“Khususnya di Manokwari, momen Idul Fitri dan momen hari besar Islam lainnya, bahkan momen agama lainnya khususnya Kristen, dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring rabtah dan pertabligan. Paskah, Natal, Tahun Baru, dirayakan dengan antusias. Penulis biasa diundang dan hadir dalam acara-acara tersebut guna membuka jejaring rabtah.”
WHATSAPP (WA) BUSINES DAN JAWABAN OTOMATIS
Sehak menggunakan aplikasi WhatsApp (WA) Business, Mubalig Daerah Papua Barat dapat memanfaatkan tampilan Kategori dengan materi-materi tablig. Begitu juga jawaban otomatis (greeting messages), sangat membantu dalam hal tertentu. Menjawab pesan Ucapan Idul Fitri, misalnya. Tinggal disetting sesuai keinginan, langsung menjawab sama setiap ada pesan masuk.
Sebagai platform khusus untuk promosi, WA Business memang memerankan fungsinya dengan baik. Kita bisa memuat promosi Jemaat atau materi lainnya lengkap dengan gambar dan tulisan. Bahkan, bila pun kita ingin menjual suatu produk tertentu, tinggal beri saja keterangannya termasuk harga jualnya.
Dalam kesempatan Idul Fitri 1444 H, banyak pesan masuk berisi ucapan Selamat Idul Fitri 1444 H. Secara otomatis, ucapan dari berbagai rekan/sahabat/kolega tersebut langsung dijawab oleh sistem dalam WA Business. Jadi, kita tidak perlu menjawab satu persatu pesan yang masuk itu. Kecuali bila kita ingin menambahkan pesan lainnya.
Saat “pesan salam” (greeting messages) WA Business menjawab pesan dari Pdt. Elsa Novita Tuarey, dalam pesan otomatis itu ada tercantum alamat Manokwari, Papua Barat. Ternyata, menurut Pdt. Elsa dari Gereja Kristen Pasundan (GKP) Depok itu, bahwa ada pamannya yang juga seorang pendeta melayani di salah satu gereja di Manokwari.
Tidak menunggu lama, Penulis pun meminta nomor kontaknya. Ternyata pendeta itu bernama Pieter Tauran. Membaca nama belakangnya, dapat dipastikan bahwa yang bersangkutan berasal dari Kairatu di Kab. Seram Bagian Barat (SBB), Maluku. Marga Tauran itu tepatnya banyak terdapat di Kampung Kamarian.
23 TAHUN DI MANOKWARI
“Saya sudah 23 tahun tinggal di Manokwari, Pak Ustad. Sejak tahun 2000 saya pindah ke Manokwari dari Maluku. Sebelumnya lagi, saya di Dock 4 Jayapura. Saya menggembala Gereja Bethel Indonesia (GBI) Dock 4 Jayapura,” ujar pendeta yang kini tinggal di Reremi, Manokwari Barat itu “Kalau Pdt. Elsa itu keponakan saya. Ibunya adalah kakak kandung saya.
Pdt. Pieter ternyata baru saja menghadiri acara Open House di rumah Wakil Bupati Manokwari di Prafi. Saat menelpon tadi, posisinya sudah di Manokwari lagi. “Saya akan keliling lagi untuk silaturahmi Idul Fitri, Ustad. Bila memungkinkan, saya juga akan berkunjung ke tempat Ustad,” katanya via sambungan telepon selulernya.
Sekedar diketahui, bahwa sejak konflik yang pecah di Maluku pada 19 Januari 1999 lalu, banyak orang Kristen dari Maluku yang disapora ke Tanah Papua. Selain untuk mencari keamanan, ternyata dalam perkembangannya mereka juga mencari penghidupan yang lebih baik dan menyebarkan agama Kristen di Tanah Papua.
Sayangnya, ada ekses yang muncul dengan banyaknya pendeta atau gereja Maluku masuk ke Tanah Papua. Dalam catatan International Crisis Group (ICG) mengenai Indonesia: Ketegangan Antar Agama di Papua, pada Asia Report No. 154, 16 Juni 2008 disebutkan dengan jelas salah satu faktornya. ICG ini berada di bawah PBB.
“Tidak hanya gereja-gereja baru yang menimbulkan masalah; sebuah aliran radikal juga mulai muncul di dalam GPI di sekitar waktu yang sama. Dulunya GPI bernama Gereja Protestan Maluku. Jemaahnya sudah lama ada di Kaimana, dibawa oleh orang-orang Maluku yang bekerja sebagai birokrat atau guru setelah integrasi Irian Barat tahun 1969. Hubungan dengan Muslim setempat pada umumnya baik-baik saja, sampai meletusnya konflik di Ambon tahun 1999 dan tak lama kemudian di Tual.”
Dalam Laporan ICG itu juga, Gereja Bethel Indonesia (GBI) Dock 4 Jayapura disebut sebagai salah satu faktor pemicu ketegangan antar agama, khususnya di internal Kristen di Papua (dan Papua Barat). GBI pernah mengadakan Kebaktian-kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Papua.
Gereja Bethel Indonesia (GBI) dan Gereja Bethani adalah dua pengorganisir KKR yang paling aktif. Pada bulan April 2008, GBI ROCK (singkatan dari Representatives of Christ Kingdom/ Utusan Kerajaan Kristus) mengadakan sebuah KKR di Sorong, menghadirkan pendeta Timotius Arifin, seorang “teologis sukses” dari Surabaya.
Tokoh Gereja Bethel lain yang aktif mengadakan KKR di Jayapura dan yang paling akhir di bulan Februari 2008 di Sorong, adalah pendeta Kirenius Bole dari Yayasan Filadelfia Indonesia (YFI) yang berbasis di Jakarta. Bole adalah seorang pendeta dari Jayapura yang juga sekretaris YFI.
Pada bulan Februari 2007, bekerja sama dengan Pondok Daud (kelompok yang menurut seorang cendekiawan Protestan digambarkan sebagai “karismatik ekstrim”), ia mengadakan Kebaktian Pujian dan Penyembuhan Ilahi di lapangan Papua Trade Centre di Entrop, Jayapura.
Ribuan orang berbondong-bondong datang untuk mendengar tim suami istri pendeta Jacob B. Sumbayak dan pendeta Susan Sumbayak, pendiri yayasan Pondok Daud.119 Kelompok ini menjadi topik berita utama di tahun 2005 di sebuah majalah mingguan terkemuka yang membahas apa yang mereka sebut sebagai praktek-praktek pemujaan.
MEMPERLUAS SILATURAHMI DI KOTA INJIL MANOKWARI
Sejak menjejakkan kaki di Papua Barat pada 2 Agustus 2020 dan bahkan sebelumnya, Penulis telah memiliki komunikasi dengan berbagai tokoh di Tanah Papua. Berkat hal ini, lebih memudahkan dalam upaya rabtah berikutnya. Meskipun baru pertama ditugaskan di Papua Barat, tetapi jejaring pertemanan sudah banyak terdapat di seluruh Tanah Papua.
Khususnya di Manokwari, momen Idul Fitri dan momen hari besar Islam lainnya, bahkan momen agama lainnya khususnya Kristen, dapat dimanfaatkan untuk memperluas jejaring rabtah dan pertabligan. Paskah, Natal, Tahun Baru, dirayakan dengan antusias. Penulis biasa diundang dan hadir dalam acara-acara tersebut guna membuka jejaring rabtah.
Hari Raya Idul Fitri sebagai kelanjutan dari Puasa Ramadhan, menjadi momen yang efektif untuk menjalin silaturahmi. Selain lembaga, perorangan pun biasanya melakukan “open house”. Ini dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk memperbanyak dan meningkatkan kualitas perteman. Sebab, pada momen itu juga terkadang kita berjumpa dengan orang-orang yang sudah dikenal sebelumnya.
Disusun oleh:
Mln. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Mubalig Daerah Papua Barat
Related Posts

Kunjungan Akademik Darjah Tsalisah | Praktikum Tingkatkan Pemahaman Akademik, Tablig dan Rabtah

Kunjungan Akademik Darjah Tsalisah | Praktikum Tingkatkan Pemahaman Akademik, Tablig dan Rabtah

Kunjungan Akademik Darjah Tsalisah | Praktikum Tingkatkan Pemahaman Akademik, Tablig dan Rabtah

Demokrasi dalam Tinjauan Teoritis Tiap Forum Kajian

Lomba Tumpeng Dilaksanakan oleh Hostel, Membiasakan Menjadi Chef Setara Hotel

No Responses