Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru, Maybrat, Papua Barat

Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru, Maybrat, Papua Barat
“Saya sering bertukar pikiran dengan Kawandake yang cerdas dan berani itu. Farok (guci saguer) yang indah hadiah dari dia ketika saya pergi, masih selalu di tempat terhormat di dalam almari buku saya. Kawandake serta-merta setuju dengan penghapusan kain Timor. Ketika bobot-bobot lain yang berpengaruh juga setuju, kelihatannya kebijakan sudah dapat diambil keputusan dengan suara bulat”

Jan Massink menyebutkan nama Kawandake, sebagai Bobot berpengaruh yang menyetujui penghapusan tradisi kain Timor. Tentu saja, pelafalan (pronounciation) antara orang pribumi dengan para penulis asing berbeda. Dalam bahasa Ayamaru disebut Hwaintake, sedangkan dalam tulisan Jan Massink dan para penulis Belanda lainnya disebut Kawandake. Ini bisa diterangkan, bahwa sebagaimana terjadi di Biak, pelafalan untuk istilah Tidore mengalami perubahan: kolano (menjadi korano), momole (mambri), gimelaha (dimara) dan seterusnya.

Begitu juga istilah Bobot, dalam analisa penulis, merupakan penyebutan yang keliru dari kata Bobato. Bobato sendiri dalam istilah Kesultanan Tidore merupakan suatu jabatan untuk pejabat di seberang lautan, yang jauh dari Pusat Kesultanan Tidore. Bobato biasanya berhubungan dengan pemerintahan, meskipun saat ini konotasinya lebih cenderung ke magis. Termasuk, penyebutan kitab Bobato yang biasanya banyak ditemukan di Pulau Seram dan lokasi lainnya di Maluku. Sebenarnya itu bukanlah kitab magis, melainkan kitab yang berisi tata pemerintahan dalam huruf Arab pegon.

Ini semakin memperkuat posisi Abraham Kambuaya, bahwa sebenarnya, ia memang seorang raja yang ditetapkan oleh Kesultanan Tidore beserta dua raja lainnya di Teminabuan. Oleh sebab itu, gelar raja melekat pada namanya. Begitu juga sebutan Bobato, yang merupakan istilah khusus Kesultanan Tidore, untuk orang yang berpengaruh dalam urusan pemerintahan, melekat dalam kepribadiannya. Sosok Bobot atau Bobato memang sangat dihormati.

Jan Massink sendiri dengan terus terang menyebutkan, bahwa Bobot Kawandake adalah “Raja dari Kambuaya dan bobot paling berkuasa disana. Ia adalah tokoh yang ramah dan berfikiran maju, yang tidak takut menghadapi zaman baru yang tidak takut menghadapi zaman baru dan sudah tentu mengangankan kalau bukan meramalkan, bahwa sesudah “revolusi kain Timor” ia juga masih dapat mempertahankan pengaruhnya.”

Mengenai kedekatannya dengan Raja Bobot Kawandake dari Kambuaya itu, Jan Massink menulis, “Saya sering bertukar pikiran dengan Kawandake yang cerdas dan berani itu. Farok (guci saguer) yang indah hadiah dari dia ketika saya pergi, masih selalu di tempat terhormat di dalam almari buku saya. Kawandake serta-merta setuju dengan penghapusan kain Timor. Ketika bobot-bobot lain yang berpengaruh juga setuju, kelihatannya kebijakan sudah dapat diambil keputusan dengan suara bulat”.

Kedekatan antara Jan Massink dengan Raja Bobot Kawandake itu salah satunya karena perbedaan usia yang terpaut tidak jauh. Bila saat itu (1954), usia Raja Bobot Kawandake adalah 34 tahun, maka usia Jan Massink masih sekitar 28 tahun. Artinya, ada selisih sekitar enam tahun di antara mereka berdua. Dan, mungkin, hal inilah yang menyebabkan hubungan di antara keduanya –Kontrolir/HPB Ayamaru dengan Raja Kambuaya—tersebut dapat terjalin dengan baik.

Dengan posisinya sebagai Raja, Hwaintake Abraham Kambuaya juga dapat mengambil keputusan untuk melakukan pembangunan-pembangunan. Tercatat di atas batu nisannya di komplek Tugu Pendaratan Injil di Kambuaya itu, bahwa Raja Kambuaya itulah yang memprakarsai pembangunan jalan tembus antara Teminabuan dengan Ayamaru (1958) dan Ayamaru ke Klamono/Sorong (1961). Dengan upaya ini, kemajuan Ayamaru menjadi semakin pesat.

PENUTUP

Menelusuri jejak Jan Massink, Kontrolir Dutch Nieuw Guinea di Onderafdeling Ayamaru, kawasan Kepala Burung (Vogelkop, Papua Barat sekarang) itu memberikan semangat bagi penulis. Seorang pemuda berusia 25 tahun, yang baru saja lulus dari mempelajari Indologi di Belanda, ternyata berkeinginan menjadi pegawai negeri sipil (ambtenaar) di Dutch Nieuw Guinea. Selama 20 bulan mendapat tugas sebagai adspirant-controleur, ini memang sesuai dengan kualifikasinya sebagai alumni Indologi.

Empat tahun kemudian karirnya melonjak pesat. Tahun 1954, Jan Massink diberi kepercayaan sebagai kontrolir di Onderafdeling Ayamaru. Disanalah, ia mulai memahami begitu pentingnya antropologi. Bahkan, Jan Massink sempat bergaul dengan Prof. H.G. Barnett, seorang profesor antropologi dari Universitas Oregon, Amerika Serikat. Selama beberapa tahun, Barnett melakukan penelitian antropologi di kawasan Ayamaru (Ajamaroe gebied).

Jan Massink juga melakukan pendekatan yang sangat baik kepada Raja Bobot Hwaintake Abraham, raja muda Kambuaya yang dilantik oleh Kesultanan Tidore yang juga masih seumuran dengan dirinya. Raja Bobot Hwaintake atau Kawandake tersebut menjadi teman bincang yang mengasikan bagi Jan Massink. Melalui pengaruh Raja Bobot ini juga, tradisi kain Timor dapat dihapuskan pada tahun 1954 itu. Ini terjadi bukan saja di Ayamaru, melainkan juga di Teminabuan dan kawasan sekitarnya hingga Kebar (Amberbaken). []

Catatan:
Selesai ditulis pada Selasa (28/6) malam pkl. 22:31 WIT di Perumahan Arfai Indah Permai, Anday, Manokwari, Papua Barat.

Disusun oleh:
Mln. Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Pembina Nasional
Forum Mahasiswa Studi Agama-agama se-Indonesia (FORMASAA-I)
Manokwari, Papua Barat

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan