Sedangkan untuk di Afdeling Tual yang membawahi Boven Digoel dan Merauke, jumlah pegawai Eropa hanya ada 2 orang. Jumlah pegawai dari daerah lain hanya ada 3 orang, 80 orang personel kepolisian, 27 satpam gubernemen dan tidak ada polisi swapraja. Artinya, jumlah seluruh pegawai pemerintah dan personel kepolisian serta lainnya hanya ada sebanyak 112 pegawai.
Dari data tersebut dapat diketahui –sebagaimana telah disebutkan di awal—bahwa, semakin maju suatu daerah, maka akan semakin banyak pegawai pemerintah dan personel kepolisian yang ditempatkan disana. Begitu juga, semakin terpencil suatu daerah, maka pegawai pemerintahan dan personel kepolisian pun jumlahnya hanya sedikit yang ditempatkan disana. Bila belum ada pusat pemerintahan, maka personel kepolisian pun belum ditugaskan disana. Biasanya, penempatan personel kepolisian mengikuti penempatan seorang Kepala Afdeling atau Onder Afdeling.
PENYIAPAN SARANA DAN PRASARANA: RUMAH KEPALA POLISI DAN BARAK
Seiring dengan pembentukan Afdeling atau Onder Afdeling baru, maka pembangunan sarana dan prasarana pun mulai dilakukan. Pembangunan itu meliputi rumah untuk kepala pemerintahan lokal (Hoofd van Plaatselijkbestuur), rumah komandan polisi (Woning detachement commandant), barak polisi (Politiebarak) dan rumah sakit (Het zieken-huis). Bahkan, sarana transportasi pun kemudian mulai dibangun, untuk menghubungkan kawasan tersebut dengan dunia luar.
Dalam catatan Belanda, untuk membuka kemajuan kawasan setempat terutama segi perekonomian, misalnya jalan yang menghubungkan antara Ayamaru dengan Teminabuan pun akhirnya mulai dibangun pada November 1958. Laporan itu menyebutkan demikian, “Voor de economische ontsluiting van het Ajamaroe gebied zal een weg nodig zijn van Teminaboean naar Ajamaroe. Met de voorbereiding van in 1956 worden begonnen. Het zieken-huis in Ajamaroe blinjft gehandhaafd. Het medische werk zal worden uitgebreid.”
Bila diperhatikan dari berbagai dokumen Belanda pada masa itu, di setiap tempat yang menjadi ibukota Afdeling atau Onder Afdeling pastilah dibangun sarana yang sama dan standar. Sarana pemerintahan itu meliputi rumah untuk kepala pemerintahan, rumah kepala polisi, barak polisi dan rumah sakit. Ini dapat kita temui di tiap tempat, seperti di Ayamaru, Teminabuan, Steenkool, Babo dan lokasi yang menjadi pusat pemerintahan lainnya di masa itu.
Lokasi yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan pusat keamanan biasanya berada di satu kawasan atau pintu masuk ke kawasan itu. Ini bisa kita lihat dari yang ada di Ayamaru (Maybrat), Teminabuan (Sorong Selatan), Babo dan Steenkool (Teluk Bintuni). Terkadang, komplek perkantoran atau perumahan pejabat dan aparat kepolisian dan keamanan berada di sekitar lapangan luas di kawasan itu. Atau, berada di satu garis lurus, meski berbeda posisi dan dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu jauh. Prinsipnya, semua sarana dan prasarana itu masih berada di satu kawasan.
Secara lengkap, laporan pembangunan sarana prasarana di seluruh Tanah Papua itu dapat dibaca dalam Zitting 1955-1956 (4349) Vaststelling van de begroting van Nederlands Nieuw Guinea voor het dienstjaar 1956. Di dalamnya dikemukakan rencana pembangunan sarana pemerintahan dan keamanan (kepolisian) serta rumah sakit di berbagai lokasi. Laporan setebal 28 halaman tersebut memuat rencana pembangunan dan kebutuhan material yang diperlukan di Manokwari, Ayamaru, Teminabuan, Sorong, Doom, Biak dan lokasi lainnya.
ANEKA KEGIATAN KEPOLISIAN DI TANAH PAPUA
Salah satu kegiatan personel kepolisian adalah melakukan patroli di wilayah tugasnya. Patroli itu biasanya dilakukan secara rombongan. Tujuannya, selain cipta kondisi, juga membuat database lokasi yang dikunjungi. Oleh sebab itu, laporan patroli biasanya dibuat lengkap dengan gambar foto-foto lokasi. Untuk kawasan yang dianggap masih asing dan terpencil serta belum ada perwakilan pemerintahan, biasanya patroli tidak masuk kesana.
Markas Kepolisian yang dokumentasi fotonya masih ada, di antaranya Korps Algemene Politie Detachement Steenkool di Afdeling West Nieuw Guinea. Pada tahun-tahun tersebut, Steenkool (artinya, batubara) menjadi ibukota Onder Afdeling Bintuni. Salah satu Inspektur Polisi (Inspecteur van Politie) yang pernah ditugaskan disana adalah A.E. Burer, yang pernah menerbitkan laporan patroli (Patrouilleverslag) periode 2-27 Februari 1959.
Related Posts

Menelusuri Jejak Pembentukan Kecamatan Paling Utara di Kabupaten Bogor

Mengenal Batu Tapak Cikodom, Gunung Sindur, Bogor

Gaungkan Tema Shalat di Ciater | Jejak Lokasi yang Dilewati Bujangga Manik Sang Resi Petualang

Bakda Riyadi: Tradisi Keramaian Kerajaan Majapahit yang Menjadi Lebaran

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul

No Responses