Adapun materi Silabus Jamiah Ahmadiyah Internasional itu mencakup:[6]
1. Al-Qur’an
Materi Al-Qur’an untuk Darjah Mumahhidah (Kelas Persiapan) dan Ula mencakup Bacaan, Terjemahan dan Hafalan. Sedangkan untuk Darjah yang lebih tinggi lagi mencakup Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Tafsir Kabir. Ada juga Terjemah Al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Urdu.
2. Hadits
Materi Hadits diajarkan pada Darjah Tsaniah hingga Darjah Rabi’ah. Isinya mencakup kitab-kitab Hadits yang diterbitkan oleh Jemaat dan juga ghair Ahmadi. Kitab Shahih Bukhari, Jami’ Tirmidzy, Riyadh al-Shalihiyn dan Misykat serta buku tulisan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
3. Bahasa Arab
Materi Bahasa Arab diajarkan mulai dari Darjah Mumahhidah hingga Sadisah. Materinya mencakup Qawa’id dan Adabi. Karena di Darjah Mumahhidah dan Ula, materi Bahasa Inggris ditiadakan, maka alokasi jam perkuliahannya dimasukkan ke dalam jam Bahasa Arab.
4. Bahasa Urdu
Materi Bahasa Urdu diajarkan di Darjah Mumahhidah dan Ula. Selama dua tahun itu, mahasiswa fokus mempelajari Bahasa Urdu untuk dapat menguasai Qawa’id dan Adabi sehingga mulai dapat membaca dan bercakap-cakap dalam bahasa ini. Sebab, materi pada Darjah Tsaniah hingga Sadisah menggunakan Bahasa Urdu.
5. Bahasa Inggris
Materi Bahasa Inggris awalnya diajarkan mulai Darjah Mumahhidah hingga Sadisah. Namun karena pertimbangan tertentu, mulai tahun akademik 2025-2026 ini hanya diajarkan sejak Darjah Tsaniah hingga Sadisah. Selain gramatika pada umumnya, juga mempelajari buku Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. dalam Bahasa Inggris. Misalnya, buku Introduction to the Study of the Holy Qur’an dan Ahmadiyya and the True Islam.
6. Bahasa Farsi
Materi Bahasa Farsi hanya diajarkan selama tiga semester di Jamiah, yaitu di Darjah Khamisah (Semester Ganjil & Genap) dan Darjah Sadisah (Semester Genap). Selain gramatika secara umum, juga mempelajari Syair Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Bahasa Farsi yaitu “Durr-e-Tsamiyn”.
7. Ilmu Kalam
Materi Ilmu Kalam diajarkan pada Darjah Tsaniah hingga Darjah Sadisah. Materinya mencakup aneka pembahasan terkait akidah Ahmadiyah menurut Al-Qur’an dan Hadits. Kewafatan Nabi Isa a.s. dan Khatamun Nubuwwat adalah dua materi yang sangat vital.
8. Tarikh-o-Sirat
Materi Tarikh-o-Sirat (Sejarah dan Biografi) diajarkan hanya pada Darjah Tsaniah dan Tsalisah. Materinya mencakup sejarah dan biografi Islam pada umumnya serta sejarah dan biografi tokoh-tokoh Ahmadiyah.
9. Perbandingan Agama
Materi Perbandingan Agama (Muwazinah Mazahib) diajarkan sejak Darjah Tsalisah hingga Sadisah. Selain mengenal 11 agama, juga nubuatan dalam bahasa agama-agama itu pun harus dikuasai. Maka, bahasa Ibrani dan Yunani juga sedapat mungkin harus diajarkan pada Darjah Tsalisah dan Rabiah.
10. Fiqih
Materi Fiqih pada awalnya hanya diajarkan pada Darjah Khamisah. Namun karena mengingat kebutuhan, pada Darjah Rabi’ah pun mulai diajarkan. Materi Fiqih mengalami modifikasi waktu untuk menjawab kebutuhan lapangan.
11. Tasauf
Materi Tasauf diajarkan hanya pada Darjah Rabi’ah selama dua semester. Selain mengenal tasauf pada umumnya juga mempelajari tasauf Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Hadhrat Muslih Mau’ud r.a.
Kompetensi Apologet (DA’I) Muslim
Menurut Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dalam Kitab “Al-Balagh” (Faryad Dard), Ruhani Khazaain Jilid XIII halaman 370-375, ada 10 syarat yang harus dimiliki oleh seseorang yang akan terjun dalam dunia dialog lintas agama atau menjadi seorang apologet, yaitu:
1. Harus menguasai bahasa Arab dengan mendalam (علم زبان عربی میں راسخ ہو).
2. Memahami Ilmu Keagamaan dengan cukup (دینی معرفت کافی ہے).
3. Memahami Ilmu Alam, Psikologi dan Geografi (علوم طبع اور طبعیت اور ہیئت اور جغرافیہ).
4. Menguasai Nubuatan dalam Bahasa Aslinya (پیشگوئیاں اصلی زبان میں ہے).
5. Memiliki hubungan sejati dengan Tuhan (خدا سے حقیقی رابط ہے).
6. Menguasai Ilmu Tarikh (علم تاریخ بھی ہے).
7. Menguasai Ilmu Mantiq dan Debat (کسی قدر ملکہ علم منطق اور مناظرہ).
8. Mengoleksi Kitab-kitab yang banyak (کثیر التعداد کتابوں کا جمع ہونا ہے).
9. Mengosongkan ego dan mewakafkan diri hanya untuk mengkhidmati agama (فرغت نفس اور صرف دینی خدمت کے لئے زندگی کا وقف کرنا ہے).
10. Kekuatan Mukjizat (اعجازی طاقت ہے).[7]
Perbandingan Munazirat Mazhabiyah dan Silabus Jamiah Internasional Terkait Kualitas Mahasiswa Jamiah
Setelah membandingkan 10 syarat Munazirat Mazhabiyyah dengan Silabus Internasional Jamiah Ahmadiyah, ditemukan ada persamaan di antara keduanya. Persamaan itu baik bersifat tersurat maupun tersirat.
Di antara persamaan yang tersurat adalah terkait kemampuan bahasa-bahasa, wawasan keilmuan yang harus dikuasai baik keagamaan maupun non-keagamaan, penunjang lain atau sarana-prasarana. Sedangkan yang tersirat adalah terkait kualitas karakter dan kepribadian dari sumber daya yang diharapkan. Kedua kemampuan dan kualitas ini sesuai dengan ayat Al-Qur’an Surah Al-Baqarah, II: 248.[8]
Kemampuan tersurat yang harus dimiliki, di antaranya adalah terkait kemampuan bahasa-bahasa, yaitu Arab, Urdu, Inggris, Ibrani, Yunani dan Farsi. Sedangkan secara keilmuan terdiri dari dua jenis, yaitu ilmu keagamaan dan non-keagamaan. Ilmu keagamaan, tentu saja yang sesuai dengan Silabus Jamiah Ahmadiyah Internasional. Sedangkan non-keagamaan mencakup Sains, Geografi, Psikologi, Sejarah dan lainnya.
Ilmu keagamaan yang harus dikuasai adalah Al-Qur’an (Membaca, Hafalan, Terjemah, Tafsir), Hadits, Kalam, Fiqih, Tarikh-o-Sirat, Perbandingan Agama dan Tasauf. Selain itu juga sedapat mungkin memiliki kemampuan ilmu mantik dan debat. Semua kualitas tersurat di atas menjadi tanggung jawab Bidang Akademik untuk memenuhinya.
Kualitas lainnya yang tersurat adalah memiliki kualitas kepribadian tertentu, yang pembentukannya berada di bagian Disiplin & Kemahasiswaan di Jamiah, khususnya bidang Tarbiyat Hostel. Di antaranya memiliki hubungan sejati dengan Allah Ta’ala, memiliki jiwa waqaf zindegi, memiliki kekuatan mukjizat dan senang mengumpulkan buku-buku referensi.
Catatan kaki
[1] Pada tahun itu, Silabus Jamiah Ahmadiyah Internasional disebut sebagai “Nishab-o-Ta’limy Nizham”. Perkuliahan dalam satu tahun dibagi menjadi tiga caturwulan.
[2] Secara Silabus, saat itu sudah mulai diterapkan. Sayangnya, referensi masih sangat terbatas. Sulit sekali mendapatkan referensi asli dari Pusat. Beberapa dosen kemudian menambah wawasan dengan cara kuliah diluar, tentunya atas ijin resmi dan restu dari Hadhrat Khalifatul Masih V atba. Misalnya, Penulis yang mengambil spesialisasi Biblika/Bibliologi, Bahasa Ibrani dan Yunani di beberapa kampus teologia.
[3] Penulis sendiri mendapat kesempatan refresher course ke Rabwah, Pakistan pada 2017. Begitu juga pada 2018 mendapat karunia refresher course ke Qadian, India. Selama di kedua Pusat Jemaat Ahmadiyah tersebut mempelajari berbagai hal keilmuan secara khusus (takhashus/spesialisasi: Ruhani Khazaain), mengajar di Jamiah, dan juga administrasi/Rules & Regulations (RR) dari para pengkhidmat/dosen senior Jemaat.
[4] Kemungkinan kitab “Al-Balagh” juga telah dicetak dalam jumlah terbatas pada masa hidup Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Hanya, baru dimasukkan ke dalam kompilasi Ruhani Khazaain setelah hampir seperempat abad kemudian dari penulisannya.
[5] Keberadaan Perpustakaan Jamiah senafas dengan syarat ke-8 dalam syarat-syarat Munazirat Mazhabiyyah. Artinya, setiap mahasiswa/Mubalig diharapkan memiliki koleksi buku-buku yang memadai. Ada anggapan umum, bahwa Cendekia adalah mereka yang juga memiliki banyak koleksi buku.
[6] Dari materi Silabus Jamiah itu dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian: Ilmu Murni (pure arts: Al-Qur’an, Alkitab, Veda, Tripittaka), Ilmu Terapan (applied arts: Kalam, Perbandingan Agama, Tarikh-o-Sirat, Tasauf, Fiqih) dan Ilmu Bantu Alat (auxiliary arts: Bahasa Arab, Urdu, Ibrani, Yunani, Farsi, Pali, Sanskrit).
[7] Membandingkan syarat Munazirat Mazhabiyyah dan Silabus Jamiah Internasional tersebut, ada irisan yang sangat erat mengenai kualitas Apologet dan Mubalig atau Cendekia alumni Jamiah. Seorang Mubalig atau Cendekia Ahmadi juga dituntut memiliki kualitas seperti yang dimiliki Apologet sesuai kriteria Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tersebut.
[8] Kualitas ideal, seperti diterangkan ayat Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah, II: 248 adalah sebagai berikut: {قَالَ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰهُ عَلَیۡكُمۡ وَزَادَهُۥ بَسۡطَةࣰ فِی ٱلۡعِلۡمِ وَٱلۡجِسۡمِۖ}. Lihat makalah Penulis lainnya berjudul, _Basthatan fiy al-‘Ilm wa al-Jism: Analisa Terhadap Karakter Ilmiah-Akademis Melalui Kegiatan Akademik di Jamiah Ahmadiyah Indonesia_, 23-07-2023.
Disusun Oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Juman
*) Selesai ditulis pada Ahad, 10 Agustus 2025 (10 Zuhur 1405 HQ) pkl. 19:35 WIB di Maktabah Griya Carani “DAAR EL-JUMAAN” Bogor, Jawa Barat.
**) Penulis adalah Mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia sejak 2003 hingga sekarang, yang kini ditugaskan sebagai Dosen Ilmu Perbandingan Agama dan Bahasa Farsi (2005-2018, 2023-sekarang) dan Naib Principal Bidang Akademik (2014-2017 dan 2023-sekarang).
Penulis juga merupakan Pendiri, Direktur dan Pengulik pada Pusat Kajian Manuskrip Islam dan Filologi (Centre for the Study of the Islamic Manuscripts and Philology) Ambon, Maluku.
Sejak 2018 dipercaya sebagai Pembina Nasional Forum Mahasiswa Studi Agama-Agama se-Indonesia (FORMASAAI), yang menaungi mahasiswa Perbandingan Agama / Studi Agama-Agama di 20 kampus PTKIN dan PTAIS di seluruh Indonesia.
Pada 2021, Penulis memperoleh penghargaan sebagai Ikon Prestasi Pancasila 2021 dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Kategori Sosial Enterpreneur dan Kemanusiaan atas kiprah di bidang literasi dan pemberdayaan masyarakat pedalaman di pelosok Kepulauan Maluku.
Related Posts

Menyambut Idul Fitri 1 Syawal 1447 H

Pesan Khalifah Ahmadiyah pada Simposium International Amla 2026

Amanah Hadhrat Khalifatul Masih V a.t.b.a. untuk Jemaat Ahmadiyah Indonesia dalam Memasuki Abad Kedua

Menemukan Islam Nusantara: Islam yang Moderat dan Menghargai Hak Azasi Manusia

Ekspose dan Eksaminasi PT3L Tahun Akademik 2025-2026 Sebagai Kerangka Evaluasi Pengkhidmatan Lapangan


No Responses