hindu menyebut jejak telapak kaki raksasa itu dengan sebutan Shivan Adi Padham. Mereka percaya, bahwa jejak itu adalah tinggalan Dewa Shiva yang telah melakukan tarian di tempat dengan ketinggian 2.243 meter di atas permukaan laut tersebut.
Sedangkan orang-orang Budha percaya, bahwa ini adalah telapak kaki Sang Buddha Gautama. Menurut mereka, saat kunjungan terakhir ke Sri Langka, Sidharta Gautama menerakan telapak kakinya pada batu safir yang ada di pegunungan Adam Peak tersebut.
Begitu juga umat Kristiani, mereka percaya bahwa jejak telapak kaki raksasa itu merupakan simbol dari telapak kaki St. Thomas. Mereka percaya, bahwa Rasul Thomas –yang merupakan saudara kembar Yesus alias Ba’bad– menyebarkan agama Kristen di Sri Langka setelah di Malabar, India Selatan.
Bahkan, di Kashmir tepatnya di tempat yang disebut sebagai Rauzabal (artinya “Makam Nabi”) alias Ohel (אחל) juga terdapat jejak pahatan sepasang kaki yang dikatakan merupakan kaki Nabi Isa a.s. di India. Jejak kaki itu tampak unik karena khas memperlihatkan bekas-bekas penyaliban.[3]
JEJAK TELAPAK KAKI DI NUSANTARA: ANTARA PRASASTI ATAU EKSPRESI?
Di Nusantara, yang kini disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia, terdapat beberapa tinggalan berupa pahatan telapak kaki (footprint) manusia di atas batu. Pahatan itu sudah ada sejak masa Kerajaan Tarumanagara pada abad IV hingga XVI Masehi.[4]
Setelah era Tarumanegara, kebiasaan membuat pahatan jejak telapak kaki dilanjutkan oleh Kerajaan Galuh dan Sunda. Telapak kaki dan telapak tangan di Ciamis membuktikan hal ini. Begitu juga di kawasan Kerajaan Sunda di Bogor, Sukabumi dan Bandung, banyak ditemukan pahatan jejak telapak kaki di atas batu.
Prasasti Batutulis merupakan salah satu tinggalan Kerajaan Pajajaran yang masih terpelihara hingga kini. Prasasti yang dibuat oleh Prabu Surawisesa Jayengrana untuk mengenang kebesaran ayahandanya, Prabu Siliwangi itu dibuat pada tahun tahun Saka 1455 atau 1533 M. Sengkala di dalam prasasti dengan jelas menyebutkan, “panyca pandawa emban bumi” yang identik dengan tahun 1455 Saka.
Di bekas kawasan Kerajaan Galuh, sebuah batu unik ditemukan warga Nagarapageuh, Kecamatan Panawangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Di atas batu ini terdapat satu jejak telapak kaki yang cukup jelas. Batu itu sebelumnya ditemukan warga saat sedang menggali kuburan.[5]
Batu berbentuk persegi panjang dan pipih itu berukuran 50×20 sentimeter, ketebalannya sekitar 5 sentimeter. Terdapat 2 lubang pada bagian atas dan tengah. Lokasi telapak kaki berada pada tengah batu. Nampak jelas terlihat 5 jari dan badan kaki ukuran sedang.
Di Kampung Cileueur, Desa Sukaresmi, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor juga ditemukan pahatan telapak kaki pada batu yang berada di tengah Sungai Ciangsana. Begitu juga jejak pahatan telapak kaki kanan pada batu andesit di kawasan Taman Nasional Bukit Halimun Salak di Kampung Calobak, Kelurahan/Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor.[6]
Di Kelurahan Tamansari tepatnya di Gang Cimaung dekat Sungai Cikapundung, Kota Bandung juga ditemukan batu berukir telapak kaki, telapak tangan dan tengkorak manusia beserta aksara Sunda. Meskipun kemudian Tim Peneliti meragukan batu dekat Sungai Cikapundung di Gang Cimaung, Kelurahan Tamansari, Kota Bandung, sebagai prasasti kuno.[7]
“Dari hasil kajian, ini bukan prasasti kuno yang diperkirakan dari abad ketujuh,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Adi Junjunan Mustafa kepada Tempo, Ahad, 18 Januari 2026. “Ada tiga alasan mengapa kemudian disimpulkan demikian.”
MENGENAL KAMPUNG BATU TAPAK CIDOKOM, GUNUNGSINDUR, BOGOR
Gunung Sindur, selain merupakan nama kecamatan juga adalah nama desa dimana lokasi pusat pemerintahan kecamatan terdapat disana. Kecamatan Gunung Sindur awalnya bagian dari Land Koeripan yang masuk ke dalam Distrik Parung (Paroeng). Kini, Kecamatan Gunung Sindur memiliki 10 desa.[8]
Secara astronomis Kecamatan Gunung Sindur terletak antara 6°21’28”LS – 6°24’59” LS dan 106°38’30” BT – 106°43’57” BT dan secara gegografis Kecamatan Gunung Sindur memiliki batas-batas :
Utara = Banten;
Selatan = Ciseeng;
Barat = Rumpin; dan
Timur = Depok.
Kecamatan Gunung Sindur memiliki luas wilayah 44,47 km2 yang terbagi menjadi 10 Desa. Desa Jampang merupakan Desa yang terluas, yaitu 5,89 km2 atau sebesar 13,18 persen dari total luas Kecamatan Gunung Sindur. Berdasarkan jarak kantor Desa ke kantor Kecamatan, Desa yang memiliki jarak paling dekat yaitu Desa Gunung Sindur sejauh 1,0 Km, sedangkan desa yang memiliki jarak paling jauh yaitu Desa Rawakalong sejauh 7,0 KM.
Meskipun diberi nama Gunung Sindur, tetapi di kawasan ini tidak terdapat gunung. Namun, ada beberapa kawasan perbukitan yang penuh dengan tanaman endemik Sindur atau Sindora wallichi. Tumbuhan ini adalah sejenis pohon yang tingginya mencapai hingga 40 meter.
Pada 200 tahun lalu, kawasan Gunung Sindur masih dikenal dengan sebutan Djampang Ilier, Djampang Oedik, Selabantar, Kadoemangan dan Tjiletrang. Bahkan, selain sebagai penghasil komoditas pertanian dan perkebunan, kawasan ini juga menghasilkan opium (Papaver somniferum) yang ditanam khusus di perbatasan Djampang Ilier dan Serpong dan diperjualbelikan secara bebas di Pasar Ciseeng. [9]
Di kawasan pertemuan Sungai Jeleutreng atau Cijeleutreng (Tjiletrang) terdapat sebuah batu dengan pahatan sepasang telapak kaki. Lokasinya berada persis di pertemuan antar dua sungai dan kini berada di halaman rumah penduduk. Tiga buah pohon rengas berada di sekitarnya seolah menjadi penaungnya.
Nama batu tapak itu kemudian dijadikan sebagai nama kampung, yaitu Kampung Batu Tapak yang masuk dalam administrasi pemerintahan Desa Cidokom, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Lokasinya berbatasan dengan Desa Pedurenan, Desa Curug dan Desa Cibinong.[10]
SITUS BATU TAPAK DAN PENANDA LOKASI KEKUASAAN
Tidak ada catatan pasti, kapan Batu Tapak Cidokom itu dibuat dan atas perintah siapa dibuat. Namun, sudah sejak lama batu itu berada disana. Bila penjaga Situs Batu Tapak menyebutkan leluhurnya yang sudah turun-temurun menjaganya, maka minimalnya sudah empat generasi atau lebih dari satu abad yang lalu.
Melihat faktor lokasinya, Situs Batu Tapak Cidokom memang tidak mengherankan berada disana. Ada pertemuan dua buah sungai di dekatnya, yaitu Sungai Jeletreng atau Jileutrang alias Cijileutrang, yang merupakan anak Sungai Cisadane (Tjidhani). Ini mirip dengan prasasti lainnya yang juga berada di pinggir atau di dalam aliran sungai, misalnya Prasasti Purnawarman, Prasasti Pasiran Muhara dan Situs Batu Ciangsana.
Melihat faktor keletakan lokasinya ini menunjukkan, bahwa Situs Batu Tapak Cidokom itu juga ingin menandai lokasi tersebut sebagai bagian dari kekuasaan yang membuatnya. Bagian sebelah sungai yang ada Situs Batu Tapak adalah bagian pemilik kekuasaan, sedangkan lokasi di seberang sungai menjadi kekuasan pihak lain. Sungai Cijeleutrang seolah menjadi pembatas wilayah.
Dilihat dari bahan pembuatannya, Batu Tapak menggunakan batu andesit sungai berwarna hitam kecoklatan. Dengan kontur batu andesit yang relatif lembek, pembuat telapak kaki dapat dengan mudah memahat di atasnya. Namun, karena lembeknya juga, batu ini tidak tahan terhadap cuaca terutama hujan dan panas. Oleh sebab itu, permukaannya akan berangsur terkikis (aus).
Bila pada umumnya pahatan telapak kaki ada tulisannya, Situs Batu Tapak ini –seperti juga Situs Batu Calobak Tamansari (Bogor) dan Situs Batu Susuru (Ciamis)– tidak memiliki tulisan sama sekali. Sehingga hal ini akan sedikit menyulitkan bagi para peneliti yang mencoba ingin menguak sejarahnya.
Salah satu cara untuk mengetahui asal dan tahun pembuatannya, adalah membandingkannya dengan Situs Batu Tapak lainnya. Misalnya, membandingkan bahan pembuatannya, bentuk fisik telapak kakinya dan ciri khas lainnya. Sebab, tentu saja pahatan telapak kaki pada masa Kerajaan Tarumanegara berbeda dengan pahatan pada masa Kerajaan Galuh atau Kerajaan Sunda.
Oleh sebab itu, setelah membandingkan faktor-faktor tersebut, dapat ditarik kesimpulan yang mendekati asal dan waktu pembuatannya. Situs Batu Tapak Cidokom ini mirip dengan Situs Batu Tapak Calobak dan Situs Batu Tapak Cileueur di Tamansari, Bogor. Situs Batu Tapak Cidokom ini sama sekali tidak ada kemiripan dengan Prasasti Purnawarman Ciaruteun Cibungbulang yang dilengkapi tulisan bermetrum anustubh dan kaligrafi Sangkhalipi.
Bila Prasasti Purnawarman dibuat dengan sangat artistik, rapih dan profesional, maka Situs Batu Tapak sesudahnya dibuat dengan pahatan sederhana dan tanpa aksara. Ini menunjukkan, bahwa aneka Situs Batu Tapak itu dibuat bukan oleh suatu sosok dari suatu kerajaan besar tetapi boleh jadi hanya oleh perorangan atau lembaga yang lebih kecil.
Biasanya, untuk melengkapi data terkait Situs Batu Tapak perlu dilakukan eksvakasi atau penggalian arkeologi. Kegiatan ini menghadirkan para arkeolog, sejarawan dan pihak lain yang terkait. Dari eksvakasi ini diharapkan dapat ditemukan bukti pendukung lainnya. Bukti pendukung itu bisa berupa pecahan keramik kuno, arca, lingga-yoni, bahkan prasasti bertulis.
Kesimpulannya, Situs Batu Tapak Cidokom dari segi waktunya merupakan situs yang lumayan kuno. Ini terlihat dari metode pemahatan dan bentuk gambar fisik kakinya yang terbilang proporsional. Citralekha alias pemahatnya kemungkinan memiliki alat pahat yang baik dan menguasai seni pahat yang mahir termasuk anatomi telapak kaki manusia. []
CATATAN:
*) Penulis merupakan Direktur dan Pengulik pada Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre for the Study of the Islamic Manuscripts and Theology) Bogor, Jawa Barat yang juga Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAAI) sejak 2017 hingga sekarang. Penulis menekuni bahasa-bahasa dan manuskrip kuno Nusantara (Pegon, Jawa kuno, Sunda kuno) dan bahasa-bahasa Kitab Suci (Arab, Urdu, Farsi, Ibrani, Yunani, Sansekerta, Pali dan lain-lain).
Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan*)
REFERENSI:
[1] Di era modern ini, jejak itu bertransformasi dari sekedar jejak telapak kaki fisik (Physical Footprint/Environmental Impact) menjadi data digital (Digital Footprint) yang permanen. Kutipan di awal tulisan menunjukkan, bahwa ada jejak yang anonim alias minim informasi.
[2] Lihat tulisan Penulis dalam Makalah “Islam di Tanah Papua: Mengulik Jejak Islam Melalui Manuskrip Kuno” yang diselenggarakan oleh IAIN Sorong Papua Barat dalam Seminar Nasional Keberagaman pada Selasa, 19 Mei 2020 pkl. 20:30 WIT via Zoom.
[3] Lihat tulisan Penulis dalam buku “Jesus in India” Bab Visiting the Grave of Jesus in Srinagar, Kashmir, Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi, 2024, hlm. 54-60.
[4] Lihat tulisan Penulis dalam buku “Jejak-jejak Kuno di Bogor: Menelusuri Jejak Tarumanegara dan Pajajaran serta Tim Panitia Gotrasawala Pangeran Wangsakerta Dalam Lintasan Sejarah di Tatar Sunda”, Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi, 2025, hlm. 19-25 dan buku “Hutan Larang (Samida) Srimanganti: Menelusuri Jejak Terserak, Toponimi Unik dan Peristiwa Lampau di Pawikuan Kerajaan Pajajaran di Wanasigra, Tenjowaringin, Salawu, Tasikmalaya, Jawa Barat” Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi, 2023, hlm. 1-20.
[5] Dikutip dari artikel detiknews, “Melihat Batu Tapak Kaki yang Ditemukan Warga Ciamis Saat Gali Kubur” selengkapnya https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-5082896/melihat-batu-tapak-kaki-yang-ditemukan-warga-ciamis-saat-gali-kubur.
[6] Terkait Batu Tapak Calobak Tamansari Kab. Bogor, lihat laporan situs Jelajah Cagar Budaya Bandung di https://jelajahcagarbudaya.id/node/126
[7] Lihat tulisan Tempo terkait Prasasti Cikapundung di https://www.tempo.co/sains/tim-peneliti-ragukan-prasasti-kuno-cikapundung-di-bandung-2108088
[8] Terkait Land Koeripan, lihat buku Penulis berjudul “Land Koeripan Dalam Kenangan: Menelusuri Jejak Terserak, Toponimi Unik dan Peristiwa Lampau di Perkebunan (Land) Koeripan, Ciseeng, Bogor, Jawa Barat”, Bogor: Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Fililogi, 2023, hlm. 1-9.
[9] Dalam bukunya, “The Opium Trade in the Dutch East Indies II” J.F. Scheltema, M.A. dari Yale University menuliskan, “The pretext for the establishment of that opium den was the alleged smuggling of opium at the pasar of Tji Se-eng a fact absolutely unknown to the owner and the administrator of Koeripan, who certainly are better acquainted with the doings of their men than outsiders; a fact, moreover, that ought to have led to a stirring-up of the government police instead of to a supply of government opium in addition to the visionary contra-band opium.” (hlm. 9)
[10] Lihat, “Gunung Sindur District in Figures 2024” yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Bogor, 2024, hlm. 5.
Related Posts

Gaungkan Tema Shalat di Ciater | Jejak Lokasi yang Dilewati Bujangga Manik Sang Resi Petualang

Bakda Riyadi: Tradisi Keramaian Kerajaan Majapahit yang Menjadi Lebaran

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul

Meneliti Manuskrip Kuno Al Quran Daun Lontar

Kunjungi Ciaruteun Ilir dan Pasir Muara Telisik Prasasti Tinggalan Kerajaan Tarumanegara






No Responses