Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Baqarah: 103
وَاتَّبَعُوۡا مَا تَتۡلُوا الشَّیٰطِیۡنُ عَلٰی مُلۡکِ سُلَیۡمٰنَ ۚ وَمَا کَفَرَ سُلَیۡمٰنُ وَلٰکِنَّ الشَّیٰطِیۡنَ کَفَرُوۡا یُعَلِّمُوۡنَ النَّاسَ السِّحۡرَ ٭ وَمَاۤ اُنۡزِلَ عَلَی الۡمَلَکَیۡنِ بِبَابِلَ ہَارُوۡتَ وَمَارُوۡتَ ؕ وَمَا یُعَلِّمٰنِ مِنۡ اَحَدٍ حَتّٰی یَقُوۡلَاۤ اِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَۃٌ فَلَا تَکۡفُرۡ ؕ فَیَتَعَلَّمُوۡنَ مِنۡہُمَا مَا یُفَرِّقُوۡنَ بِہٖ بَیۡنَ الۡمَرۡءِ وَزَوۡجِہٖ ؕ وَمَا ہُمۡ بِضَآرِّیۡنَ بِہٖ مِنۡ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَیَتَعَلَّمُوۡنَ مَا یَضُرُّہُمۡ وَلَا یَنۡفَعُہُمۡ ؕ وَلَقَدۡ عَلِمُوۡا لَمَنِ اشۡتَرٰٮہُ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ ۟ؕ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡا بِہٖۤ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ لَوۡ کَانُوۡا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿۱۰۳﴾
“Dan mereka menempuh jalan yang diikuti oleh para pemberontak pada masa pemerintahan Sulaiman. Dan Sulaiman tidak kafir; tetapi orang-orang durhakalah yang kafir, mengajarkan kebatilan dan tipu daya kepada manusia. Dan mereka mengejar apa yang diwahyukan kepada dua malaikat di Babilonia, Harut dan Marut. Namun kedua orang ini tidak mengajari siapa pun sampai mereka berkata: ‘Kami hanyalah cobaan, maka janganlah kafir.’ Maka laki-laki belajar dari mereka apa yang mereka gunakan untuk membedakan antara laki-laki dan istrinya, namun mereka tidak merugikan siapa pun dengan cara itu, kecuali dengan perintah Allah; sebaliknya, orang-orang ini mempelajari hal-hal yang merugikan mereka dan tidak membawa manfaat bagi mereka. Dan mereka tentu mengetahui bahwa siapa yang memperdagangkannya, tidak mendapat bagian kebaikan di akhirat; dan sesungguhnya kejahatanlah yang menyebabkan mereka menjual jiwa mereka; andai saja mereka mengetahuinya!”
Malik Ghulam Farid. *The Holy Quran with English Translation & Commentary* (Al-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Bahasa Inggris) [tafsir besar 5 jilid, bukan short commentary atau tafsir singkat] (1968)
Kata-Kata Penting:
[1] تتلوا (mengikuti). Lihatlah Al-Qur’an, 2:114. ;
[2] شیاطین (syayaathiin, bentuk jamak dari syaithan atau setan, artinya orang-orang yang memberontak). Bisa dilihat pada Al-Qur’an 2:15. ;
[3] Kata علی *‘alā* (dalam konteks durasi) memberikan makna فی *fī*, yakni “di dalam” atau “selama” (*Aqrab* & *Mughni*). Kata ini juga digunakan untuk menunjukkan makna permusuhan, yaitu “melawan”—seperti dalam ungkapan خرج علیه *kharaja ‘alayhi*, yang berarti ia memberontak terhadap seseorang, atau ia maju melawan seseorang dengan membawa pasukan dengan niat untuk bertempur (*Wright*). Dalam pengertian ini, frasa علی ملك سلیمان *‘alā mulki Sulaymān* dapat diartikan sebagai “melawan pemerintahan Sulaiman” atau “bersekongkol melawan pemerintahannya”.
[4] سحر *Sihr* (kebohongan dan tipu daya). Dalam pengertian kata kerja, سحرہ *sahara-hu* berarti: ia menipunya; ia membujuknya lalu menjerumuskannya ke dalam kesulitan serta melumpuhkan akal sehatnya; ia memikat atau menyihirnya. سحر الفضة *Saharal-fiddah* berarti: ia melapisi perak sedemikian rupa sehingga tampak seperti emas. Sebagai kata benda, سحر *sihr* berarti: segala sesuatu yang sumbernya tidak terlihat jelas; menampilkan kebohongan dalam wujud kebenaran; tipu muslihat; kelicikan; kejahatan; atau sihir (menurut kamus *Aqrab*). Istilah ini juga berarti: menghadirkan sesuatu yang palsu dalam bentuk kebenaran; suatu peristiwa yang penyebabnya tersembunyi sehingga dipersepsikan berbeda dari hakikat aslinya; serta upaya memperindah sesuatu melalui pemalsuan dan tipu daya (menurut kamus *Lane*). Dengan demikian, segala bentuk kebohongan, tipu daya, atau muslihat yang bertujuan untuk menyembunyikan hakikat yang sebenarnya dari pandangan umum tercakup dalam makna سحر *sihr*.
[5] *Malakayn* ملكین (dua malaikat) merupakan bentuk dual (dua) dari ملك *malak* (malaikat)—lihat penjelasan pada ayat 2:31. Secara kiasan, kata ملك *malak* terkadang digunakan untuk merujuk pada seseorang yang tampan atau suci; sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an mengenai Yusuf: “Dia hanyalah seorang malaikat yang mulia,” yang berarti seorang pemuda yang tampan dan saleh (12:32). Mengingat dalam ayat yang sedang dibahas ini kedua sosok tersebut digambarkan mengajarkan sesuatu kepada manusia, maka kata tersebut tidak dapat diartikan secara harfiah. Hal ini dikarenakan para malaikat tidak hidup di tengah-tengah manusia dan pada umumnya tidak berinteraksi secara bebas dengan mereka (17:95, 96; 21:8). Dengan demikian, dalam ayat ini, ملکین *malakayn* tidak berarti “dua malaikat” dalam pengertian harfiah, melainkan “dua orang suci”.
[6] Harut ھاروت dan Marut ماروت merupakan nama-nama yang bersifat deskriptif. Harut ھاروت berasal dari kata ھرت *harata* yang berarti “ia merobek” (menurut *Aqrab*); dengan demikian, Harut berarti “dia yang merobek” atau “sang perobek”. Marut ماروت berasal dari kata مرت *marata* yang berarti “ia mematahkan” (menurut *Aqrab* dan *Lane*); dengan demikian, Marut berarti “dia yang mematahkan” atau “sang pematah”. Nama-nama ini menunjukkan bahwa tujuan kemunculan sosok-sosok suci ini adalah untuk merobek dan mematahkan kemuliaan serta kekuasaan dari kelompok orang tertentu.
[7] *Fitnah* (ujian) berarti suatu cobaan atau sarana yang melaluinya keadaan seseorang dapat diperlihatkan, baik dalam hal kebaikan maupun keburukan (Lane). Terdapat ungkapan *fatana ash-sha’ighu adz-dzahab*, yang berarti seorang pengrajin emas melebur emas di dalam wadah peleburan (*crucible*) agar dapat diketahui apakah emas tersebut murni atau tidak (Aqrab).
Tafsiran:
Banyak legenda yang tidak berdasar pada Al-Qur’an maupun Hadis—bahkan bertentangan dengannya—berkembang di seputar ayat ini. Sangatlah tidak masuk akal untuk menafsirkannya berdasarkan mitos-mitos tersebut. Untuk memahami makna yang sebenarnya, tidak diperlukan bukti eksternal, karena kata-kata dalam ayat ini sudah menjelaskan dirinya sendiri. Dari ayat itu sendiri, jelas bahwa kaum Yahudi pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (saw) melakukan tindakan jahat yang serupa dengan perilaku mereka di zaman Nabi Sulaiman ‘alaihis salaam (as) maupun selama masa pembuangan mereka di Babilonia. Ayat ini lebih lanjut mengisyaratkan bahwa para pelaku kejahatan di zaman Nabi Sulaiman adalah orang-orang “durhaka” yang menuduh beliau sebagai orang kafir. Allah menegaskan bahwa justru orang-orang jahat itulah—bukan Nabi Sulaiman—yang tidak memiliki iman.
Selain itu, ayat ini menjelaskan bahwa mereka mengajarkan tanda-tanda tertentu kepada pengikut mereka—tanda yang memiliki makna yang jauh berbeda dari pemahaman umum—dengan tujuan untuk menipu orang lain dan menyembunyikan aktivitas mereka sendiri. Semua ini mengarah pada kesimpulan bahwa ayat ini merujuk pada konspirasi rahasia yang disusun oleh musuh-musuh Nabi Sulaiman untuk menjatuhkan kekuasaannya. Diisyaratkan pula bahwa pada masa Nabi Muhammad (saw), kelompok ini menggunakan taktik yang sama, namun upaya mereka akan sia-sia.
Mengingat ayat ini merujuk pada sejumlah peristiwa sejarah, ada baiknya untuk menguraikannya secara lebih rinci di sini.
Ketika kaum Yahudi melihat bahwa kekuatan Islam terus berkembang dan tidak ada perlawanan dari bangsa Arab yang mampu menghambat kemajuan umat Muslim, mereka mulai menghasut pihak luar untuk melawan kaum Muslim. Pada masa itu, terdapat dua kekaisaran besar di sekitar wilayah Arab: (1) Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur; dan (2) Kekaisaran Persia. Karena kaum Yahudi sudah bermusuhan dengan pemerintah Romawi—akibat penindasan yang terus-menerus mereka alami di bawah kekuasaan tersebut—maka satu-satunya pihak yang bisa mereka harapkan dukungannya adalah pemerintah Persia. Lantaran tertekan oleh penindasan para penguasa Kristen, mereka mencari perlindungan di Persia. Di sana, mereka menikmati kebebasan beragama yang cukup luas, dan pusat keagamaan mereka pun berpindah dari Yudea dan Yerusalem ke Babilonia (Hutchinson’s History of the Nations, hlm. 550).
Pada abad ketujuh Masehi—yakni semasa hidup Nabi (saw) —kaum Yahudi mengalami penganiayaan yang sangat kejam di tangan kaisar-kaisar Kristen dari Kekaisaran Romawi Timur. *Historians’ History of the World* (jilid 7, hlm. 175) mencatat: “Baik Phocas maupun Heraclius berupaya memusnahkan agama Yahudi, dan jika mungkin, mengakhiri keberadaan mereka sebagai suatu bangsa. Heraclius tidak hanya melakukan berbagai bentuk kekejaman untuk mencapai tujuan tersebut di wilayah kekuasaannya, tetapi ia bahkan menjadikan pemaksaan pindah agama atau pengusiran terhadap kaum Yahudi sebagai bagian utama dalam diplomasinya.” Oleh karena itu, pada masa Nabi (saw), satu-satunya pemerintahan yang dapat diharapkan oleh kaum Yahudi untuk memberikan bantuan adalah Persia—tempat di mana rekan-rekan seagama mereka memiliki pengaruh yang cukup besar, terutama pada masa pemerintahan Chosroes II (*Jewish Encyclopedia*, ix. 648).
Akibatnya, ketika kaum Yahudi menyadari bahwa upaya mereka untuk menghambat kemajuan Islam telah gagal total, mereka pun berusaha menghasut istana Persia untuk melawan Nabi (saw) melalui berbagai cara. Sebagai dampaknya, Chosroes II mengeluarkan perintah kepada Gubernur Yaman untuk mengirimkan sosok yang mengaku sebagai nabi dari Arab itu kepadanya sebagai tawanan. Namun, ketika utusan sang Gubernur menemui Nabi (saw), beliau (saw) meminta mereka untuk kembali lagi keesokan harinya. Pada pertemuan berikutnya, beliau menyampaikan bahwa Allah telah memberitahukan kepadanya bahwa raja mereka telah dibunuh. Para utusan itu kemudian kembali dan menceritakan peristiwa tersebut kepada sang Gubernur. Beberapa hari kemudian, Gubernur menerima surat dari Siroes, putra Chosroes II, yang menyatakan bahwa ia telah membunuh ayahnya karena tirani yang dilakukan sang ayah. Siroes juga menginstruksikan agar sang Gubernur memperbarui sumpah setia dari seluruh kepala suku di Yaman atas namanya, serta menegaskan bahwa perintah ayahnya terkait pria Arab tersebut – yaitu Nabi Muhammad (saw) – harus dianggap batal (Tabari, iii. 1573-1574).
Beberapa sejarawan, termasuk al-Tabari sendiri, berpendapat bahwa surat dari Nabi (saw) kepada raja Persia—yang berisi ajakan untuk memeluk Islam—menjadi penyebab dikeluarkannya perintah untuk menangkap Nabi (saw). Namun, setelah membandingkan tanggal peristiwa-peristiwa tersebut, pandangan ini terbukti keliru. Sebagaimana tercatat dalam kitab *Zurqani* (jilid II, hlm. 211-212), surat tersebut dikirim dari Madinah pada tanggal 1 Muharram tahun 7 Hijriah—yang bertepatan dengan tanggal 12 April 628 M (lihat *Lane* di bawah entri *hijrah*). Sementara itu, Khosrau II—raja yang mengeluarkan perintah penangkapan Nabi Suci—telah dibunuh pada tanggal 29 Februari 628 M (*Historians’ History of the World*, jilid VIII, hlm. 95). Dengan demikian, anggapan bahwa surat dari Nabi (saw) menjadi penyebab dikeluarkannya perintah oleh Khosrau jelas tidak dapat dipertahankan. Satu-satunya kemungkinan penyebab di balik perintah tercela Khosrau adalah karena ia telah dipengaruhi oleh laporan-laporan jahat; sebuah fakta yang juga diakui oleh Sir William Muir (*The Life of Mahomet*, hlm. 370). Upaya-upaya pihak Yahudi inilah yang dirujuk oleh Al-Qur’an dalam ayat yang sedang dibahas.
Ayat tersebut juga menunjukkan betapa bodohnya anggapan kaum Yahudi bahwa mereka akan berhasil dengan cara demikian. Mereka diingatkan kembali bahwa sebelumnya mereka telah terlibat dalam dua konspirasi rahasia. Konspirasi pertama ditujukan terhadap Nabi Sulaiman [dalam penamaan di kalangan Yahudi dan Kristen disebut Salomo atau Solomon – penerjemah], ketika sebagian anggota komunitas mereka memberontak, menyusun rencana jahat, dan memicu sentimen kebencian terhadap beliau dengan menuduhnya sebagai orang kafir. Padahal, justru pihak yang menentang beliaulah yang sebenarnya kafir; mereka melontarkan berbagai tuduhan keji dan membentuk kelompok-kelompok rahasia yang menggunakan tanda serta simbol-simbol khusus. Namun, kaum Yahudi sendiri akhirnya menuai akibat buruk dari skema jahat mereka; kekuasaan mereka pun runtuh, hingga pada akhirnya mereka menjadi begitu lemah dan terpaksa diasingkan ke Babilonia. Kisah mengenai perkumpulan rahasia, konspirasi, serta tanda dan simbol berbahaya di kalangan orang Yahudi—sebagaimana disinggung dalam ayat ini—mendapatkan penguat dalam Alkitab (1 Raja-raja 11:1-6), yang mencatat tuduhan penyembahan berhala yang diarahkan kepada Salomo. Keterangan mengenai musuh-musuh Salomo dapat ditemukan dalam 1 Raja-raja 11:14, 23, dan 26.
Sementara itu, rujukan mengenai persekongkolan rahasia terdapat dalam 2 Tawarikh 10:2-4; di sana disebutkan bahwa segera setelah Salomo wafat, orang-orang Yahudi memanggil Yerobeam—musuh bebuyutan Salomo—dan berupaya mendesak putra Salomo agar menyetujui tuntutan tertentu, yang mencakup tuduhan-tuduhan terhadap Salomo, sebelum sang putra naik takhta.
Mengenai tanda-tanda rahasia, kita dapat merujuk pada 1 Raja-raja 11:29-32, di mana sepuluh suku Israel diibaratkan sebagai sepuluh potongan kain, dan Yerobeam diberitahu bahwa kesepuluh suku tersebut memihak kepadanya untuk melawan Salomo. Hal ini terbukti benar, karena setelah Salomo wafat, kesepuluh suku tersebut mengangkat Yerobeam sebagai raja mereka (1 Raja-raja 12:20).
Selain itu, penyebutan Al-Qur’an mengenai kekafiran musuh-musuh Salomo juga diperkuat oleh 2 Tawarikh 11:15, yang mengungkapkan bahwa musuh-musuh yang menuduh Salomo tidak beriman justru terjerumus ke dalam penyembahan berhala saat mereka berkuasa.
Di samping kesaksian dari Alkitab, terdapat bukti lain yang menunjukkan adanya perkumpulan rahasia yang bergerak melawan Salomo pada masa pemerintahannya. Sebuah tradisi lama, yang dikenal di kalangan Freemason abad pertengahan, menyebutkan bahwa Salomo merasa iri terhadap kecerdasan luar biasa Hiram, kepala arsitek yang membangun Bait Suci di Yerusalem. Konon, Salomo berupaya membunuh sang arsitek agung tersebut dengan melemparkannya ke dalam bejana berisi kuningan cair. Namun, ia diselamatkan oleh roh leluhurnya, Kain, yang meramalkan bahwa pada akhirnya kaumnya akan berhasil mengalahkan musuh mereka. Meski demikian, menurut tradisi tersebut, Salomo pada akhirnya tetap berhasil membunuh Hiram. Dikatakan bahwa ia telah menetapkan tanda-tanda rahasia tertentu—semacam misteri yang hanya diketahui oleh dirinya dan rekan-rekannya (Secret Societies of the World, Jilid II, hlm. 1-8; karena buku aslinya tidak dapat diperoleh, rujukan ini merujuk pada terjemahan dalam bahasa Urdu).
Lebih lanjut, buku ini menjelaskan bahwa sebelum periode *Accepted Masons* (Mason yang Diterima), tanda-tanda yang digunakan di semua loji telah ada sejak zaman Nabi Sulaiman (hlm. 11), dan pada saat inisiasi, kisah tentang Hiram disampaikan kepada anggota baru (hlm. 29, 30). Terlepas dari seberapa sulit dipercayanya keseluruhan kisah tersebut, setidaknya hal itu mengarah pada kesimpulan bahwa, dengan satu atau lain cara, perkumpulan rahasia memiliki keterkaitan dengan masa pemerintahan Nabi Sulaiman dan cukup lazim pada zamannya.
Peristiwa kedua di mana, menurut Al-Qur’an, Bani Israil menggunakan perkumpulan rahasia adalah selama masa penawanan mereka di Babilonia. Namun, kali ini mereka tidak bertindak menentang seorang Nabi pun; sebaliknya, mereka bekerja di bawah kepemimpinan dua sosok yang mendapat ilham, yang—demi mematuhi perintah ilahi—berupaya mewujudkan pembebasan bagi Bani Israil. Misi mereka adalah untuk “mencerai-beraikan” dan “meruntuhkan” kekaisaran musuh-musuh Bani Israil. Orang-orang suci ini menyampaikan kepada anggota baru, pada saat inisiasi, bahwa keberadaan mereka merupakan suatu ujian dari Tuhan yang berfungsi untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, Bani Israil tidak boleh menolak untuk memercayai perkataan mereka, karena penolakan tersebut dapat menjerumuskan mereka ke dalam kekufuran.
Dalam ajaran mereka, terdapat pembedaan antara laki-laki dan perempuan, di mana keanggotaan hanya dibatasi untuk laki-laki (ini adalah praktik lama yang lazim ditemukan dalam sebagian besar perkumpulan rahasia). Disebutkan pula bahwa para pengikut orang-orang suci ini hanya mengarahkan tindakan mereka terhadap pihak-pihak yang memang telah ditetapkan oleh Tuhan untuk dihukum.
Dalam narasi ini, Al-Qur’an merujuk pada masa ketika Raja Nebukadnezar membawa orang-orang Yahudi sebagai tawanan ke Babilonia dan menahan mereka di sana untuk waktu yang lama. Orang-orang suci yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Nabi Hagai dan Zakharia bin Ido (Ezra 5:1). Ketika Koresh, Raja Media dan Persia, naik takhta, Bani Israil menjalin kesepakatan rahasia dengannya, yang sangat mempermudah penaklukannya atas Babilonia. Sebagai imbalan atas jasa tersebut, Koresh tidak hanya mengizinkan mereka kembali ke negeri asal, tetapi juga membantu pembangunan kembali Bait Suci (sebagaimana tercatat dalam *Historians’ History of the World*, jilid ii, hlm. 126).
Setelah menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi pada zaman Nabi Muhammad (saw) menempuh jalan yang sama dengan yang dilakukan oleh kelompok pemberontak pada masa Nabi Sulaiman—dan yang kemudian juga dilakukan oleh orang-orang Yahudi di bawah bimbingan dua orang suci di Babilonia—perlu disampaikan pula di sini mengenai hasil akhir dari upaya mereka melawan Nabi Muhammad (saw), mengingat pada dua peristiwa sebelumnya, upaya serupa telah membuahkan hasil yang berbeda. Pada peristiwa pertama, konspirasi kaum Bani Israil yang ditujukan terhadap seorang Nabi Allah berakhir dengan hilangnya wibawa mereka sepenuhnya, yang kemudian berujung pada pengasingan mereka ke Babilonia. Pada peristiwa kedua, mereka menempuh langkah serupa di bawah pimpinan dua tokoh yang mendapat petunjuk ilahi, dan kali ini mereka berhasil.
Oleh karena itu, untuk menunjukkan apakah upaya orang-orang Yahudi melawan Nabi (saw) akan berujung pada kegagalan—seperti yang terjadi pada zaman Sulaiman—atau keberhasilan—seperti di Babilonia—, Al-Qur’an menyatakan: mereka mempelajari sesuatu yang justru mencelakakan diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat apa pun; sebuah isyarat bahwa mereka tidak akan meraih keberhasilan seperti yang terjadi di Babilonia. Sesuai dengan itu, konsekuensi dari upaya permusuhan mereka terhadap Nabi (saw) adalah tewasnya Khosrau—satu-satunya pendukung mereka—di tangan putranya sendiri, sementara mereka sendiri akhirnya diusir dari tanah Arab pada masa pemerintahan Umar.
Pada bagian akhir ayat tersebut, Allah berfirman: “Dan sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan itu tidak akan memperoleh bagian kebaikan di akhirat kelak,” yang berarti bahwa pihak yang merancang tipu daya jahat pada akhirnya tidak akan pernah berhasil. Klausa terakhir, “seandainya mereka mengetahui,” memberikan penjelasan yang sangat terang mengenai betapa besar keinginan Allah agar makhluk-makhluk-Nya senantiasa menempuh jalan yang benar dan tidak tersesat oleh hasutan orang-orang yang berniat jahat. [1]
Dalam hal ini… kelompok-kelompok rahasia seperti loji-loji Freemason dan sebagainya telah dikecam, namun kecaman tersebut tidak bersifat mutlak atau tanpa pengecualian. Bisa saja terdapat pertemuan rahasia yang diadakan untuk tujuan-tujuan yang baik. Sifat dari suatu pertemuan ditentukan oleh tujuan atau motif di baliknya. Dalam ayat ini, orang-orang beriman diperbolehkan mengadakan pertemuan rahasia hanya untuk tujuan memajukan hal-hal yang baik dan benar. [2]
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad – Al-Masih yang Dijanjikan (semoga salam sejahtera besertanya) mengenai Freemasonry
Perlu diingat pula bahwa pernyataan Atham merupakan suatu klaim yang tidak didukung oleh bukti apa pun dari pihak yang menyampaikannya. Jika ia benar-benar telah menelaah serangan-serangan tersebut, sungguh disayangkan—meskipun di kediamannya terdapat banyak orang—ia tidak mampu menunjukkan kepada siapa pun di antara mereka mengenai sarana perjalanan, pasukan infanteri, kuda, ataupun peralatan apa pun. Ia bahkan tidak mampu membicarakannya sampai periode nubuat tersebut berlalu. Hal ini menyerupai prinsip kaum Freemason yang menganggap tidak pantas untuk membocorkan rahasia mereka; seolah-olah Atham pun berada dalam bahaya kehilangan nyawanya jika ia mengungkapkan rahasia tersebut. Dapatkah seseorang yang jujur merasa puas jika klaim yang menjadi landasan kebenarannya dibiarkan dalam kegelapan, tanpa ada secercah kebenaran pun yang tampak di dalamnya?
Pada malam tanggal 30 September, Hazrat Ummul Mukminin (Ibu Kaum Beriman, sebutan untuk istri Hadhrat Masih Mau’ud [as]) bermimpi sekitar tengah malam dan segera menceritakannya kepada Al-Masih yang Dijanjikan (semoga damai besertanya). Isinya adalah sebagai berikut: “Persoalan mengenai ‘Isa telah terselesaikan. Allah berfirman bahwa ketika Aku menurunkan ‘Isa, Aku menarik kembali tangga-Ku.”
Dari mimpi ini, beliau memahami bahwa kehidupan dan kematian Yesus tidak dipengaruhi oleh campur tangan manusia mana pun. Demikianlah inti dari mimpi beliau. Al-Masih yang Dijanjikan (semoga damai besertanya) bersabda: “Ketika aku merenungkannya, tersampaikan kepadaku bahwa: Sesungguhnya, kebangkitan yang kini terjadi setelah seribu tahun kematian, sama sekali bebas dari campur tangan manusia.”
Hal ini berarti, sebagaimana Allah menciptakan Yesus tanpa seorang ayah, maka Al-Masih yang Dijanjikan (semoga damai besertanya) dianugerahi kehidupan rohani tanpa perantaraan seorang guru atau pembimbing rohani. Seorang guru ibarat seorang ayah; bahkan, ia adalah ayah yang sesungguhnya. Plato pernah berkata: “Seorang ayah membawa jiwa ke bumi, sedangkan seorang guru mengangkat jiwa dari bumi menuju surga.” Singkatnya, sebagaimana Yesus dilahirkan tanpa ayah dan tanpa campur tangan manusia, demikian pula dalam hal ini, Allah menganugerahkan kehidupan rohani semata-mata karena kasih karunia dan kebaikan-Nya, tanpa perantaraan seorang guru atau pembimbing. Kemudian, saat saya sedang merenungkan tentang kematian, saya tertidur sejenak dan datanglah sebuah wahyu: “Kaum Freemason tidak akan diberi kekuasaan untuk menghancurkannya.” Yang saya maksud dengan kaum Freemason adalah orang-orang yang bersekongkol secara rahasia.
Dari kata “tangga” [yang muncul dalam mimpi istri saya], saya memahami bahwa roh-roh turun dari surga dan naik kembali ke surga.
Sungguh menarik bahwa Allah Yang Mahakuasa telah menempatkan suatu nubuat agung di dalamnya. Nubuat itu menyatakan bahwa orang-orang akan bersekongkol untuk membunuh saya, namun Allah Yang Mahakuasa tidak akan memberikan mereka kekuasaan atas diri saya. [3] (Tadhkirah. 335, 336. (Edisi bahasa Inggris: 1976, 2009). 526–528).
Mengingat merupakan suatu sifat dalam kodrat manusia bahwa ia dapat diselamatkan dari bahaya melalui *gnosis* (ma’rifat atau pengetahuan hakiki)—sebagaimana dicontohkan dalam kasus ancaman bahaya ular, singa, atau racun—maka bagaimana mungkin dosa tidak dapat dihapuskan melalui keyakinan? Saya mengamati bahwa tidak ada satu pun dalam keterikatan rahasia kelompok Freemason ini yang menghalangi mereka untuk membocorkan rahasia-rahasia mereka. Lantas, bagaimana mungkin keyakinan akan kemuliaan dan kekuasaan Tuhan tidak dapat melindungi seseorang dari dosa? Tentu saja, keyakinan tersebut pasti mampu melakukannya. [4]
Kami belum pernah benar-benar menelaahnya secara serius, meskipun kami sering berpikir untuk melakukannya. Mendengar berbagai aspek yang ia paparkan dalam ceramahnya, saya teringat akan wahyu yang pernah saya terima—sungguh luar biasa. (Wahyu tersebut menyatakan bahwa kaum Freemason tidak akan berhasil menjalankan rencana untuk membunuh beliau. Mungkin wahyu ini juga mengisyaratkan realitas Freemasonry: terdapat aspek-aspek tertentu di mana hukum negara tidak berdaya, dan dalam ranah itulah mereka mengerahkan pengaruh perkumpulan mereka.) Saya memahami bahwa orang-orang yang memiliki koneksi luas, para pejabat istana, bahkan pangeran-pangeran yang berkuasa, mungkin menjadi anggota perkumpulan Masonik; wibawa dan kedudukan merekalah yang menjadi alasan utama mengapa mereka tidak membocorkan rahasia perkumpulan tersebut—jika bukan karena hal itu, maka tidak ada sesuatu yang ajaib atau mengherankan di sana. Tampaknya kelompok-kelompok semacam itu memang ada sebagai sarana untuk menjalankan pemerintahan. [5]
[Disebutkan bahwa rakyat Afghanistan merasa tidak senang karena Emir Habibullah Khan adalah seorang anggota Freemason] Mereka merasa tersinggung dengan alasan yang sah, karena siapa pun yang meyakini keesaan Tuhan dan merupakan seorang Muslim sejati tidak mungkin bergabung dengan Freemasonry. Ranah aslinya adalah Kekristenan, dan seseorang harus menjalani pembaptisan secara terbuka untuk dapat diangkat ke tingkatan-tingkatan tertentu. Dengan demikian, inisiasi ke dalam kelompok tersebut sama saja dengan kemurtadan. [6]
Hazrat al-Hajj Hafiz Hakeem Maulana Noorudin – Khalifatul Masih I radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu dalam Tafsir beliau atas Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Baqarah: 103
Mereka mengikuti apa yang diikuti oleh orang-orang durhaka pada masa pemerintahan Sulaiman. Bukanlah Sulaiman yang kafir, melainkan orang-orang jahat itulah yang kafir, karena mereka mengajarkan sihir kepada manusia. Demikian pula apa yang diturunkan kepada dua malaikat, Harut dan Marut, di negeri Babilonia. Padahal, keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada siapa pun sebelum mengatakan, “Kami hanyalah ujian, maka janganlah kamu menjadi kafir.” Maka, orang-orang mempelajari dari keduanya cara untuk membuat perlakuan memisahkan seseorang dari pasangannya. Namun, mereka tidak dapat mencelakai siapa pun dengan sihir itu kecuali atas izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang justru mencelakai diri mereka sendiri dan tidak memberi manfaat apa pun bagi mereka. Sungguh, mereka telah mengetahui bahwa siapa pun yang memperjualbelikan hal tersebut tidak akan memperoleh bagian kebaikan di akhirat. Alangkah buruknya sesuatu yang mereka jadikan sebagai penukar bagi jiwa mereka sendiri; seandainya saja mereka mengetahui! (Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Baqarah: 103).
[Dalam pembahasan mengenai ayat ini]: … ‘Mengajarkan sihir kepada manusia’ – Kelompok Freemason hingga kini dikenal sebagai ‘Rumah Sihir’. Harut dan Marut adalah nama dua malaikat. Kaum Yahudi meraih kemenangan atas musuh-musuh mereka dengan mempelajari hal-hal tersebut dari keduanya. Kini, mereka diberitahu bahwa mereka tidak dapat lagi menggunakan sarana-sarana ini untuk menentang Muhammad ﷺ (Utusan Allah), karena mereka ini bukanlah sebuah komite rahasia yang ditetapkan oleh Tuhan. Mengenai ungkapan ‘memisahkan seseorang dari pasangannya’, perlu dicatat bahwa hingga hari ini pun, kelompok Freemason tidak mengikutsertakan perempuan.
Bacalah penjelasan mengenai frasa ‘mereka tidak dapat mencelakai siapa pun’ dalam ayat yang berbunyi, ‘Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah dilarang melakukan persekongkolan rahasia?’ […] di mana disebutkan pula, ‘Hal itu sama sekali tidak dapat mendatangkan bahaya bagi mereka, kecuali atas izin Allah.’ [7] (Haqaiq al-Furqan: jilid I, hlm. 207, 208.)
Saya pernah menjumpai kelompok-kelompok yang memegang teguh doktrin mereka secara rahasia. Yang terbesar di antaranya adalah Freemasonry. Ajaran dan seluk-beluk kelompok ini tidak disebarluaskan kepada publik. Di dalamnya terkandung pula motif-motif yang berkaitan dengan kepentingan golongan tertentu. Itulah sebabnya banyak tokoh berpengaruh dan terpandang menjadi bagian darinya. Banyak orang menyampaikan berbagai hal aneh kepada saya mengenai Freemasonry, meskipun pihak Freemason sendiri justru menanggapi hal tersebut dengan tawa. [8]
Hazrat al-Hajj Mirza Basheeruddin Mahmood Ahmad – Khalifatul Masih II radhiyAllahu Ta’ala ‘anhu dalam “Tafsir Kabir” uraian beliau atas Al-Qur’an al-Karim, Surah Al-Baqarah: 103 dan Surah Thaha bahasan mengenai Samiri (ayat 85 sampai 96)
Hanya ada satu perkumpulan di dunia yang membedakan antara laki-laki dan perempuan, yang jejaknya dapat diamati sejak zaman Nabi ﷺ, bahkan terus berlanjut hingga 15–20 tahun yang lalu dari sekarang. Ini merupakan praktik lama yang ditemukan di antara berbagai perkumpulan paling rahasia yaitu kelompok Freemason.
Di Punjab, kelompok ini dikenal sebagai perkumpulan para pesulap (magician). Ini adalah perkumpulan rahasia yang melarang keanggotaan perempuan dan hanya menerima anggota laki-laki. Hal ini membawa kita lebih dekat pada pokok bahasan utama, sehingga kita dapat mendasarkan penelitian kita padanya—mengingat perkumpulan ini, selain bersifat rahasia, juga hanya menerima laki-laki.
Perlu dicatat bahwa perkumpulan Masonik yang ada saat ini tidak memiliki kaitan dengan peristiwa-peristiwa tersebut; pembahasan ini hanya menyangkut perkumpulan Masonik yang keberadaannya dapat dibuktikan dalam tiga periode sejarah yang didukung oleh peristiwa-peristiwa historis (sejarah). [yaitu jaman Nabi Sulaiman (as), jaman kerajaan Babilonia dan jaman Nabi Muhammad (saw) – penerjemah]
Perlu diingat pula bahwa tidak ada satu pun perkumpulan Freemason yang bertahan secara terus-menerus hingga hari ini. Beberapa bertahan selama 400 tahun, ada pula yang selama 500 tahun. Sebagian lenyap pada abad ke-12, sebagian lagi pada abad ke-15. Ada yang didirikan pada abad ke-18 lalu lenyap pada abad yang sama, dan ada pula yang didirikan pada abad ke-19. Oleh karena itu, kita tidak bisa secara mutlak memusatkan perhatian pada satu perkumpulan tertentu saja. Banyak perkumpulan didirikan dengan menerapkan prinsip-prinsip tertentu dari pendahulu mereka, sementara menolak prinsip-prinsip lainnya.
Namun, secara prinsip, saya telah menyebutkan bahwa perkumpulan-perkumpulan rahasia semacam itu selalu berkaitan dengan kaum Yahudi. Hal ini dikarenakan ketiga prinsip tersebut selalu bersinggungan dengan kaum Yahudi. [9] Sekarang, mari kita lihat apakah perkumpulan Freemason memiliki keterkaitan dengan kaum Yahudi.
*The Jewish Encyclopaedia*, di bawah entri ‘Freemasonry’, berupaya menyangkal adanya hubungan antara Freemason dengan kaum Yahudi. Fakta ini saja sudah menjadi bukti nyata bahwa kaum Yahudi memang memiliki keterkaitan dengan kelompok Freemason. [10]
Pertama, dari hal ini saja dapat dipahami bahwa mereka memang memiliki hubungan dengan perkumpulan tersebut; jika tidak, mengapa perlu ada bantahan? Selain itu, dari entri tersebut sendiri terlihat jelas bahwa kaum Yahudi memang memiliki hubungan dengan perkumpulan ini. Dengan demikian, *The Jewish Encyclopaedia* menulis: “Kami mengakui bahwa perkumpulan Masonik pada prinsipnya mengandung unsur-unsur Yahudi.” Hal ini saja sudah membuktikan keterkaitan mereka dengan perkumpulan tersebut, karena simbol-simbol yang ada jelas terhubung dengan para tukang batu (*masons*) masa lampau yang terlibat dalam pembangunan bait suci yang direncanakan oleh Nabi Sulaiman (semoga salam sejahtera dan kedamaian tercurah senantiasa kepadanya).
Perkumpulan *Free Masons* (Mason Bebas) juga diyakini berasal dari masa pemerintahannya, dan ritual-ritual dalam perkumpulan ini dikaitkan dengan para tukang batu yang membangun bait suci Nabi Sulaiman (semoga kedamaian tercurah kepadanya). Oleh karena itu, perkumpulan ini pun menegaskan bahwa asal-usul mereka dapat ditelusuri kembali hingga ke masa pembangunan bait suci pertama oleh Nabi Sulaiman. [11]
Bahkan, ada pihak-pihak yang melangkah lebih jauh lagi dengan menyatakan bahwa asal-usul mereka berawal dari zaman Nabi Musa (semoga salam sejahtera dan kedamaian tercurah senantiasa kepadanya). Mereka menyebut Nabi Musa sebagai *Grand Master* (Pemimpin Agung) mereka. [12]
*The Jewish Encyclopaedia* mencatat bahwa menurut tradisi mereka, mereka memiliki keterkaitan dengan Hiram Abiff, yang merupakan kepala arsitek bait suci tersebut. Sosok ini disebutkan dalam 2 Tawarikh 2:13-14 sebagai berikut: “Maka sekarang aku mengutus seorang ahli yang penuh pengertian, yakni Hiram-Abiff, anak seorang perempuan dari bani Dan, sedang ayahnya orang Tirus. Ia cakap mengerjakan emas, perak, tembaga, besi, batu, dan kayu, serta kain ungu, kain biru, kain lenan halus, dan kain kirmizi;” …serta melakukan segala jenis pekerjaan ukir, dan merancang setiap bentuk karya yang ditugaskan kepadanya—dengan bantuan orang-orang ahli yang kau miliki, dan orang-orang ahli milik tuanku Daud, ayahmu. [13]
Penulis ensiklopedia tersebut melanjutkan dengan menulis: Menurut legenda Masonik, ia dibunuh oleh tiga pekerja tepat saat pembangunan Bait Suci rampung; terdapat pula misteri seputar kematiannya sebagaimana digambarkan dalam ritual-ritual Masonik. Hal ini mungkin berakar dari legenda Rabinik yang menyatakan bahwa, sementara semua pekerja dibunuh agar mereka tidak membangun bait suci lain yang ditujukan untuk penyembahan berhala, Hiram sendiri diangkat ke surga, seperti halnya Henokh. Namun, pada masa-masa awal Freemasonry, tidak ada penyebutan mengenai Salomo (Fort, *Early History & Antiquities of Freemasonry*, hlm. 181, Philadelphia, 1875), dan tidak pula ada pembahasan mengenai legenda Hiram dalam naskah cetak paling awal tahun 1723 (R. F. Gould, *History of Freemasonry*, iv. 365).
Bahasa teknis, simbolisme, dan ritus dalam Freemasonry sarat dengan gagasan serta istilah-istilah Yahudi; namun, unsur-unsur ini mungkin saja diambil — tanpa perantara pihak Yahudi — dari berbagai tafsir Perjanjian Lama. Banyak dari istilah tersebut bersumber dari kisah Alkitab mengenai pembangunan Bait Suci Salomo (1 Raja-raja pasal 5 dan seterusnya), di mana dua pilar bernama Yakhin dan Boaz menempati posisi sentral dalam simbolisme Masonik. [14]
Kaitan antara perkumpulan Masonik dengan kaum Yahudi juga terlihat dari penggunaan sistem bulan dan tahun lunar oleh perkumpulan Masonik di Skotlandia, yang serupa dengan sistem yang digunakan pada era Yahudi kuno. Meski demikian, penulis *The Jewish Encyclopaedia* menyatakan bahwa tidak diketahui secara pasti apakah sistem tersebut diperkenalkan ke dalam ritus-ritus Masonik oleh pihak Kristen. Penulis tersebut menyertakan daftar istilah yang mereka gunakan. [15] Jumlahnya sekitar 30 hingga 40 istilah.
Selain itu, nama Huram juga ditemukan dalam terminologi Masonik—sebuah contoh di mana ritus dan istilah yang digunakan berasal dari tradisi Yahudi. Hal ini turut dikonfirmasi oleh *Encyclopædia Britannica*. Terdapat pula narasi yang mencoba menelusuri makna di balik kunci-kunci yang konon sering digantungkan di leher Huram; dikisahkan bahwa saat ia dibunuh oleh Nabi Sulaiman, kunci-kunci tersebut diambil dan dibuang.
Tradisi lain yang tercatat dalam literatur Freemason menyebutkan adanya pertentangan terhadap Nabi Sulaiman (as). Dalam buku *Secret Societies of the World*—sebuah karya dari kalangan Freemason—disebutkan pada halaman 1–30 bahwa pada masa Nabi Sulaiman (as), Huram menjabat sebagai arsitek beliau. [16] Bilqis jatuh cinta kepada Huram, dan begitu pula sebaliknya. [17] Karena cemburu, Nabi Sulaiman bersekongkol dengan tiga orang bawahan Huram yang menaruh dengki kepadanya, hingga akhirnya Huram dibunuh dan Bilqis dipaksa untuk menjalin hubungan dengan mereka.
Narasi ini menyatakan bahwa tradisi Masonik telah berlanjut sejak saat itu, dengan mereka terus melestarikan tradisi-tradisi tersebut. Bahkan, istilah *Accepted Masons* (Mason yang Diterima) sendiri bermakna “Mason yang bebas”. Tradisi ini mengungkapkan bahwa Nabi Sulaiman memiliki hubungan erat dengan perkumpulan-perkumpulan Masonik, dan bahwa masyarakat mengetahui adanya persaingan antara Nabi Sulaiman dengan kaum Freemason.
Terdapat bukti tambahan yang menunjukkan bahwa pada masa Nabi Sulaiman, sebuah perkumpulan rahasia beroperasi melawannya. Sebuah tradisi lama, yang beredar di kalangan Freemason abad pertengahan, mengindikasikan bahwa bahkan sebelum peristiwa yang melibatkan Ratu Bilqis, Nabi Sulaiman merasa iri terhadap kecerdasan yang lebih tinggi yang dimiliki oleh Hiram; ia sangat cerdas dan memiliki daya tangkap tajam sebagai kepala arsitek yang membangun Bait Suci di Yerusalem. Konon, Nabi Sulaiman berupaya membunuh sang Mason Agung tersebut dengan cara melemparkannya ke dalam bejana berisi kuningan cair, namun ia diselamatkan oleh roh leluhurnya, Kain, yang meramalkan bahwa pada akhirnya kaum musuhnya akan mengalahkannya. Akan tetapi, menurut tradisi tersebut, Nabi Sulaiman kemudian tetap mengeksekusi mati dirinya. Diceritakan pula bahwa Hiram telah menetapkan tanda-tanda rahasia tertentu—semacam misteri—yang hanya diketahui oleh dirinya dan rekan-rekannya.
Lebih lanjut, buku ini menjelaskan bahwa sebelum era *Accepted Masons* (Mason yang Diterima), tanda-tanda yang digunakan di seluruh *Lodge* (perkumpulan Mason) sudah ada sejak zaman Nabi Sulaiman, dan pada saat inisiasi, kisah mengenai Hiram disampaikan kepada anggota baru.
Terlepas dari seberapa sulit dipercayanya keseluruhan kisah tersebut, setidaknya hal ini mengarah pada kesimpulan bahwa, dengan satu atau lain cara, perkumpulan rahasia memang terkait dengan masa pemerintahan Nabi Sulaiman dan cukup lazim pada zamannya. Hal ini menunjukkan keberadaan perkumpulan-perkumpulan rahasia tertentu pada masa Nabi Sulaiman (as), yang merupakan musuh-musuhnya dan secara diam-diam bersekongkol melawannya. Dikatakan pula bahwa Nabi Sulaiman (as) memerintahkan agar pemimpin mereka dibunuh. Beberapa pengikutnya menganggap sosok tersebut sebagai pribadi yang begitu suci, hingga mereka meyakini bahwa ia tidak mati, melainkan diangkat ke langit. Mereka semua adalah orang Yahudi. Dengan demikian, keberadaan simbol-simbol dan ritual-ritual Yahudi di kalangan kelompok ini—yang mereka kaitkan dengan Huram, serta keyakinan mereka bahwa Huram telah diangkat ke langit—menunjukkan bahwa pada masa Nabi Sulaiman (as), terdapat sebuah perkumpulan rahasia yang bertujuan untuk mencelakai Nabi Sulaiman (as).
Di sini, perlu disampaikan catatan singkat mengenai as-Samiriyy [Zimri]. Menurut pandangan saya, Zimri bukanlah nama seorang individu tertentu, melainkan sebuah gelar yang lambat laun berubah menjadi nama. Kata *samr* sebenarnya berarti memaku sesuatu pada tempatnya, dan *samir* adalah orang yang melakukan pekerjaan memaku tersebut. Dalam leksikon disebutkan bahwa *samr* berarti memberikan perhatian khusus pada ketahanan suatu bahan konstruksi, yakni dengan memperkuatnya menggunakan paku. Oleh karena itu, para profesional seperti pandai besi, tukang kayu, perajin perhiasan, dan tukang bangunan disebut sebagai *samir*. Tampaknya, terdapat sejumlah pandai besi, tukang kayu, tukang bangunan, dan perajin perhiasan di kalangan Bani Israil yang kemudian dikenal sebagai kaum Samaria.
Di antara kelompok profesional inilah muncul pihak yang memisahkan diri (skismatik), yang menimbulkan kekacauan fatal mengenai konsep Tauhid (Keesaan Tuhan). Berdasarkan penelitian ini, kelompok profesional tersebut dikenal sebagai kaum Samaria. Seorang Samaria adalah anggota dari kelompok tersebut.
Pada masa itu, karena sarana interaksi yang sangat terbatas, para profesional sering kali kesulitan mendapatkan pekerjaan; oleh karena itu, berbagai jenis profesi terkadang terkumpul dalam satu kelompok masyarakat yang sama. Kelompok ini terdiri dari para profesional yang ahli dalam pengerjaan besi, pertukangan kayu, pembuatan perhiasan, dan konstruksi. Perpecahan ini dipicu oleh seseorang dari kalangan mereka. Bahkan, jika ditelusuri lebih dalam dalam sejarah, dapat ditemukan bahwa dari kelompok inilah cikal bakal organisasi rahasia (secret societies) mulai muncul. Faktanya, kelompok inilah yang melakukan pemberontakan pada masa Nabi Sulaiman (as), di mana Hiram—pemimpin mereka saat itu sekaligus kepala arsitek Bait Suci Nabi Sulaiman—menentang beliau. Kelompok Freemason mengaitkan asal-usul mereka dengan sosok Hiram ini.
Demikian pula, pemberontakan kelompok juru ukur (surveyor) dalam Jamaah kita merupakan peristiwa pemberontakan yang cukup dikenal. [18]
Adapun Zimri adalah seorang individu dari kelompok profesional yang disebut kaum Samaria—sebutan yang merujuk pada profesi mereka—sementara “Zimri” sendiri merupakan gelar baginya, yang lama-kelamaan menjadi nama panggilan yang melekat padanya. (Tafsir Kabir. (1958, 1962). ii: 70 – 72, v: 459, 460).
LAMPIRAN: Pandangan Maulana Muhammad Ali dalam Terjemahan Bahasa Inggris dari ‘The Holy Quran’ (Al-Qur’an Suci): Disertai Catatan Penjelasan. (1928, 1948, 1951, 2010). 23.
Apa yang dinyatakan oleh Al-Qur’an di sini adalah bahwa kaum Yahudi, alih-alih mengikuti firman Tuhan, justru mengikuti praktik-praktik jahat tertentu yang secara keliru mereka nisbatkan kepada Nabi Sulaiman serta dua malaikat di Babel (Harut dan Marut). Nabi Sulaiman dinyatakan bersih dari dosa semacam itu yang dituduhkan kepadanya, dan kisah mengenai dua malaikat tersebut dinyatakan sebagai sebuah rekayasa. Kaum Yahudi dicela karena mempelajari hal-hal dari kedua sumber ini—yakni melalui rekayasa mereka terhadap Nabi Sulaiman dan kisah dua malaikat tersebut—yang digunakan untuk menimbulkan perpecahan antara seorang pria dan istrinya. Ungkapan ini merujuk pada pertemuan-pertemuan rahasia yang menyerupai perkumpulan seperti *Freemasonry*; sebab, hanya dalam *Freemasonry*—dan bukan dalam perkumpulan keagamaan lain mana pun di dunia—perempuan sama sekali tidak dilibatkan. Kalimat “mereka tidak dapat mencelakai siapa pun dengan hal itu kecuali dengan izin Allah” menunjukkan bahwa melalui praktik ini, mereka bermaksud menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap Nabi Suci (Nabi Muhammad SAW).[19]
Catatan Kaki
[1] Malik Ghulam Farid. *The Holy Quran with English Translation & Commentary* (Al-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Bahasa Inggris), edisi 5 jilid [tafsir besar, bukan short commentary atau tafsir singkat] (1968), hlm. 2594.
https://alislam.org/quran/app/search/freemason
[2] Al-Qur’an. Surah Al-Mujadilah [Wanita yang Mengajukan Gugatan], 58: 10. Malik Ghulam Farid. *The Holy Quran with English Translation & Commentary* (Al-Qur’an dengan Terjemahan dan Tafsir Bahasa Inggris), edisi 5 jilid [tafsir besar] (1968), hlm. 2594.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu berbincang untuk melakukan dosa, permusuhan, dan kedurhakaan kepada Rasul; tetapi berbincanglah untuk melakukan kebajikan dan ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, yang kepada-Nya kamu semua akan dikumpulkan.”
Commentary: In this and the preceding two verses secret societies such as Freemason Lodges, etc. have been condemned, but the condemnation is not unreserved or unqualified. There may be secret conferences held for good purposes. It is the object or motive of a particular conference that determines its nature. In the present verse the believers have been allowed to hold secret conferences only to promote good and righteous causes. https://alislam.org/quran/app/58:1
[3] Hazrat Mufti Muhammad Sadiq, *Zikr-e-Habib*, hlm. 105, 106: Tidak lama sebelum peristiwa ini, Hazrat Ahmad telah memesan sebuah buku karya John Alexander Dowie mengenai Freemasonry melalui salah seorang sahabat beliau, Hazrat Mufti Muhammad Sadiq. Beberapa waktu kemudian, buku tersebut tiba, dan Hazrat Ahmad meminta sang Mufti untuk membacakannya di depan umum—setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu—di Masjid Mubarik, seusai salat Maghrib. Dalam pembacaan itu terungkap bahwa kelompok Freemason memiliki tingkatan-tingkatan, layaknya jenjang kelas di sekolah. Pada tingkatan awal, ajaran yang diberikan hanya berkisar pada upaya rekonsiliasi dan kasih sayang antar anggota, serta memuat tujuan-tujuan dan pelajaran-pelajaran yang bersifat rahasia. Anggota di tingkatan yang lebih rendah tidak mengetahui tugas-tugas yang diberikan kepada mereka yang berada di tingkatan lebih tinggi. Padahal, tugas utama dari tingkatan yang lebih tinggi tersebut sebagian besar adalah menginterogasi dan membunuh orang-orang tertentu yang dianggap dapat merugikan pemerintah atau masyarakat. Seseorang yang diberi tugas yang menakutkan seperti itu, secara tersirat, diajarkan untuk menaiki tangga menuju atap, lalu tangga tersebut ditarik dari bawahnya. Tujuannya adalah untuk mengingatkannya bahwa kini tidak ada jalan untuk kembali— dia harus terus maju dan menyelesaikan tugas yang telah diberikan kepadanya—dengan cara apa pun. Kata-kata dalam buku ini berfungsi untuk menguatkan kembali keyakinan orang-orang yang hadir saat itu. Sebab, hanya beberapa hari sebelumnya, Allah Yang Mahakuasa telah memberitahukan kepada Al-Masih yang Dijanjikan (damai besertanya) dan Hazrat Ummul Mukminin (Ibu bagi orang-orang beriman) bahwa merupakan praktik kaum Freemason dan perkumpulan-perkumpulan rahasia untuk membunuh lawan-lawan mereka. Namun, ditegaskan pula bahwa tidak seorang pun akan memiliki kuasa untuk membunuh Al-Masih yang Dijanjikan (damai besertanya). Demikianlah kenyataannya. Segala puji bagi Allah.
[4] Malfuzat: ii. 3rd November 1901. 325.
[5] Malfuzat: ii. 16th November 1901. 341.
[6] Malfuzat: v. 19th March 1907. 187.
[7] Al-Qur’an. Surah Al-Mujadilah [Wanita yang Mengajukan Gugatan], 58: 9, 10, 11.
اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ نُہُوۡا عَنِ النَّجۡوٰی ثُمَّ یَعُوۡدُوۡنَ لِمَا نُہُوۡا عَنۡہُ وَیَتَنٰجَوۡنَ بِالۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ وَمَعۡصِیَتِ الرَّسُوۡلِ ۫ وَاِذَا جَآءُوۡکَ حَیَّوۡکَ بِمَا لَمۡ یُحَیِّکَ بِہِ اللّٰہُ ۙ وَیَقُوۡلُوۡنَ فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ لَوۡلَا یُعَذِّبُنَا اللّٰہُ بِمَا نَقُوۡلُ ؕ حَسۡبُہُمۡ جَہَنَّمُ ۚ یَصۡلَوۡنَہَا ۚ فَبِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿۹
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang telah dilarang melakukan persekongkolan rahasia, namun mereka terus kembali melakukan apa yang telah dilarang bagi mereka, serta bersekongkol untuk melakukan dosa, permusuhan, dan pembangkangan terhadap Rasul? Apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan cara yang bukan sebagaimana Allah telah mengucapkan salam kepadamu; namun di antara mereka sendiri, mereka berkata, “Mengapa Allah tidak menghukum kita atas apa yang kita katakan?” Neraka Jahanam cukuplah sebagai hukuman bagi mereka; mereka akan terbakar di dalamnya, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali!
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا تَنَاجَیۡتُمۡ فَلَا تَتَنَاجَوۡا بِالۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ وَمَعۡصِیَتِ الرَّسُوۡلِ وَتَنَاجَوۡا بِالۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰی ؕ وَاتَّقُوا اللّٰہَ الَّذِیۡۤ اِلَیۡہِ تُحۡشَرُوۡنَ ﴿۱۰﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kalian mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kalian berbisik-bisik untuk melakukan dosa, permusuhan, atau pembangkangan terhadap Rasul, melainkan berbisik-bisiklah untuk kebajikan dan ketakwaan. Bertakwalah kepada Allah, yang kepada-Nya kalian akan dikumpulkan.
اِنَّمَا النَّجۡوٰی مِنَ الشَّیۡطٰنِ لِیَحۡزُنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَلَیۡسَ بِضَآرِّہِمۡ شَیۡئًا اِلَّا بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَعَلَی اللّٰہِ فَلۡیَتَوَکَّلِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ﴿۱۱
Kelompok-kelompok rahasia merupakan tipu daya setan yang bertujuan menimbulkan kecemasan di kalangan orang-orang beriman, namun hal itu sama sekali tidak dapat mendatangkan mudarat apa pun bagi mereka, kecuali atas izin Allah. Hendaklah orang-orang yang beriman bertawakal kepada Allah.
[8] 16 Juni 1912. *Khitabat-e-Noor*, hlm. 485
[9] Ketiga hal pokok yang terkait dengan perilaku kaum Yahudi itu tersebut dalam halaman sebelum halaman ini dari Tafsir Kabir, merujuk pada ayat 103 dari Surah al-Baqarah yang tengah di bahas: [1] kejadian di jaman Nabi Sulaiman (as); [2] peristiwa di Babilonia; [3] peristiwa di jaman Nabi Muhammad (saw). Jadi, [1] telah terjadi tiga kali; [2] berkaitan dengan rancangan rahasia atau kelompok rahasia; [3] terjadi pada tiga kejadian di tiga jaman dimaksud diatas; [4] berkaitan dengan kaum Yahudi.
[10] Isidore Singer. (KTAV, 1903). 504.
[11] Perkumpulan ini mengeklaim memiliki hubungan dengan seni pertukangan batu kuno, dan melalui cara ini, mereka menelusuri sebagian besar simbolisme serta ritual mereka hingga ke pembangunan Bait Suci Pertama oleh Nabi Sulaiman.
[12] Hermes Trismegistus. Lihat juga Rev. George Oliver, *The Antiquities of Free-masonry* (1823, 1843).
[13] The Holy Bible. 2 Tawarikh 2: 13, 14. (King James Authorised Version, 1611).
[14] Singer, 503, 504..
[15] Ibid, 504, 505.
[16] Karena buku aslinya tidak dapat diperoleh, referensi ini merujuk pada terjemahan dalam bahasa Urdu.
[17] Ratu Syeba (Bilqis).
[18] Kisah makar kaum Mistri (para ahli pertukangan di Qadian) terhadap Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) pada tahun 1927 dan seterusnya bisa dilihat di website https://www.alhakam.org/conspiracies-against-the-jamaat-a-study-in-historical-patterns
[19] Penerjemah: Mln. Dildaar Ahmad Dartono, saat ini Muballigh bertugas di Piyungan, Yogyakarta. Sumber kompilasi dari © Rehan Qayoom, 2016, saat itu seorang Mahasiswa Ahmadi di Inggris Raya.
Related Posts

Menelusuri Jejak Pembentukan Kecamatan Paling Utara di Kabupaten Bogor

Mengenal Batu Tapak Cikodom, Gunung Sindur, Bogor

Gaungkan Tema Shalat di Ciater | Jejak Lokasi yang Dilewati Bujangga Manik Sang Resi Petualang

Bakda Riyadi: Tradisi Keramaian Kerajaan Majapahit yang Menjadi Lebaran

Telusuri Jejak Tarumanegara, Tuan Tanah Jonathan Rigg dan Makam Kuno Islam Garisul

No Responses