Kunjungi Pesantren Terpadu di Cibungbulan | Belajar Pengelolaan Lembaga Tahfiz Secara Matang

Kunjungi Pesantren Terpadu di Cibungbulan | Belajar Pengelolaan Lembaga Tahfiz Secara Matang
"Untuk menjadi mutqin, seseorang harus muraja'ah minimal sebanyak 41 kali. Ini yang beratnya, padahal biasanya kita muraja'ah hanya sekali atau paling banyak tiga kali. Tetapi, bila ini dilakukan, maka kualitas penghafal juga akan semakin bagus."

Bogor – Jawa Barat [25/1/2026]. Lima kendaraan roda empat moda transportasi darat itu bergerak meninggalkan halaman Rektorat Jamiah usai doa bersama, Ahad (25/1) pagi sekira pkl. 08:10 WIB. Tujuannya tidak lain adalah Pesantren Tahfiz “Ummul Quro Al-Islamy” Cibungbulang, Bogor yang terletak di komplek Perumahan Vila Cimanggu 2.

Rombongan sebanyak 33 orang itu melakukan konvoi melewati Danau Pabuaran tembus ke perkebunan sawit Candali, lalu ke Pertigaan Rancabungur alias Jalan Cagak dan menyeberangi Sungai Cisadane tembus ke Pasar Ciampea menuju jalan Raya Ciampea – Leuwiliang. Usai lewat Cibatok, rombongan belok kanan ke lokasi. Perjalanan ditempuh tepat satu jam lamanya.

Sepanjang perjalanan, Naib Principal Akademik Jamiah Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan mengulas sejarah lokasi-lokasi yang dilewati. “Pasar Ciampea misalnya, dulu diresmikan pada 1829 dengan penanaman pohon trembesi atau jubleg yang bersamaan dengan Pasar Parung dan Pasar Gobang Rumpin,” tutur peneliti sejarah Land Koeripan itu.

“Dulu, Belanda atau VOC membangun Benteng di sekitar Sungai Cisadane dan diberi nama Benteng Sampora –yang namanya sama dengan Benteng di Lengkong, Tangerang– darimana nama Ciampea berasal,” lanjut peneliti sejarah dan epigrafi Kerajaan Tarumanagara dan Pajajaran yang biasa berkunjung ke lokasi prasasti Purnawarman di sekitar lokasi yang dilewati.

Rombongan yang terdiri dari Naib Principal Akademik Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan, Mudir Madrasah Hifz Al-Qur’an Mln. Usama Ibnu Hasan, S.I.Kom., al-Hafiz, Ust. Nasir Ahmad Djamil, S.E., al-Hafiz (Pengajar), Mln. Ilham Sayyid Ahmad, Shd. (Pengajar), 18 siswa Tahfiz dan 11 mahasiswa alumni Tahfiz kemudian diterima oleh Pembina Pesantren Terpadu “Ummul Quro al-Islamy” (PTUQI) Cibungbulang, Bogor Ust. Dr. Muhammad Abror, M.Hum., al-Hafiz.

Tidak berapa lama, Mudir Pesantren K.H. Rahmat Hidayat, M.Pd. pun hadir dan mengajak ke ruang kantor SMP Islam Cahaya. Perbincangan selama hampir 30 menit membahas aneka seluk-beluk pengelolaan Madrasah Hifz Al-Qur’an. Sementara rombongan yang lain melihat-lihat komplek Pesantren. Kebetulan, saat itu juga sedang ada acara tasyakur khotaman al-qur’an bagi tujuh santri yang dihadiri keluarganya.

“Biasanya, penghafal al-Qur’an selalu berpuasa untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hafalannya. Sebab, bila cukup makan atau berlebih apalagi dengan menu enak, maka akan mengantuk dan berimbas pada hafalan. Begitu juga untuk suasana menghafal, diserahkan kepada santri akan lokasinya: ada yang di atas menara, di pojokan mesjid atau di pinggir jalan Raya sambil mengamati lalu lalang mobil yang lewat,” papar K.H. Rahmat Hidayat, M.Pd., Mudir Pesantren yang asli Cibungbulang.

Pertemuan silaturahmi secara formal kemudian diselenggarakan di salah satu ruang belajar di sebelah kantor. Pengurus Pesantren Terpadu yang hadir selain Pembina adalah Sekretaris Ust. Taufiqurrahman, M.Pd. dan dua Pembina Tahfiz Putra Ust. Yusuf Afandi, S.Pd. dan Ust. Abdus Syukur, S.Pd. serta panitia dan pengajar putri yang adalah alumni. Agenda acara pun diawali dengan Tilawat Ayat-ayat Suci Al-Qur’an oleh santri tuan rumah.

Acara dilanjutkan dengan sambutan dari tuan rumah, diawali ucapan selamat datang dari Sekretaris Pondok, dilanjut sambutan dari Pembina. Berikutnya adalah sambutan dari perwakilan rombongan tamu, diwakili oleh Naib Principal Akademik dan Mudir Madrasah Hifz Al-Qur’an Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia. Dalam kesempatan itu, dua sambutan memaparkan upaya Ahmadiyah dalam melestarikan Al-Qur’an.

Silaturahmi berakhir saat Dhuhur. Karena ada agenda lain di Ciseeng, rombongan kemudian berpamitan dan meninggalkan komplek Pesantren yang juga memiliki lembaga pendidikan umum setingkat SMP dan SMA dengan jumlah santri/santriwati mukim sebanyak 400 orang tersebut. Banyak hal yang bisa dipelajari dari hasil kunjungan ini untuk pengembangan Madrasah Hifz Al-Qur’an Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia di masa mendatang.[]

—o0o—

No Responses

Tinggalkan Balasan