Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru, Maybrat, Papua Barat

Mengenang Kembali Revolusi Kain Timor di Ayamaru, Maybrat, Papua Barat
“Saya sering bertukar pikiran dengan Kawandake yang cerdas dan berani itu. Farok (guci saguer) yang indah hadiah dari dia ketika saya pergi, masih selalu di tempat terhormat di dalam almari buku saya. Kawandake serta-merta setuju dengan penghapusan kain Timor. Ketika bobot-bobot lain yang berpengaruh juga setuju, kelihatannya kebijakan sudah dapat diambil keputusan dengan suara bulat”

Mengenai Ayamaru, Jan Massink menggambarkan dengan kata-katanya sendiri sebagai berikut: “Ayamaru adalah onderafdeling yang menarik, terutama karena keragaman alam dan penduduknya. Secara garis besar, kawasan ini terdiri atas dua bagian. Pertama, daerah pantai yang datar dengan sungai-sungai lebar, pohon sagu, dan penduduk yang sudah lama berada di bawah pemerintahan, telah menjadi Kristen dan berpusat di desa-desa yang besar. Kedua, daerah pegunungan dengan segala fenomena daerah karst: sungai yang deras, sering di bawah tanah, gua-gua, danau dengan air yang kebiruan dan genangan air.”

Pos Ayamaru didirikan pada 1950 oleh Kontrolir Piet Merkelijn. Setelah Onderafdeling Bintuni dipisah (yang terlaksana pada 1952), maka letak ibukotanya yang lama, Inanwatan, tidak berada di tengah-tengah lagi. Selain itu konsentrasi penduduk yang terbesar terdapat di sekitar danau-danau Ayamaru (Ajamaroe meren). Hal ini menyebabkan ibukota Onderafdeling Ayamaru kemudian dipindahkan ke Kampung Teminabuan (1954). Sedangkan untuk di Ayamaru sendiri direncanakan akan ditempatkan seorang adspirant-controleur. Hal itu baru terlaksana saat Jan Massink digantikan oleh Jan Dubois pada September 1955, hampir bersamaan dengan tibanya Max Lapre, adspirant-controleur di Ayamaru.

Menurut Jan Massink, saat dirinya dimutasi dari Ayamaru ke Teminabuan, Mei 1955, diperlukan setidaknya 16 kuli angkut peti uang. Perjalanan itu melewati Kampung Sauf, Kamak, Wehali dan Skendi. Saking hafalnya jalanan setapak antara Ayamaru ke Teminabuan atau sebaliknya, Jan Massink menghitung ada sebanyak 38 kali melakukan perjalanan kaki dengan waktu tempuh selama satu atau dua hari lamanya. Dalam kata-katanya sendiri, Jan Massink “melewati jalan setapak sepanjang 35 kilometer, melintasi perbukitan dan melewati lembah-lembah yang sesudah hujan lebat kadang-kadang banjir hingga sebatas leher”.

JAN MASSINK DAN REVOLUSI KAIN TIMOR DI AYAMARU

Hingga tahun 1950, masalah kain Timor di Ayamaru masih belum banyak diketahui. Tetapi sejak itu, tak terhitung banyaknya publikasi yang diterbitkan. Bahkan, ada tiga disertasi yang sebagian membahas mengenai masalah ini: J.M. Schoorl (1979), J. Miedema (1984) dan P.H.W. Haenen (1991). Ketiga disertasi tersebut menjadi petunjuk awal yang komprehensif mengenai fenomena yang khas di seluruh Kepala Burung (Vogelkop) khususnya di Danau Ayamaru.

Kain Timor –terutama dari Kepulauan Sunda Kecil dan Maluku—melalui jalur perdagangan dari Jawa ke Dutch Nieuw Guinea sudah sejak lima ratus tahun yang lalu terlihat di pantai selatan Kepala Burung (Vogelkop), yang ditukarkan dengan budak belian, burung cenderawasih, hasil hutan dan lainnya.

Menurut Jan Massink, dengan mengutip Schoorl, bahwa kain Timor sudah dibawa oleh raja Ternate dan Tidore “dari pangkalan mereka di pantai selatan berdagang dengan penduduk pedalaman”. Hal ini terjadi sejak paruh kedua abad XVII, dimana Tidore sudah melakukan perdagangan di pantai utara Papua dan di pantai selatan dari Ternate, Seram, Keffing dan Gorom.

Menurut Jan Massink, ada dua jenis kain Timor: yang sakral dan yang profan. Dalam bahasa Dr. Haenen, disebut dengan bahasa yang puitis, erfdoeken (kain pusaka) dan zwerfdoeken (kain jalan). Kain pusaka (bahasa Maybrat: wan) memiliki fungsi magis-religius. Kain ini biasanya dimiliki turun-temurun (dari ayah sebagai anak laki-laki tertua turun kepada anak laki-lakinya yang tertua) dan dimanfaatkan untuk menjalin kontak dengan leluhur. Biasanya terlaksana di rumah tengkorak saat berjangkitnya suatu penyakit tertentu.

Kain pusaka juga dapat berfungsi sebagai jaminan atas kasus pembunuhan, baik disengaja maupun tidak disengaja. Pihak keluarga korban mengambil kain pusaka itu dengan harapan, bahwa keluarga pelaku dapat segera membayar ganti rugi. Selain itu, kain pusaka juga dianggap memiliki kekuatan supranatural, terutama dalam hubungan suami istri. Kain Timor ini melambangkan juga kekuatan vitalitas laki-laki untuk mendapatkan jodoh, juga bagi seorang perempuan agar dapat mengimbangi pasangannya.

Karena faktor-faktor tertentu, akhirnya tradisi kain Timor di Ayamaru kemudian ditiadakan. Hal ini setelah pihak yang dianggap memiliki pengaruh disana, yaitu “Bobot” atau “Popot” menyetujui penghapusan tradisi ini. Sebagai kontrolir Ayamaru, Jan Massink saat itu mengunjungi Kampung Kofait –berjarak beberapa jam dari Ayamaru—dan disana muncul celetukan bahwa banyak percekcokan antar masyarakat diakibatkan oleh kain Timor. Saat itu, Jan Massink nyeletuk, “Kenapa tidak kalian hapus saja kain Timor itu?”

ZIARAH KE MAKAM RAJA BOBOT HWAINTAKE ABRAHAM KAMBUAYA

Dalam kunjungan ke Ayamaru, penulis juga berkesempatan mengunjungi Tugu Pendaratan Injil pertama di Ayamaru. Lokasinya hanya beberapa menit saja dari Kampung Mefkajim, yaitu di Kambuaya. Selain patung Yesus, juga ada enam patung lainnya, yaitu patung Pdt. Ruben Rumbiak dan kelima warga Ayamaru yang pertama dibaptis menjadi Kristen. Di sebelah Tugu Pendaratan Injil itu terdapat makam Raja Bobot Hwaintake Abraham Kambuaya (1920 – 5 Mei 1998). Menurut penulis, inilah Bobot berpengaruh yang namanya pernah disebut oleh Jan Massink dalam Revolusi Kain Timor 1954 itu.

Tags:

No Responses

Tinggalkan Balasan