Perjumpaan dengan Para Pengemis di Qadian, Darul Aman

Perjumpaan dengan Para Pengemis di Qadian, Darul Aman

یہ ہیں انڈونیشیا کے ایک امیر احمدی مشنری مولانا راک صاحب جو حضرت محمد صلی اللہ علیہ وسلم کی پیشگوئی کے مطابق امام مہدی کے نام پر رقم تقسیم کریں گے …

“Beliau adalah Maulana Rakeeman, seorang Mubalig Ahmadiyah asal Indonesia yang kaya, yang akan membagi-bagikan harta sesuai nubuatan Nabi Muhammad saw atas nama Imam Mahdi ….”

PADA akhir Desember 2014, Penulis mendapat karunia untuk melakukan perjalanan ke Qadian, Punjab (India) dalam rangka menghadiri Jalsah Salanah ke-123. Bersama sekitar 40 orang Ahmadi Indonesia lainnya, perjalanan itu diwarnai suka dan duka.

Suka, karena perjalanan itu dilakukan secara bersama-sama. Sehingga bila ada kendala, dapat diselesaikan secara bersama-sama. Masalah bahasa (komunikasi dengan pihak Imigrasi di India), berat barang bawaan hingga tempat menginap di Qadian.

Duka, karena dalam perjalanan tersebut ada saja kendalanya. Apalagi, pada tahun 2013 itu, perjalanan masih menggunakan bus dari New Delhi ke Qadian. Ketiadaan air di tempat pemberhentian (rest area) di kawasan pegunungan dan udara dingin bulan Desember menambah beban perjalanan.

Namun, semua itu terbayar lunas setelah tiba di Qadian. Darul Aman yang disematkan pada Qadian, benar-benar memberikan semacam keamanan dan kenyamanan. Tidak ada lagi keluh kesah dan beban setelah menginjakkan kaki di tempat kelahiran seorang murid sejati dari Nabi Muhammad saw tersebut.

Menapaki lorong-lorong berdebu yang pernah dilalui oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. lebih seabad lalu, berteduh di bawah pohon mangga yang pernah ditanam oleh beliau a.s. dan para sahabat, serta terbenam beribadah di Masjid Mubarak dan Masjid Aqsa serta berdoa di Bayt al-Du’a dan Bayt al-Dzikr, adalah pengalaman yang tak pernah terlupakan.

Oleh sebab itu, ketika 13 tahun kemudian Hadhrat Khalifatul Masih V a.t.b.a. menyampaikan Khotbah Jumat tgl. 26 Juni 2026 terkait kepedulian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kepada para pengemis di Qadian, kenangan itu membuncah kembali dalam ingatan. Pengalaman berinteraksi dengan para pengemis dari Hindu dan Sikh itu muncul kembali.

MENGINAP DI SARA-E-WASIM DAN BAITUL WAHID QADIAN

Awalnya, rombongan Indonesia ditempatkan di Gedung Sara-e-Wasim atau diarahkan menempati Guesthouse milik Jemaat Inggris di Qadian. Namun karena pertimbangan tertentu dan jumlahnya lumayan banyak, akhirnya ditempatkan di Baitul Wahid Qadian. Menilik namanya, memang bangunan ini masih ada kaitan dengan Maulana Abdul Wahid, sebab dibangun oleh Dr. Ir. Abdul Qoyyum Tjandranegara, S.E., M.Eng. Lokasinya lumayan relatif jauh dari kompkek Darul Masih.

Meskipun jauh, shalat lima waktu dan shalat tahajud dapat ditunaikan dengan lancar. Padahal, saat itu jalanan yang dilalui masih terbilang riskan. Selain sepi dan gelap, juga banyak anjing galak yang berkeliaran. Namun, karena selalu berombongan, semua itu dapat dilalui dengan aman.

Begitu juga, meskipun lokasinya agak jauh dari Darul Masih, untuk keperluan jasmani, ada sebuah warung yang biasanya buka setiap saat. Warung itu milik pengkhidmat Jemaat yang menjual bukan hanya barang kelontong melainkan juga berbagai jenis makanan dan minuman khas seperti nasi briyani dan cae.

BERKELILING QADIAN DAN BERTEMU PARA PENGEMIS

Seperti disampaikan oleh Hudhur V a.t.b.a. dalam Khotbah Jumat itu, di Qadian memang banyak berkeliaran pengemis terutama pada saat ada acara Jalsah Salanah. Selain yang sendirian, adakalanya mereka bergerombol lebih dari dua atau tiga orang di beberapa titik di sekeliling Qadian.

Ketika Penulis berkeliling Qadian bersama almarhum Mln. Ghulam Wahyiddin, S.Aj., penulis melewati seorang pengemis perempuan dan anaknya yang masih kecil. Lokasinya di dekat Gedung Sara-e-Wasim atau sekitar 300 meter dari Langgar Khanah atau komplek Darul Masih.

Penulis kemudian memberikan Rs 10,- (saat itu satu rupees setara dengan Rp 200,-). Dalam benak Penulis, uang Rs 10,- (sepuluh rupees) itu terbilang kecil ketika dikonversi ke dalam rupiah Indonesia (setara hanya Rp 2.000,-). Tetapi, Penulis menjadi kaget karena melihat mata pengemis itu berbinar saking gembiranya.

Pengemis perempuan yang ternyata beragama Hindu itu mengucapkan terimakasih dan menyampaikan bahwa hanya dengan Rs 1,- atau Rs 5,- pun sebenarnya sudah cukup banyak. Mendengar itu, Mln. Ghulam Wahyuddin kemudian menyampaikan, bahwa :

یہ ہیں انڈونیشیا کے ایک امیر احمدی مشنری مولانا راکیمان صاحب جو حضرت محمد صلی اللہ علیہ وسلم کی پیشگوئی کے مطابق امام مہدی کے نام پر رقم تقسیم کریں گے …

“Beliau adalah Maulana Rakeeman, seorang Mubalig Ahmadiyah asal Indonesia yang kaya, yang akan membagi-bagikan harta sesuai nubuatan Nabi Muhammad saw atas nama Imam Mahdi ….”

Mendengar ucapan yang sebenarnya bernada satir dari Mln. Ghulam Wahyuddin tersebut, akhirnya perempuan pengemis itu memanggil teman-temannya yang memang tidak terlalu jauh bergerombol di sekitar sana. Akhirnya Penulis pun membagikan uang kepada sekitar 10 orang pengemis lainnya: ada yang Rs 5,- ada yang Rs 10,-

Ini merupakan salah satu keberanian dan kepiawaian Mln. Ghulam Wahyuddin dalam hal bertablig, kapan pun dan di mana pun. Dengan ucapan menohok, beliau mengatakan, “Kami yang jauh di Indonesia bisa mengenali kebenaran Pendiri Ahmadiyah yang berasal dari Qadian ini, sedangkan kalian yang lahir disini luput mengenali kebenaran beliau.”

NILAI MATA UANG YANG STABIL

Setelah menganalisa nilai mata uang rupees India (Rs) dan membandingkan dengan rupiah Indonesia (Rp), Penulis kemudian menyadari bahwa meskipun nominalnya lebih kecil, mata uang rupees di Qadian ternyata sangat berharga. Ini Penulis buktikan secara empiris dari beberapa peristiwa.

Ketika sarapan pagi di warung pinggir jalan dekat komplek Darul Masih, Penulis memesan dua butir telor kampung rebus, garam, _pekorre_ (bakwan khas India) dan cae. Bila minta tambah cae satu cangkir lagi, harganya tidak lebih dari Rs 5,- (setara Rp 1.000,-). Bila di Indonesia, mungkin harganya sudah Rp 20.000,- alias sebesar Rs 100,- (seratus rupees) alias 20 kali lipatnya.

Ketika pulang dari kunjungan ke Hoshiarpur dan Ludhiana, sebagai tips untuk sopir pemuda Sikh bernama Gurpreet Singh, Penulis menghadiahi Rs 100,- (seratus rupees). Nampak pemuda berpostur tegap tapi berjiwa lembut itu berkaca-kaca dan mengatakan, bahwa sejak saat itu dia menganggap Penulis adalah saudaranya. Bila ke Qadian lagi, kontak saja, kata dia.

Begitu juga ketika diantar menggunakan mobil dari Qadian ke Bandara Internasional Indira Ghandi New Delhi dan isi bensin di perjalanan, Penulis menanyakan apakah uang yang diberikan cukup untuk bensin pulang-pergi sekitar 10 jam dan makan supir. Dia menjawab, bahwa uang itu lebih dari cukup. Padahal dalam perhitungan menggunakan mata uang Rupiah Indonesia, uang itu terlihat kecil sekali.

“Disini (India), sejak puluhan tahun yang lalu, bensin harganya tetap Rs 55,-/liter (setara Rp 11.000,-). Jadi uang yang diberikan itu sudah lebih dari cukup untuk pulang-pergi dan makan di perjalanan. Bahkan, masih ada banyak lebihnya.”

Dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga didapati, bahwa upah bulanan pekerja percetakan di Qadian pada masa itu sebesar Rs 15,- (lima belas rupees). Bila sesuai dengan upah minimum regional (UMR) saat ini –misalnya– sebesar Rp 3.000.000,- maka nilai Rs 1,- saat itu setara dengan Rp 200.000,- atau £ 11,- (sebelas Poundsterling Inggris).

Negeri India dianggap beruntung karena Pemerintah menerapkan pengawasan harga termasuk untuk barang yang kecil semisal penganan ringan (chiki). Ada batas harga bawah dan atas, yang oleh pedagang bisa diatur.

Misalnya, suatu barang harga terendahnya dari Pemerintah adalah Rs 2,- sedangkan tertinggi Rs 5,- Maka, pedagang tidak boleh menjual di bawah itu atau di atas itu. Mereka boleh menjual dengan harga di antaranya. Bila diketahui melakukan pelanggaran, Pemerintah akan mencabut ijin usaha dagangnya.
—o0o—

Oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan*)

*) Penulis adalah Mubalig Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia untuk Daerah Sulawesi Selatan 01. Sebelumnya pernah ditugaskan di Salatiga (2003-2005), Kebayoran (2017-2018), Maluku (2018-2020) dan Papua Barat (2020-2023). Sebagian besar masa pengkhidmatannya dilakukan di Jamiah Ahmadiyah Indonesia (2005-2018 dan 2023-2026).

No Responses

Tinggalkan Balasan