Masroor Library – Sebenarnya dengan melihat sepintas saja orang dapat menilai bahwa Ahmadiyah itu adalah golongan Islam yang setia kepada agamanya, karena:
- Dimana pun orang Ahmadiyah berada senantiasa menegakkan tauhid, meski pun mereka berada di tengah-tengah komunitas musyrik, Nashrani, bahkan atheis sekali pun.
- Di mana pun orang Ahmadi berada senantiasa membaca dan mengajarkan Al-Quran, bahkan Jemaat ini mempunyai program untuk menterjemahkan dan mentafsirkannya ke dalam 100 bahasa, kini sudah diterbitkan dalam 62 bahasa.
- Di mana pun komunitas Ahmadiyah berada mereka akan membangun masjid untuk dijadikan tempat beribadah menurut ketetapan kitab suci Al-Quran, Sunnah Nabi Muhammad saw dan Ijma’ para Sahabat yang mulia radhiyallahu ‘anhum.
Adapun masjid-masjid yang telah dibangun Ahmadiyah adalah terbuka dan dapat digunakan oleh setiap orang Islam, meskipun bukan dari golongan Jemaat Ahmadiyah, karena masjid itu dibangun sebagai rumah Allah ta’ala. Oleh karena itu masjid-masjid Ahmadiyah tidak diberi nama masjid Ahmadiyah, tapi diberi nama sesuai dengan apa-apa yang ada dalam Islam, misalnya:
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Yogyakarta diberi nama “FADHLI UMAR”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Kebayoran Lama, Jakarta diberi nama “AL-HIDAYAH”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Surabaya diberi nama “AN-NOOR”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Medan diberi nama “MUBARAK”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Bandung diberi nama “MUBARAK”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Amerika diberi nama “BAITUR RAHMAN”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Kanada diberi nama “BAITUL-ISLAM”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Inggris diberi nama “BAITUL-FUTUH”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Swiss diberi nama “MAHMUD”
- Masjid Jemaat Ahmadiyah di Australia diberi nama “BAITUL-HUDA” dan seterusnya.
Pendek kata, masjid-masjid Ahmadiyah yang tersebar di 190 negara terbuka untuk umat Islam dari golongan apa saja.Bahkan, Masjid Nabawi yang telah didirikan Nabi Muhammad saw saja pernah beliau tawarkan kepada kaum Nashrani Najran untuk mereka gunakan sebagai tempat kebaktian mereka.
Namun, perlu diingat bahwa masjid itu harus bersih, aman, kegiatannya dapat berjalan dengan tertib dan ada yang bertanggung jawab, maka perlu ada pengurus masjid. Pengurus inilah yang mengatur jadwal, muadzin, imam dan khathib dll yang berkaitan dengannya. [Sumber: Memahami Ahmadiyah Tidak Bermakmum ke Ghair Ahmadi- goes]
Related Posts

Kunjungi Daerah Lampung | Terjebak Hujan Lebat, Jalanan Rusak dan Harmonisasi Beragama

Lokasi PT3L 2025 di Sumatera Selatan | Bergerak dari Pematang Jaya hingga Lahat

Program PT3L 2025 | Merasakan dan Membiasakan Menjadi Mubalig dalam Satu Bulan

Nuklir dan Potensinya | Menyelami Dunia Partikel dan Tantangannya

10 Syarat Munazirat Mazhabiyyah dan Korelasinya dengan Kualitas Mahasiswa Jamiah

No Responses