Mengenal Teori Kesadaran | Belajar dari Buku Psikoanalisa Karya Sigmund Freud

Mengenal Teori Kesadaran | Belajar dari Buku Psikoanalisa Karya Sigmund Freud
"Semoga semakin banyak buku yang dikaji dalam program Kajian Buku ini dan mahasiswa mendapat manfaat dari berbagai keilmuan yang disampaikan oleh para pemakalah atau pembedah buku."

Masroor Library – Bogor, Jawa Barat [29/1/26]. Layar monitor berukuran 24 inci itu terletak di atas meja. Di sebelahnya, sebuah meja penuh dengan buku-buku di atasnya tampak menarik minat. Dua buah bangku berada di belakangnya. Dua orang telah duduk disana, sementara yang lainnya lesehan di atas karpet yang terhampar di depannya. Sebuah meja lain dengan dua kursi yang juga telah ditempati, berada di samping kanannya.

Di depan buku-buku itu tampak sebuah buku yang berjudul “Psikoanalisa” Sigmund Freud. Materi dalam buku inilah yang memang akan dikaji pada Program Rutin Kajian Buku, Kamis (29/1) malam itu. Sdr. Ibrahim Adam, mahasiswa Darjah IV telah mempersiapkan materinya dalam bentuk power point presentation (PPT) yang akan ditampilkan via monitor tadi. Pesertanya, sebanyak 20 mahasiswa yang mendapat undangan khusus. Naib Principal Akademik dan Muntazim Ilmi juga hadir membersamai.

Dibantu dengan tayangan PPT, pemakalah menerangkan sosok penulis buku “Psikoanalisa” tersebut dilanjut dengan teori-teori yang diciptakan oleh Sigmund Freud. Sigisimund Schlomo Freud (6 Mei 1856 – 23 September 1939) adalah seorang Austria keturunan Yahudi dan pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi. Menurut Freud, kehidupan jiwa memiliki tiga tingkatan kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak-sadar (unconscious).

Konsep dari teori Freud yang paling terkenal adalah tentang adanya alam bawah sadar yang mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu, dia juga memberikan pernyataan bahwa perilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari ibunya.

Freud tertarik dan mempelajari hipnosis di Prancis, lalu menggunakannya untuk membantu penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnosis setelah ia berhasil menggunakan metode baru untuk menyembuhkan penderita tekanan psikologis, yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut berasal dari konsep alam bawah sadar.

Asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang tetapi terus mendorong keluar tanpa disadari sehingga menimbulkan permasalahan, sedangkan analisis mimpi digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar.

Pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan, dan berbagai macam aktivitas emosi lain hingga aktivitas emosi yang sama sekali tidak disadari, oleh karena itu, metode analisis mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, dan kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil diungkap, penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.

Sesi tanya jawab memunculkan enam orang penanya. Pertanyaan yang diajukan tampak lumayan sulit untuk dijawab oleh pemakalah atau pembedah buku. Namun, disinilah letak pentingnya kajian buku ini. Suasana dialog yang terbangun semakin menumbuhkan perspektif baru dari peserta yang hadir. Kebiasaan mengungkapkan suatu hal menjadi keniscayaan bagi mahasiswa.

Usai tanya jawab diberikan hadiah doorprize untuk peserta yang mengajukan pertanyaan. Ada enam orang mahasiswa yang mendapatkan doorprize tersebut. Naib Principal Akademik memberikan doorprize kepada keenamnya.

Sebelum acara ditutup dengan doa, Naib Principal Akademik diminta memberikan sekapur sirih. Setelah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini secara rutin, Naib Principal Akademik pun menyinggung materi teori mimpi Sigmund Freud dan perspektif Islam. Ada perbedaan mendasar antara teori mimpi Sigmund Freud dan Islam. Dalam Islam, mimpi berasal dari sesuatu yang Adi Kodrati dan merupakan 1/64 bagian dari kenabian.

“Kajian mimpi telah melahirkan banyak pena’bir (mu’abbir) di kalangan ulama Islam: Abdul Ghani al-Nablusi, Ibn Sirrin dan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. sendiri seperti tertulis dalam buku “Khabong ki Ta’birei”. Banyak Muslim telah memperoleh mimpi-mimpi benar, termasuk saya sendiri telah bermimpi melihat ular besar (sanp) dan ta’birnya adalah bahwa Jemaat Ahmadiyah akan mengalami penentangan.

Dalam berbagai kesempatan, mimpi inipun diceritakan, misalnya dalam khotbah Jumat di Musala Al-Noor Jemaat Ahmadiyah Salatiga. Ini terjadi dua minggu sebelum penyerangan terhadap Kampus Mubarak, 9 dan 15 Juli 2005″, ungkap Naib Principal Akademik yang pernah ditugaskan di Salatiga itu.

Acara ditutup dengan doa sekitar pkl. 22:00 WIB. Setelah itu sesi foto bersama pun dilakukan. Semoga semakin banyak buku yang dikaji dan mahasiswa mendapat manfaat dari berbagai keilmuan yang disampaikan oleh para pemakalah atau pembedah buku. []

Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Naib Principal Bidang Akademik
Jamiah Ahmadiyah Indonesia

No Responses

Tinggalkan Balasan