Kisah Nabi Adam dan Iblis— seorang jin yang menolaknya karena kesombongan —merupakan kisah yang dikenal luas, baik di kalangan umat Muslim maupun non-Muslim. Iblis, yang termasuk golongan jin, menolak untuk mengakui Adam, sementara para malaikat mematuhi perintah Tuhan dan bersujud. (Surah al-Baqarah, Bab 2: Ayat 31-35; Surah al-A‘raf, Bab 7: Ayat 12-19) Iblis berdalih bahwa karena dirinya diciptakan dari api, sedangkan Adam AS diciptakan dari tanah liat, maka ia merasa lebih unggul: “Ia berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah liat.’” (Surah Sad, Bab 38: Ayat 77)
Al-Qur’an juga menyatakan bahwa jin diciptakan dari api: “Dan Dia menciptakan jin dari nyala api” (Surah ar-Rahman, Bab 55: Ayat 16), dan bahwa mereka telah ada sebelum manusia: “Kami menciptakan manusia dari tanah liat kering yang berbunyi, yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan jin telah Kami ciptakan sebelumnya dari api angin yang panas.” (Surah al-Hijr, Bab 15: Ayat 27-28)
Kisah tentang Adam dan Iblis, yang disebutkan dalam beberapa bagian Al-Qur’an, memunculkan pertanyaan-pertanyaan penting. Apa, atau siapakah, jin itu? Apa maksudnya bahwa mereka diciptakan dari api, sementara manusia diciptakan dari tanah liat? Dan apa makna dari keberadaan jin sebelum Adam AS?
Siapa dan apakah ‘jin’ itu?
Selama kita belum memahami makna sebenarnya dari kata ‘jin’ dan karena ini merupakan istilah bahasa Arab, selama kita belum memahami akar katanya serta kata-kata yang diturunkan darinya—maka topik ini akan tetap menjadi misteri bagi kita. Al-Qur’an menegaskan keberadaan jin, namun pertanyaan utama yang perlu kita jawab sekarang adalah: sebenarnya apakah mereka itu?
Istilah ‘jin’, secara linguistik, dapat berfungsi baik sebagai nama khusus maupun istilah umum. Secara bahasa, segala sesuatu yang menyembunyikan sesuatu yang lain, menutupi, atau mengaburkannya, dianggap sebagai ‘jin’. Demikian pula, segala sesuatu yang berada dalam kegelapan atau tersembunyi dari pandangan juga dianggap sebagai ‘jin’.
Perlu diingat bahwa kata ‘jin’ tidak selalu memiliki satu makna yang tetap. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab, akar kata j-n-n menunjukkan makna penyembunyian. Oleh karena itu, kata-kata berikut ini diturunkan dari akar kata yang sama, dan semuanya mengandung konotasi penyembunyian:
(i) junnah: perisai yang menyembunyikan seseorang;
(ii) janin: anak yang belum lahir yang tersembunyi di dalam rahim.
(iii) junun: suatu keadaan yang menutupi akal seseorang. (iv) *jinn*: makhluk yang tersembunyi dari pandangan mata manusia. (*Haqaiq-ul-Furqan*, Surah al-Jinn, Bab 72: Ayat 2)
“Kata jinn,” sebagaimana dijelaskan oleh Hazrat Khalifatul Masih V, “juga digunakan untuk menyebut perempuan yang berhijab atau tertutup. Kata ini juga digunakan untuk merujuk pada para pemimpin atau kalangan elite yang tidak bergaul dengan masyarakat umum. Selain itu, istilah ini juga digunakan bagi kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil secara geografis dan terisolasi dari dunia luar.” (“Siapa atau apakah jinn itu?”, alhakam.org, 10 Maret 2023)
Jika kita merujuk pada Al-Qur’an, kita mendapati bahwa kata jinn muncul di lebih dari 20 tempat, meskipun maknanya tidak selalu sama. Singkatnya, Al-Qur’an menggunakan istilah jinn dalam beberapa pengertian.
(Catatan: Agar artikel ini tetap fokus pada topik utamanya—yaitu Nabi Adam AS, Iblis, dan narasi yang berkaitan dengannya—pembahasan mengenai jinn di sini disampaikan secara ringkas. Pembahasan mendalam mengenai jinn, berbagai maknanya, serta kaitannya dengan pihak-pihak yang disebutkan dalam Surah al-Jinn akan diulas dalam artikel terpisah di lain waktu.)
Siapakah ‘Jinn’ sebelum Nabi Adam AS?
Kini, kita akan membahas jinn sebagai manusia yang hidup sebelum zaman Nabi Adam AS . Al-Qur’an menyatakan: “Dan Kami telah menciptakan jinn sebelumnya” (15:28).
Al-Qur’an juga menggunakan istilah jinn untuk menyebut manusia purba yang hidup sebelum peradaban Nabi Adam AS. Mereka hidup layaknya hewan—tanpa hukum, budaya, maupun tatanan sosial—serta bersembunyi di dalam gua-gua dan hutan. Ketika Nabi Adam AS memperkenalkan struktur moral dan sosial, kelompok masyarakat primitif ini secara kolektif disebut sebagai jinn, yakni manusia yang tersembunyi atau belum beradab. (Tafsir-e-Kabir, Jilid 5, hlm. 297)
Pada masa itu, manusia purba tidak dapat bergerak dengan leluasa di permukaan bumi karena keberadaan binatang buas. Berdasarkan keadaan mereka, mereka diberi sebutan jin (manusia yang tersembunyi atau belum beradab). Mereka inilah yang oleh sejarawan modern disebut sebagai “manusia gua”.
Ketika akal budi manusia berkembang dan manusia menjadi mampu menerima wahyu ilahi, Tuhan memilih seorang pria yang layak untuk hidup di permukaan bumi. Ia dianugerahi gelar Adam AS karena telah siap untuk menjalani kehidupan menetap, serta disebut insan (manusia) karena ia mampu menerima kasih Tuhan di satu sisi, dan di sisi lain, mampu menunjukkan welas asih serta pengorbanan bagi sesamanya. Dengan demikian, Tuhan memilihnya untuk menerima wahyu-Nya. Di antara manusia gua terdahulu, mereka yang menerima sistem yang dibawa oleh Adam AS kemudian bergabung dengannya, keluar dari gua-gua mereka, dan bersedia mengikuti tatanan sosial—mereka inilah yang disebut sebagai manusia (insan). Sebaliknya, mereka yang menolak untuk meninggalkan kehidupan liar dan menganggap hidup di dalam gua sebagai bentuk kebebasan, disebut sebagai jin karena cara hidup mereka tersebut.
Jadi, pada tahap awal perkembangan manusia, istilah jin digunakan untuk menyebut individu-individu yang belum beradab dan tidak mampu menerima suatu sistem yang teratur. Sementara itu, istilah insan digunakan untuk kelompok yang memilih untuk hidup saling bekerja sama dan mematuhi suatu aturan.
Sejak saat itu, kedua sebutan ini dikaitkan dengan dua karakteristik: mereka yang menolak tatanan dan otoritas disebut sebagai keturunan jin, sedangkan mereka yang tunduk pada suatu sistem kedisiplinan disebut sebagai keturunan Adam AS. Nama-nama ini kemudian menjadi istilah deskriptif; sehingga terkadang terjadi bahwa keturunan jin —dengan memperbaiki diri— menjadi manusia, sementara sebaliknya, keturunan manusia bisa saja menjadi rusak dan tidak lagi mengikuti aturan. Sejak saat itu, kedua nama tersebut dikaitkan dengan dua karakteristik: mereka yang menolak tatanan dan otoritas disebut sebagai keturunan jin, sedangkan mereka yang tunduk pada suatu sistem kedisiplinan disebut sebagai keturunan Adam AS. Nama-nama ini menjadi deskriptif; oleh karena itu, terkadang terjadi bahwa keturunan jin —dengan memperbaiki diri— menjadi manusia, dan sebaliknya, keturunan manusia—karena menjadi rusak dan tidak tertib—berubah menjadi jin. (Ibid.)
Apa makna dari ungkapan ‘diciptakan dari api’ dan ‘diciptakan dari tanah liat’?
Ketika Al-Qur’an menyatakan: “Dan Kami telah menciptakan jin sebelum itu dari api angin yang sangat panas” (Surah al-Hijr, 15:28), ini berarti orang-orang tersebut memiliki watak yang berapi-api dan cepat marah. Sebelum masa Adam AS, inilah keadaan umat manusia pada masa awal. Adam AS adalah manusia pertama yang mencapai keunggulan moral (akhlak dan perilaku) dan social (bermasyarakat); oleh karena itu, wahyu yang berkaitan dengan cara hidup beradab, serta moral dan etika, pertama kali diturunkan kepadanya. Mereka yang bergabung dengan tatanan sosialnya menanamkan kepatuhan ke dalam hati mereka; oleh karena itu, sebagaimana dijelaskan oleh Hazrat Musleh-e-Maud RA, mereka disebut sebagai “thini” (طِيْنِيّ) —yang berarti terbuat dari tanah liat— karena tanah liat memiliki sifat mudah dibentuk atau menerima jejak. Sebaliknya, mereka yang menginginkan kebebasan tanpa batas dan menolak kedisiplinan disebut sebagai sosok yang “berapi-api”, layaknya nyala api yang tidak dapat dikendalikan. Orang-orang semacam itu, yang hidup di gua-gua, disebut sebagai jin. (Tafsir-e-Kabir, Jilid 5, hlm. 297-298)
Meskipun mungkin ada keberatan yang menyatakan bahwa karena Tuhan berfirman Dia menciptakan jin dari api, maka pastilah demikian adanya, jawabannya adalah bahwa di bagian lain Tuhan berfirman: “Manusia diciptakan dari sifat tergesa-gesa.” (Surah al-Anbiya, 21:38). Tidak ada seorang cendekiawan pun yang menafsirkan bahwa “sifat tergesa-gesa” merupakan suatu zat fisik (benda jasmani). Hal ini berarti bahwa sifat tergesa-gesa berakar kuat dalam tabiat manusia. Demikian pula, Tuhan berfirman bahwa Dia menciptakan manusia dari kelemahan (Surah ar-Rum, 30:55). Ini berarti bahwa seorang anak diciptakan dalam keadaan lemah, bukan berarti “kelemahan” itu merupakan suatu materi fisik. Dengan demikian, dalam konteks yang sama, ungkapan “diciptakan dari api” merujuk pada watak atau tabiat, bukan pada substansi fisik.
Mengapa Allah menyebut mereka sebagai ‘ins’ (manusia) dan ‘jin’, bukan ‘orang beriman’ dan ‘orang kafir’?
Mengingat telah ditetapkan bahwa mereka yang menerima Adam AS kemudian dikenal sebagai *ins* (manusia), sementara mereka yang menolaknya dan memilih untuk menjalani kehidupan secara tersembunyi dikenal sebagai jin, mungkin muncul pertanyaan: mengapa Allah menggunakan sebutan ini (ins dan jin) bukan sekadar menyebut mereka sebagai orang beriman atau orang kafir?
Jawabannya adalah, bagi masyarakat umum, istilah sederhana seperti “orang beriman” dan “orang kafir” mungkin sudah cukup; namun dalam konteks tersebut, istilah yang tepat adalah “Adam” dan “Iblis”, atau ins (manusia) dan jin. Pada masa itu, akal budi manusia belum cukup berkembang untuk memahami persoalan-persoalan rumit dalam hukum ilahi; mereka hanya mampu menangkap hal-hal yang mendasar saja. (Sair-e-Ruhani, hlm. 32)
Oleh karena itu, bukan menggunakan istilah “orang beriman” dan “orang kafir”, mereka disebut sebagai ins dan jin agar perbedaan dalam peradaban dan perilaku mereka dapat disampaikan dengan cara yang bisa mereka pahami. Saat ini, akal budi manusia telah berkembang sedemikian rupa sehingga ketika seseorang disebut sebagai orang beriman atau orang kafir, mereka memahami makna dari istilah-istilah tersebut. Namun pada masa itu, jika seseorang dikatakan sebagai orang kafir karena tidak menerima pesan yang dibawa oleh Adam AS, mereka tidak akan memahami kaitan antara kekafiran tersebut dengan penolakan terhadap Adam AS.
Dengan demikian, mereka yang menerima Adam AS dan menjalani kehidupan yang beradab disebut sebagai ins, sementara mereka yang menolak Adam AS dan memilih untuk bersembunyi di dalam gua disebut sebagai jin. Perbedaan ini mudah dipahami oleh mereka karena mereka mengetahui bahwa sebagian orang hidup di permukaan bumi, sementara sebagian lainnya tinggal di dalam gua. Ketika disebut sebagai jin, mereka memahami bahwa sebutan itu merujuk pada pilihan mereka untuk tetap tinggal di dalam gua. Sebaliknya, ketika kelompok lain disebut sebagai ins, mereka menyadari bahwa kelompok tersebut hidup di permukaan bumi, sehingga tidak bisa disebut sebagai jin.
Para arkeolog Eropa modern merasa takjub saat mendapati —setelah penelitian ekstensif pada abad kesembilan belas— bahwa manusia pada mulanya hidup di dalam gua. Padahal, lebih dari seribu tiga ratus tahun yang lalu, Al-Qur’an telah membedakan kelompok manusia tersebut dengan menyebut mereka sebagai jin. (Ibid.)
Kesimpulan
Sebagaimana manusia di masa kini dibedakan dengan istilah “orang beriman” dan “orang tidak beriman”, pada masa itu, manusia dibedakan dengan istilah ins dan jin karena perbedaan tersebut didasarkan pada tingkat peradaban. Istilah ins dan jin digunakan untuk menunjukkan siapa yang mengikuti petunjuk ilahi serta menerapkan kehidupan yang beradab, dan siapa yang menolaknya. Mereka yang merangkul kehidupan beradab dan tinggal di permukaan bumi disebut sebagai ins. Sementara itu, mereka yang menolak kehidupan beradab dan memilih untuk tetap tinggal di dalam gua disebut sebagai jin.
https://www.alhakam.org/adam-iblis-and-the-meaning-of-jinn
Jalees Ahmad, Al Hakam
Gambar Ilustrasi: AI



No Responses