Menemukan Islam Nusantara: Islam yang Moderat dan Menghargai Hak Azasi Manusia

Menemukan Islam Nusantara:  Islam yang Moderat dan Menghargai Hak Azasi Manusia
"Pendekatan kebudayaan Sunan Ampel sangatlah solutif mengutamakan kebersamaan, titik temu, suasana guyub, rukun dan berhimpun. Maka dari sana akan muncul suasana rasa aman dan hidup nyaman. Pesan beliau, jangan mengundang keterasingan warga dari sifat rahmat dan kasih sayang agama Islam; jangan pula memancing ketegangan antar komunitas."

Masroor Library – Bogor, Jawa Barat [18/1/2026]. Dalam upaya menelaah kembali akar historis dan watak keislaman yang tumbuh di bumi Nusantara, Jamiah Ahmadiyah Internasional Indonesia menyelenggarakan Studium Generale bertajuk “Menelusuri Islam di Nusantara”. Acara ini dilaksanakan pada Ahad, 18 Januari 2026 pkl. 13:30-16:30 WIB, bertempat di Auditorium Jamiah lantai dua, dan diikuti oleh sivitas akademika dalam suasana dialogis dan reflektif.

Forum akademik ini menghadirkan Prof. K.H. Ahmad Baso, pengasuh Madrasah Online Kajian Manuskrip Islam Nusantara (MOKMIN), sebagai narasumber utama. Melalui pendekatan filologi, kajian manuskrip vernakular Islam dan non-Islam, serta refleksi pengalaman beliau sebagai mantan Komisioner Komnas HAM Republik Indonesia, kegiatan ini diarahkan untuk membaca ulang peran Walisongo dalam membangun tradisi toleransi beragama dan fondasi hak asasi manusia di Indonesia.

Dalam sambutannya, Principal Jamiah Ahmadiyah Internasional Indonesia menyampaikan apresiasi atas kehadiran Prof. K.H. Ahmad Baso sebagai narasumber Studium Generale perdana pada semester genap ini. Ia menegaskan nilai strategis kajian manuskrip Islam Nusantara dan isu kemanusiaan bagi penguatan wawasan mahasiswa, seraya mengingatkan bahwa banyak warisan sejarah bangsa yang telah diambil dan dikuasai pihak asing.

Naib Principal Bidang Akademik kemudian menyampaikan curriculum vitae dari narasumber. “Kita harus merasa iri terhadap narasumber dalam arti positif. Beliau yang orang Sulawesi, malah menekuni manuskrip Jawa. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan tidak hanya menyimak, tetapi mampu mengolah dan menyampaikan pengetahuan tersebut ketika kelak bertugas di berbagai daerah, sebagai bukti bahwa bangsa Indonesia memiliki tradisi intelektual dan sejarah yang kaya.”

Dalam pemaparannya, Prof. K.H. Ahmad Baso menegaskan bahwa peran Walisongo dalam Islamisasi Nusantara tidak dapat dilepaskan dari strategi kultural dan visi kebangsaan. Berdasarkan kajian manuskrip Islam Nusantara dan Buda Scripts, ia menunjukkan bahwa Islam berkembang melalui pendekatan moderasi, musyawarah, dan pengelolaan perbedaan, sehingga membentuk tradisi toleransi beragama dan kohesi sosial.

Menurut dosen pasca sarjana di beberapa kampus agama Islam itu, ada empat visi kewalian (al-Walayah) dari Walisongo, yaitu:

Pertama, Faqihun fi mashalihil khalqi (yang memahami dengan baik cara mewujudkan kemaslahatan bagi umat manusia) seperti yang dipelajari dari Imam al-Ghazali, diterjemahkan ke dalam Bahasa Wali Songo: agawe manfa‘at ing sakehe kawulaning Allah Ta‘āla (membawa manfaat bagi segenap hamba Allah SWT).

Kedua, al-’Awdah (Kembali terjun ke dalam kehidupan sosial dan menegakkan keadilan dan kemaslahatan umat manusia) seperti kamalul wiratsah al-Nabawiyah (dari Syekh Akbar Ibnu Arabi) yang ditunjukkan dalam penulisan-ulang kisah-kisah Mahabharata dimana sang tokoh kembali ke dunia sosial setelah menerima pengalaman spiritual tertinggi).

Ketiga, Famala ila-t-tashawwuf wakasara-s-saifa (beralih ke tasawuf, mematahkan pedang) seperti yang dilakukan oleh al-faqih al-muqaddam Muhammad bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbath.

Dan Keempat, Kebek kapalipun dening sastra, ambakta kitab-carita (kapalnya penuh dengan buku-buku sastra, membawa kitab dan ceritera atau dakwah dengan pendekatan budaya), seperti yang dilakukan oleh Syekh Jumadil Kubro & Wali Songo.

Ia menekankan bahwa konsep Nusantara sebagai Darus Salam mencerminkan ikhtiar membangun ruang hidup bersama yang adil dan damai, sejalan dengan mandat penegakan hak asasi manusia. Kajian sejarah dan naskah tersebut, menurutnya, penting untuk menegaskan bahwa warisan keislaman Nusantara bersifat otentik, historis, dan berkontribusi nyata bagi peradaban Indonesia.

Acara berkembang secara dinamis, ditandai dengan antusiasme peserta dalam menanggapi paparan narasumber dan mengaitkannya dengan tantangan keberagamaan di Indonesia masa kini. Melalui forum ini, Jamiah tidak hanya menghadirkan transfer pengetahuan, tetapi juga mendorong pembacaan kritis atas sejarah Islam Nusantara sebagai sumber etika sosial, kebangsaan, dan kemanusiaan.[]

Oleh:
Mln. Ilham Sayyid Ahmad, Shd.
Muntazim Ilmi

No Responses

Tinggalkan Balasan