Lomba Tumpeng Dilaksanakan oleh Hostel, Membiasakan Menjadi Chef Setara Hotel

Lomba Tumpeng Dilaksanakan oleh Hostel, Membiasakan Menjadi Chef Setara Hotel

“Peserta lomba kadang sulit membedakan mana Lomba Tumpeng, yang mana Lomba Nasi Kuning. Bila disebut Lomba Tumpeng, maka yang dominan adalah adanya ‘gunungan’. Sedangkan apabila itu Lomba Nasi Kuning, maka akan diketahui dari cara masaknya, yaitu diungkeb dan topping terbatas lauk-pauknya.”

Masroor Library – Bogor, Jawa Barat – Warta “JAMAII” Bogor [21/8/2025]. Kuliner bagi bangsa manapun telah dikenal, bukan hanya sekedar kebutuhan fisik (pangan). Saat ini, keberadaan kuliner sudah berubah menjadi wahana refreshing, kiprah sosial, kegemaran dan sarana diplomasi. Pepatah dengan tegas menyatakan, “tidak ada makan siang gratis!”

Mereka yang memiliki talenta memasak, biasanya akan dibutuhkan dan diterima oleh berbagai kalangan. Status sosial bagi chef memiliki posisi yang tinggi. Bisa saja –suatu saat– dia terpilih menjadi anggota dewan atau pejabat. Artinya, kemampuan memasak dan menyiapkan kuliner bukan lagi hanya sebatas urusan domestik di dapur.

Begitu juga dengan Jamiah Ahmadiyah Indonesia, sejak beberapa tahun lalu –tepatnya tahun 2017– sudah memulai acara Lomba Memasak. Tujuannya, selain mempersiapkan sumber daya mubalig yang siap dengan kuliner juga ada tujuan dan manfaat lainnya. Manfaat itu, bersifat pribadi dan untuk Jemaat.

Saat ditugaskan ke suatu daerah tanpa didampingi oleh seorang istri, kemampuan ini akan terlihat. Mubalig yang biasa memasak dan yang tidak biasa memasak sendiri akan memperlihatkan perbedaan. Mungkin saja, ini akan dapat mengganggu kinerja yang bersangkutan. Begitu pula, apabila yang mendampingi mubalig (istri) juga tidak bisa memasak.

“Mereka yang biasanya jajan di warung, mungkin karena masakan (kuliner)-nya di rumah tidak memuaskannya,” papar Principal Jamiah saat menyampaikan nasihat sebelum penutupan acara dengan doa, Kamis (21/8) malam bertempat di Auditorium Jamiah Lt. 2 atau yang dikenal sebagai Dining Hall.

Lomba Tumpeng diikuti oleh tujuh darjah di Jamiah Ahmadiyah Indonesia, termasuk dari Madrasah Hifz Al-Qur’an yang disebar merata ke tiap angkatan. Mereka terdiri dari Angkatan 26 hingga 32. Para dosen pun disebar ke tiap darjah, masing-masing sebanyak tiga orang. Di antaranya, Principal masuk ke Darjah Tsaniah, sedangkan Naib Principal Akademik masuk ke Darjah Tsalisah. Makan malam dilakukan sesuai kelompoknya.

Bertindak sebagai juri adalah Principal, Mln. Abdul Karim Mun’im dan Mln. Ihsan Qomarrul Zaman. Ketiga dikenal sebagai mubalig yang biasa memasak alias chef. Principal Jamiah biasa mempersiapkan makanan dan minuman untuk rapat dosen. Begitu juga dengan Mln. Abdul Karim Mun’im yang dijuluki “Chef Pantry Rektorat” biasa membuat makanan dan cemilan untuk di kantor. Bahkan, rujak dan kolak pun sering dibuat oleh dosen bahasa Arab tersebut.

“Peserta lomba kadang sulit membedakan mana Lomba Tumpeng, yang mana Lomba Nasi Kuning. Bila disebut Lomba Tumpeng, maka yang dominan adalah adanya ‘gunungan’. Sedangkan apabila itu Lomba Nasi Kuning, maka akan diketahui dari cara masaknya, yaitu diungkeb dan topping terbatas lauk-pauknya,” tutur Mubalig Angkatan VIII yang sudah sekitar 18 tahun mengajar di Jamiah itu.

Selain juara Lomba Tumpeng untuk Juara I dan Juara II, diumumkan juga Lomba Jalan Santai yang telah dilaksanakan seminggu sebelumnya. Setelah ditutup dengan doa oleh Principal Jamiah, acara akan dilanjutkan dengan persembahan seni dan performance dari tiap angkatan. Tiap kelompok diberikan waktu sekitar tujuh menit sehingga ada waktu selama satu jam untuk ekspresi seni dan perasaan. []

Disusun oleh:
Dr. Rakeeman R.A.M. Jumaan
Naib Principal Bidang Akademik

No Responses

Tinggalkan Balasan